![]() |
| Aksi Palestina oleh KAMMI Komsiariat UGM, 28 Oktober 2009 |
Adhe Nuansa Wibisono, SIP
Kajian Terorisme FISIP UI
HLN dan Pendidikan KAMMI Pusat
Jakarta, Sabtu 4 Agustus 2012
Arah hidup memang tidak dapat diduga, yang pada mulanya sudah pernah berniat untuk meninggalkan dunia mahasiswa akhirnya penulis kembali lagi kepada dunia yang memang sangat penulis cintai. Saat ini saya tercatat resmi menjadi mahasiswa kembali, sebagai mahasiswa pascasarjana di Kajian Terorisme dan Keamanan Internasional FISIP UI pada tahun penerimaan 2012. Dengan demikian saya kembali memutuskan untuk kembali beraktivitas pada dunia kemahasiswaan, yaitu di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia [KAMMI]. Pada awalnya saya berpikir hanya untuk bergabung sementara saja dengan Pengurus Pusat [PP] KAMMI. Kemudian aktivitas yang diutamakan adalah kegiatan kuliah pascasarjana di FISIP UI.
Rencana tinggal rencana ternyata saya menemukan dua hal menarik yang mungkin bisa saya lakukan sebagai amal perjuangan di KAMMI selama dua tahun ini [2012-2014] : 1. KAMMI Go International, melalui program-program kerja yang disusun di bidang Hubungan Luar Negeri [HLN] PP KAMMI, 2. Pembangunan sistem kaderisasi terpadu meliputi tim instruktur dan madrasah KAMMI khas pada KAMMI Daerah Jakarta, terutama melalui pilot project yang diujicobakan pada KAMMI Komisariat Universitas Negeri Jakarta. Dua hal yang saya sebutkan di atas itu memang memiliki ranah gerak yang berbeda dan berhubungan dengan struktur-struktur di KAMMI yang berbeda.
Untuk poin yang pertama saya akan banyak berinteraksi dengan rekan-rekan bidang HLN dan Pendidikan, yaitu Sofyardi Rahmat [HI UNNEJ 2002] dan Mohammad Fadhil [Ilkom UNPAD 2007]. Kemudian sebagai anggota PP saya juga akan berinteraksi dengan pengurus PP KAMMI lainnya, yaitu Muhammad Ilyas [Ketua Umum], Sugeng Wiyono [Wakil Ketua Umum], Andriyana [Sekretaris Jenderal], Jusman Dalle [Humas], Inggar Saputra [Humas], Liyuda Saputra [Kestari] dan banyak kawan lainnya. Untuk poin kedua saya akan lebih banyak berhubungan dengan kawan-kawan pengurus komisariat Jakarta, yang memiliki idea-idea besar bagaimana sistem pengkaderan KAMMI itu direformasi. Sementara ini rekan seperjuangan dalam ide ini adalah Akmal Junmiadi [Ketua KAMMI UNJ] dan Riyan Fajri [Ketua KAMMI Madani].
KAMMI Go International
Bidang HLN PP KAMMI pada kepengurusan tahun 2012 ini sebenarnya memiliki beberapa program yang menarik diantaranya adalah membangun hubungan dengan kedutaan-kedutaan besar di Jakarta, kemudian melakukan kunjungan resmi organisasi yang ditindaklanjuti dengan proposal kerjasama pengadaan shortcourse atau trainingkepemimpinan. Sejauh ini PP KAMMI telah melakukan kunjungan kepada dua kedutaan besar, yaitu kedutaan besar Amerika Serikat dan kedutaan besar Turki. Untuk tindak lanjut dari kedutaan besar Amerika Serikat, saya pribadi belum mengetahui secara detail karena kunjungan dilakukan ketika penulis belum bergabung dengan HLN PP KAMMI. Penulis malah mendapati hubungan yang kembali ‘renggang’ dengan kedubes AS dikarenakan pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh PP KAMMI melalui konferensi pers, yang menyatakan PP KAMMI menolak isu perluasan gedung bangunan kedubes AS.[1]
Hubungan dengan kedutaan besar Turki mungkin memberikan sinyalemen yang lebih positif. Mohammad Fadhil, HLN PP KAMMI, memberikan informasi bahwa kedutaan besar Turki memberikan peluang akan sebuah kerjasama pelatihan dengan partai politik AKP Turki. Dari sana PP KAMMI diminta untuk membuat sebuah rancangan modul pelatihan yang akan dikirimkan kepada pihak AKP Turki sebagai proposal pelatihan. Jika pihak AKP Turki menyetujui model pelatihan yang ditawarkan, maka peluang untuk melakukan kerjasama antara AKP Turki dengan PP KAMMI mungkin bisa saja untuk dilaksanakan. Modul pelatihan dibuat secara mendetail baik menyangkut konsep pelatihan, jadwal acara, waktu, tempat, dan materi-materi training. Jika ada proposal kreatif yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan dan disetujui oleh pihak AKP Turki maka kemungkinan untuk melakukan join shortcourse PP KAMMI-AKP di Turki kian menjadi nyata, ungkap Fadhil.
