Sarasehan Nasional Intelegensia KAMMI

Adhe Nuansa Wibisono, S.IP
HLN dan Pendidikan PP KAMMI
Kajian Terorisme FISIP UI
Jakarta, Sabtu 29 Desember 2012
Awal mula diadakan sarasehan karena kami para inisiator merasa adanya yang belum tuntas dalam pembahasan ideologi KAMMI. Saya melihat banyaknya aktivis KAMMI di berbagai daerah yang tidak memahami secara utuh dan terkadang melihat KAMMI secara bias dan tidak jernih.Terutama dalam pandangannya mengenai hubungan antara KAMMI dengan PKS, melalui acara sarasehan ini kita berharap adanya pandangan yang jernih dan utuh mengenai independensi KAMMI sebagai gerakan mahasiswa. Terkait pemilihan waktu di akhir tahun tidak ada alasan yang khusus, ini semua karena kebetulan saja menyepakati tanggal itu dan semuanya bisa hadir ke acara sarasehan pada tanggal itu. Mungkin dari sisi lain kita juga bisa menjadikan momentum akhir tahun ini sebagai refleksi ideologi bagi gerakan KAMMI, dimana kami berharap setelah adanya sarasehan yang juga bisa dimaknai sebagai gerakan refleksi maka akan ada perbaikan bagi gerakan KAMMI ke depannya.
Pencetus dari acara sarasehan ini adalah beberapa orang yang tadinya berdiskusi di grup facebook Pengurus KAMMI Se-Indonesia mengenai stagnansi ideologi yang terjadi di dalam tubuh gerakan dan menyepakati perlunya revitalisasi pemikiran dalam KAMMI itu sendiri. Beberapa orang yang sangat aktif mengawal pembicaraan ini adalah Syamsudin Kadir (Staf Kaderisasi PP KAMMI), Arif Susanto (Ex-Humas KAMMI Sleman), Okta Undang Suhara (Staf Kebijakan Publik PP KAMMI), Adhe Nuansa Wibisono (Staf HLN Pendidikan PP KAMMI) dan Andriyana (Sekjend PP KAMMI). Untuk struktur panitia persiapan baik di Manifesto Pancoran maupun di Sarasehan Nasional di Jogjakarta sifatnya hanya insidental saja dan mengurusi wilayah-wilayah pekerjaan yang teknis, terkait penyelenggaraan forum-forum diskusi ideologi yang akan dilakukan.

Sebenarnya nama Manifesto Pancoran itu hanyalah sebutan saja, kita hanya menyepakati bahwa pertemuan di Angkringan Pancoran ini adalah awal kelahiran dari gerakan intelektual dalam tubuh KAMMI, sehingga dipilihlah kata Manifesto Pancoran sebagai bentuk awal kelahiran dari gerakan intelektual ini. Isi Manifestonya belum dituliskan secara detail karena dalam pertemuan di Pancoran itu kita hanya mencoba merumuskan bagaimana langkah persiapan menuju Sarasehan di Jogjakarta dan kita hanya mencoba mempertemukan orang-orang KAMMI yang selama ini berdiskusi hanya melalui media facebook. Bisa dikatakan ini adalah sebuah gerakan yang lahir dari dunia maya kemudian berwujud pada suatu gerakan di dunia nyata. Manifesto Pancoran adalah sebuah awalan kelahiran gerakan intelektual ini.
Pada awalnya saya sudah mencoba menawarkan hal ini kepada pengurus pusat KAMMI sebagai pihak struktural yang memiliki otoritas dalam organisasi KAMMI. Sebagai anggota baru dalam PP KAMMI saya sudah mencoba untuk menghubungi kaderisasi PP KAMMI dan Ketua Umum PP KAMMI dan menyarankan pentingnya pembahasan mengenai ideologi KAMMI yang sepertinya sudah mengalami distorsi pemahaman di tingkatan para kader baik di level daerah maupun komisariat. Tapi apa boleh dikata, ide dan usulan saya ketika itu mengenai perumusan buku Manifesto Politik KAMMI yang memuat sejarah gerakan, tafsir ideologi dan pembahan filosofi gerakan tidak mendapatkan tanggapan positif dari fungsionaris PP KAMMI lainnya. Sehingga ketika saya berdiskusi dengan beberapa kawan di facebook dan menemukan keresahan yang sama lahirlah gerakan intelektual ini melalui format kultural dan informal. Sebuah gerakan yang memang tidak melihat fungsi-fungsi struktural dan jabatan dalam organisasi KAMMI. Melalui gerakan kultural inilah lahirnya Manifesto Pancoran, Sarasehan Intelegensia Jogja, dan rencana penulisan buku tafsir ideologi KAMMI akhirnya kemudian dapat dilakukan.