Sebagai personil baru di HLN PP KAMMI, penulis berupaya untuk beradaptasi dengan suasana dan budaya yang ada. Saya juga memiliki gagasan lain untuk bidang HLN dimana PP KAMMI dapat menjalin aktif kerjasama dengan organisasi-organisasi mahasiswa di kawasan Asia Tenggara seperti ABIM dan UMNO Youth [Malaysia], kemudian gerakan-gerakan mahasiswa Islam seperti Moslem Student Association [MSA] yang tersebar di berbagai negara. Dengan adanya jaringan kerjasama lintas negara dan kawasan yang dibangun maka diharapkan mobilitas gerakan KAMMI dapat juga diwujudkan dalam tataran global. Seharusnya sebagai salah satu gerakan mahasiswa terbesar di Indonesia, PP KAMMI sudah memiliki jejaring yang mapan dengan berbagai organ mahasiswa atau sayap kepemudaan partai politik di berbagai negara. Poin ini mungkin yang bisa menjadi sasaran yang akan saya wujudkan bersama kawan-kawan HLN PP KAMMI.
Penguatan Sistem Kaderisasi
Gagasan ini muncul secara tidak sengaja ketika saya berdiskusi dengan Akmal Junmiadi [Ketua KAMMI UNJ] yang bercerita tentang kondisi pengkaderan KAMMI yang ada di UNJ. Akmal bercerita bagaimana pelatihan Daurah Marhalah [DM] I KAMMI yang dilakukan di Jakarta belum memiliki standardisasi pelatihan yang jelas. DM I diadakan tanpa adanya tim instruktur di Kaderisasi KAMMI Daerah Jakarta. Sehingga pola daurah yang baku dalam pengelolaan DM I belum ditemui dalam aktivitas-aktivitas yang dilakukan kawan-kawan komisariat se-Jakarta. Para pimpinan komisariat di Jakarta, kader-kader KAMMI UNJ, KAMMI Madani, KAMMI Uhamka, KAMMI LIPIA, KAMMI MABDA, KAMMI Al-Hikmah mengadakan DM I dengan ijtihad masing-masing dan hanya bersandar pada manhaj kaderisasi yang sangat general.
Lalu saya bertanya pada kader-kader komisariat di Jakarta, apakah mereka memahami bagaimana alur daurah itu dibentuk, hubungan satu materi dengan materi lainnya, peranan instruktur pada sebuah training? Secara jujur kawan-kawan komisariat menjawab tidak tahu. Melihat kondisi yang demikian saya tertarik untuk membantu membangun sistem kaderisasi yang lebih mapan bagi kawan-kawan komisariat di Jakarta. Dua aspek penting yang akan dilakukan dalam penguatan sistem kaderisasi adalah : pertama, pengenalan sistem instruktur KAMMI beserta perangkat-perangkatnya. Kedua, penyusunan kurikulum buku filosofi politik gerakan KAMMI yang akan menjadi landasan bagi materi-materi pengkaderan di KAMMI.
Sistem Instruktur KAMMI
Model instruktur adalah model pengkaderan KAMMI yang inisiasi awalnya dikembangkan pada KAMMI Daerah Jogjakarta pada tahun 2004-2005. Secara definisi instruktur adalah elemen yang bertanggungjawab pada pelaksanaan pelatihan, dan berperan sebagai penggerak, pendidik, dan perubah[2]. Secara lebih mudahnya adalah instruktur adalah elemen kaderisasi yang bertanggung jawab dalam pengadaan dan pelaksanaan daurah-daurah di KAMMI, khususnya daurah-daurah terkait kaderisasi seperti Daurah Marhalah I, Daurah Marhalah II, Daurah Marhalah III, Training For Instructure, dan Daurah Pemandu Madrasah KAMMI. Seorang kader KAMMI dapat menjadi instruktur ketika dia telah melalui jenjang pengkaderan Anggota Biasa II atau Anggota Biasa III dan kemudian mengikuti Training For Instructure[3].
Kemudian apa yang menarik dari model instruktur ini kepada pengembangan pelatihan yang terdapat di KAMMI? Penulis pribadi menilai model instruktur ini adalah mekanisme pengelolaan pelatihan gerakan yang cukup komprehensif. Secara sederhana pembagian tugas dan peran model instruktur dalam sebuah training dibagi kedalam beberapa posisi, yaitu : 1. Master Of Training [MOT], yang berfungsi sebagai penanggung jawab umum dari pelaksanaan sebuah training, 2. Assisten Master of Training [As.MOT], menjadi wakil MOT dan mendukung penuh kelancaran pelaksanaan training, 3. Instruktur Materi [IMAT], adalah instruktur yang diberikan tugas menjadi fasilitator materi dan bertugas untuk memenuhi poin-poin materi yang dirancang oleh MOT dan As.MOT, 4. Master Of Classroom [MCR], adalah instruktur yang bertugas untuk mengatur dinamika forum dan memberikan benang merah antara satu materi dengan materi lainnya, 5. Observer, bertugas untuk mengamati perkembangan forum, peserta dan IMAT kemudian memberikan laporannya berupa angka-angka penilaian kepada MOT dan As.MOT, 6. Administrasi, bertugas untuk membuat grafik penilaian perkembangan peserta, sehingga bisa dijadikan bahan analisa oleh MOT dan As.MOT.
Penulis sempat berdiskusi dengan salah seorang konseptor dari pembentukan instruktur KAMMI Daerah Jogjakarta, Ardhi Rahman [Sekretaris Jenderal KAMMI Jogjakarta 2006-2008], dia menyebutkan inspirasi model instruktur ini diadaptasi dari pola pengkaderan gerakan yang telah berkembang dalam tubuh gerakan Pelajar Islam Indonesia [PII] dan Himpunan Mahasiswa Islam [HMI]. Kemudian model pelatihan tersebut diadaptasi dengan muatan-muatan ideologis dan gerakan yang sesuai dengan manhaj kaderisasi KAMMI. Sehingga bisa dikatakan pola instruktur yang dibangun di KAMMI juga banyak mengadaptasi dari ragam training gerakan lain yang lebih dahulu ada kemudian disintesiskan dengan muatan-muatan khas KAMMI, sebuah adaptasi dan sintesa gerakan yang sangat unik. Semangat yang ingin dibangun adalah agar kemandirian dan keberlanjutan pengkaderan dalam gerakan KAMMI dapat terus dikuatkan.
Dengan adanya pola instruktur ini maka keterikatan antara pengurus komisariat, pengurus daerah dan pengurus wilayah dalam satu struktur kepengurusan KAMMI akan semakin diperkuat khususnya dalam bidang training pengkaderan. Kawan-kawan instruktur AB II di komisariat dan daerah bisa bersinergi untuk membangun sistem pengkaderan di tataran komisariat dan daerah, kawan-kawan instruktur AB III di daerah dan wilayah melakukan hal yang serupa di tataran daerah dan wilayah. Sehingga sinergi ini akan membangun satu kesepahaman antara wilayah-daerah-komisariat dalam upaya untuk penguatan pengkaderan KAMMI di basis tersebut. Sehingga capaian-capaian kaderisasi benar-benar menjadi capaian kolektif yang diupayakan oleh semua jenjang struktur kepengurusan.
Kurikulum Filosofi Politik Gerakan KAMMI
Penulis mengamati KAMMI belum memiliki satu rangkuman buku yang memuat tafsir-tafsir filosofi gerakan yang dapat dijadikan sebagai referensi utama bagi materi-materi pengkaderan di KAMMI. Ada upaya-upaya yang dilakukan oleh beberapa pimpinan KAMMI seperti Rijalul Imam [Ketua Pengurus Pusat KAMMI 2009-2011] yang menelurkan gagasan “Tafsir Epistemik Prinsip Perjuangan KAMMI : Agenda dan Mihwar Gerakan Keummatan”[4], tetapi gagasan ini belum ditindaklanjuti dengan adanya satu buku induk yang berisikan pandangan filosofi gerakan KAMMI kemudian dijadikan sebagai referensi utama. HMI telah lama mengeluarkan pemikiran otentiknya yang diwakili oleh Nurcholish Madjid dengan gagasan “Nilai Dasar Perjuangan” [NDP][5], gagasan ini diakui sebagai karya pemikiran otentik yang mendeskripsikan visi dari HMI.
Bagaimana dengan Manhaj Kaderisasi KAMMI? Secara pribadi penulis menilai manhaj itu bukanlah satu dokumen yang menggambarkan landasan filosofi gerakan KAMMI, manhaj adalah semacam Standard Operating Procedure [SOP] bagi pelaksanaan sistem pengkaderan di KAMMI yang bersifat teknis dan operasional[6], tetapi dia belum cukup mampu menggambarkan filosofi politik gerakan KAMMI itu sendiri. Manhaj Kaderisasi memang telah memberikan definisi, alur, buku referensi, pengelolaan dan pelaksanaan dari kaderisasi itu sendiri, tetapi tidak memberikan narasi-narasi filosofis akan gerakan dan perjuangan dari KAMMI secara komprehensif. Berangkat dari kesadaran itulah upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Rijalul Imam, Amin Sudarsono dkk perlu untuk ditindaklanjuti. Upaya untuk membuat sebuah tafsir otentik akan gerakan KAMMI yang berasal dari karya pemikiran anak KAMMI sendiri.