Bagi saya gerakan ini adalah bentuk kepedulian dan kecintaan kami kepada KAMMI. Tindak lanjut dari gerakan intelektual ini adalah kita ingin mengadakan diskusi-diskusi ideologi seperti ini di berbagai daerah sehingga gerakan penyadaran ini dapat menyebar dampaknya kepada teman-teman KAMMI di seluruh Indonesia, tidak hanya di Jogja atau Jakarta saja tetapi juga menyebar ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Kemudian untuk mempermudah penyebaran ide ini maka kita merencanakan untuk menulis sebuah buku dari hasil sarasehan dan diskusi yang telah dilakukan. Buku itu adalah bentuk penafsiran ulang mengenai bangunan ideologi, filosofi dan sejarah gerakan KAMMI yang kemudian telah melalui tahapan rekonstruksi dan reintreperetasi yang didapatkan melalui proses diskusi yang cukup mendalam di sarasehan. Untuk gerakan yang lebih besar lagi adalah kita mencoba untuk mencanangkan ide gerakan “1000 buku KAMMI” dimana kita ingin kembali menyemarakkan semangat menulis diantara kader-kader KAMMI se-Indonesia, dengan ini kita berharap budaya intelektual yang kritis dan konstruktif kembali muncul dalam tubuh gerakan KAMMI ini.
Tantangan yang akan dihadapi jika tidak ada penyegaran intelektual seperti ini adalah dikhawatirkan KAMMI akan jatuh kepada arah pragmatisme gerakan. Ketika gerakan ini tidak mampu menerjemahkan arah perjuangannya maka yang akan muncul adalah pragmatisme dan terseretnya gerakan ini kepada arah politik praktis. Saya melihat adanya fenomena-fenomena pragmatisme yang mulai muncul di berbagai daerah, seperti adanya praktek aksi demonstrasi bayaran atau aktivis gerakan mahasiswa terlibat dalam proses politik praktis dan kemudian juga ikut menyeret organisasi mahasiswa yang seharusnya independen. Kemudian logika-logika patronase kepada partai politik yang cukup mengemuka di beberapa daerah dimana aktivis KAMMI malah dijadikan sebagai alat untuk memenangkan calon kepala daerah dari partai politik tertentu. Tidak juga kita melupakan tragedi pemakzulan yang dilakukan oleh sekelompok oknum dalam tubuh KAMMI dimana pemakzulan  (baca Muktamar Luar Biasa) itu dilakukan atas instruksi dari petinggi partai politik tertentu. Saya pikir kondisi-kondisi seperti inilah yang akan terjadi jika kita tidak segera melakukan revitalisasi pemikiran dan ideologi dalam tubuh gerakan KAMMI.
Konstitusi KAMMI atau yang biasa kita kenal dengan AD/ART KAMMI setiap muktamar mengalami revisi dan perubahan. Setiap perubahan yang terjadi pada konstitusi KAMMI melalui muktamar itu adalah proses yang legal dan otoritatif dalam rangka upaya evaluasi dan perbaikan organisasi ini secara berkala. Jadi dengan ada atau tidaknya Sarasehan ini perubahan berkala yang terjadi pada konstitusi KAMMI memang akan dilakukan setiap muktamar. Yang mungkin akan terjadi adalah lahirnya rekomendasi-rekomendasi yang kembali menegaskan masalah independensi gerakan KAMMI dalam forum muktamar. Hal-hal yang melanggar prinsip independensi gerakan akan coba kembali dievaluasi dan direvisi ulang sehingga nalar konstitusi KAMMI akan selaras dan sejalan dengan semangat independensi gerakan yang selama ini coba untuk dibangun.
Harapan saya untuk KAMMI ke depannya adalah bagaimana caranya agar gerakan ini tidak kembali dikooptasi oleh kekuatan politik praktis atau partai politik tertentu. Saya memiliki mimpi agar para aktivis KAMMI dapat mencintai KAMMI secara utuh, secara jujur, secara sungguh-sungguh. Jangan sampai ada aktivis KAMMI yang berpikir bahwa gerakan ini hanyalah tempat dimana dia bisa mencari tangga politik yang lebih tinggi, agar dia bisa masuk ke partai politik contohnya. Saya juga memimpikan lahirnya generasi aktivis KAMMI yang mencintai KAMMI secara jujur dengan cara pandang anak KAMMI, bukan sebagai kader partai politik yang dititipkan ke KAMMI, artinya apa ketika dia memimpin KAMMI, membuat kebijakan di KAMMI dia tidak berpikir dengan cara pandang kepentingan partai politik, tetapi dia berpikir dengan cara pandang yang murni mahasiswa, bacaannya adalah bacaan yang lahir dari kepentingan KAMMI sebagai gerakan mahasiswa.
Kemudian saya berharap tradisi pemakzulan di KAMMI yang dilakukan oleh anak-anak KAMMI yang memihak kepada kekuatan politik praktis di luar KAMMI tidak lagi terulang. Biarkan semua dinamika yang terjadi di dalam tubuh KAMMI terjadi secara alamiah dan natural, jangan sampai ada kawan kita yang dikorbankan, dilengserkan atau dimakzulkan karena pesanan para elite partai politik, bagi saya itu sangat menyedihkan sekali. Nurani saya sebagai aktivis mahasiswa menolak kezhaliman struktural yang demikian, budaya ini harus kita ubah! Saya berharap lahirnya generasi KAMMI yang baru, generasi KAMMI yang mencintai KAMMI sepenuhnya dengan nilai-nilai independensi gerakan yang tetap dijaga sekuat-kuatnya. Semoga!