Penulis menawarkan bagaimana jika poin-poin yang terdapat pada Indeks Jati Diri Kader [IJDK] KAMMI itu dijadikan sebagai acuan awal penulisan kurikulum filosofi gerakan politik KAMMI, kemudian dilakukan sebuah tafsir pemikiran dari setiap penjabaran poin-poin tersebut yang dirumuskan oleh tim Departemen Kaderisasi PP KAMMI. Kemudian kurikulum itu ditambahkan juga empat poin mengenai tafsir paradigma gerakan KAMMI dan sejarah berdirinya KAMMI, sehingga yang akan menjadi inti dari kurikulum filosofi politik gerakan KAMMI adalah sepuluh poin IJDK, empat paradigma gerakan KAMMI dan sejarah KAMMI. Jika dijabarkan ke dalam poin-poin maka akan berisikan : 1. Sejarah KAMMI, 2. Aqidah, 3. Fikrah dan Manhaj Perjuangan, 4. Akhlaq, 5. Ibadah, 6. Tsaqafah Ke-Islam-an, 7. Wawasan Ke-Indonesia-an , 8. Kepakaran dan Profesionalitas, 9. Kemampuan Sosial Politik, 10. Pergerakan Kepemimpinan, 11. Pengembangan Diri, 12. Gerakan Dakwah Tauhid, 13. Gerakan Intelektual Profetik, 14. Gerakan Sosial Independen, 15. Gerakan Politik Ekstraparlementer.[7]
Belum lagi pembahasan akan konsep-konsep lain yang kemudian lahir seiring dengan dinamika perjalanan KAMMI selama 14 tahun ini. Istilah-istilah genuine yang lahir seperti Harakatud Tajnid, Harakatul Amal dan Muslim Negarawan sudah saatnya juga diberikan porsi khusus untuk melakukan pengkajian serius dan semakin melengkapi konsep-konsep yang telah KAMMI lahirkan. Penulis berpikir sudah saatnya gerakan sebesar KAMMI memiliki sebuah rumusan gerakan yang otentik dan dapat digunakan untuk memperkaya literatur-literatur pemikiran tentang KAMMI di masyarakat luas.
Akhir dari Sebuah Awalan Perjuangan
Dengan ini akhirnya saya kembali lagi kepada jalur aktivisme di gerakan mahasiswa, sebuah jalan yang tadinya ingin saya sudahi setelah selesai menempuh studi di Strata 1 Hubungan Internasional UGM. Ternyata jalan hidup membuat saya kembali untuk melanjutkan studi di Strata 2 Kajian Terorisme dan Keamanan Internasional UI dan juga mengantarkan saya kembali untuk kembali bergabung dengan KAMMI. Bisa jadi dua tahun ini akan digunakan untuk mencoba memenuhi mimpi-mimpi yang dulu belum bisa diwujudkan baik di KAMMI Komisariat UGM maupun KAMMI Daerah Sleman. Masih banyak gagasan-gagasan yang dulu pernah saya dan kawan-kawan mimpikan tentang KAMMI, tetapi belum mampu kami wujudkan ketika itu. Saya berharap tulisan ini menjadi sebuah pertanda, sebuah akhir keterputusan saya dengan dunia aktivisme dan menandakan sebuah awalan perjuangan kembali, semoga.
[1] http://kammi.or.id/kammi-tolak-pembangunan-markas-besar-as-di-indonesia, diakses pada 5 Agustus 2012
[4] Rijalul Imam, “Tafsir Epistemik Prinsip Perjuangan KAMMI :Agenda dan Mihwar Gerakan Keummatan”, 2010
[5] http://hmitpi.blogspot.com/p/nilai-nilai-dasar-perjuangan-hmi.html, diakses pada 6 Agustus 2012
[6] Tim Kaderisasi PP KAMMI, “Manhaj Kaderisasi KAMMI 1433 H”, Departemen Kaderisasi PP KAMMI : Jakarta, 2011
Assalamu'alaikum Bang Wibi…
klo cara ngedapetin buku Manhaj Kaderisasi KAMMI 1433 H gimana y?
Mohon blsnya Tks
buku manhaj kaderisasi KAMMI 1433 H itu masih ada eksemplarnya di sekretariat PP KAMMI. coba antum tanya ke kadep kaderisasi kammda antum, karena dibagi merata ke setiap kammi daerah