Logo Ikhwanul Muslimun
Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM
Yogyakarta , 4 Juni 2011
Seperti organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun, gerakan mahasiswa Islam juga muncul kembali pada pertengahan tahun 1960 sebagai kekuatan politik yang potensial, walaupun itu tidak terjadi sampai tahun 1968, ketika organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun pertama kali memperlihatkan kekuatan politik mereka secara terbuka. Bersama dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun, gerakan mahasiswa Islam akan menjadi pilar penting dalam Islamisasi ruang sosial-politik  di Mesir dan akan mendukung penyebaran wacana keislaman kepada segmen publik yang lebih luas.[1]
Pada tahun 1968, terdapat gelombang demonstrasi sebagai aksi kritik untuk menurunkan perwira senior militer yang bertanggungjawab pada kekalahan memalukan pada perang tahun 1967, gerakan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi dan menuntut eksekusi terhadap perwira desersi. Aparat pemerintah berusaha untuk membubarkan aksi demonstrasi tetapi respon keras pemerintah semakin membuat massa menjadi bersatu, menggembleng barisan gerakan mahasiswa yang awalnya terpecah-pecah menjadi satu kekuatan massa yang solid. Para aktivis mahasiswa mulai menyuarakan secara tegas tuntutan mereka atas kesempatan pendidikan dan politik yang lebih luas, begitu juga untuk posisi Mesir yang lebih kuat atas Israel.[2]
Gelombang baru dari gerakan mahasiswa dianggap cukup merepotkan pemerintahan Nasser, terutama sekali ketika gerakan mahasiswa terpecah kepada beberapa faksi, dimana ada elemen mahasiswa yang mengaliansikan dirinya dengan Komunis, sementara kelompok lainnya berada di bawah kontrol dari Al-Ikhwan Al-Muslimun. Akibat munculnya demonstrasi yang diorganisir oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun pada tahun 1968, pemerintah melakukan tekanan terhadap semua elemen yang berafiliasi dengan Ikhwan termasuk juga gerakan mahasiswa. Pemerintah mencoba mendukung faksi mahasiswa pro-Nasser untuk  memperkuat pengaruh dalam tubuh kelompok mahasiswa Islam.[3]
Keuntungan lainnya bagi Al-Ikhwan Al-Muslimun datang dari kebijakan reformatif yang diterapkan oleh pengganti Gamal Abdul Nasser, yaitu Anwar Sadat. Pada tahun 1971, Sadat meluncurkan “revolusi perbaikan”, dimana ketika itu Sadat sedang berusaha untuk melemahkan pengaruh pro-Soviet sehingga dia bisa melepaskan Mesir dari aliansi politik pro-Soviet yang ada di Timur Tengah, sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat, dan melakukan pendekatan antara Mesir dengan Saudi Arabia. Sadat melihat kekuatan anti komunis Ikhwan merupakan sekutu konservatif potensial dalam upaya ini, dan dia menginginkan dukungan Ikhwan dalam hal ini.[4]
Anwar Sadat melepaskan hampir seluruh tawanan Ikhwan dari penjara, dan banyak dari mereka bergerak  dan beraktivitas di universitas, dimana pemerintah memberikan mereka kebebasan yang cukup untuk mengorganisir dan menyebarkan ideologi mereka, dimana Sadat membutuhkan sekutu konservatif mendukungnya dalam memecah dominasi gerakan kiri di kampus-kampus. Sadat juga mengirimkan kepada Umar Tilmisani, pengacara yang kemudian akan menjadi Mursyid Am Ketiga Ikhwanul Muslimun dan menawarkan untuk memberikan lisensi untuk menerbitkan kembali majalah bulanan Ikhwan, “Ad Dawa”. Dinas Intelijen Mesir, Mukhabarat, juga kemudian melakukan pendekatan dengan Ikhwan. Ketika Ikhwan mendapatkan dukungan dari apparatus negara, mereka bebas untuk memobilisasi jalur-jalur pendanaan di kawasan Teluk.[5]
Anwar Sadat tidak hanya melepaskan hampir semua anggota Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipenjara, tetapi dia juga mengembalikan berbagai harta, asset dan properti organisasi milik Ikhwan. Sadat juga mengijinkan anggota Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dibuang ke luar negeri untuk kembali ke Mesir. Seperti yang sudah disebutkan di awal, Nasser melakukan pendekatan yang liberalistik dalam  pengelolaan organisasi mahasiswa di universitas menyusul adanya perang 1967. Sadat mencoba untuk melakukan perubahan terhadap kebijakan ini dengan memberikan peluang kepada Al-Ikhwan Al-Muslimun untuk melakukan pergerakan di universitas-universitas.[6]
Strategi ini dijalankan untuk membendung pengaruh dari gerakan kiri yang cukup berpengaruh di kalangan mahasiswa. Ketika Al-Ikhwan Al-Muslimun menikmati kebebasan dalam pengelolaan kampus, ini juga bermanfaat bagi rezim yaitu secara efektif mengimbangi kelompok oposisi lainnya. Dukungan dari Anwar Sadat kepada kelompok politik Islam diwujudkan dalam sektor publik lainnya. Pada tahun 1980, Sadat menetapkan Syariah Islam sebagai “nilai dasar pada hukum legal nasional” dengan melakukan amandemen konstitusi.[7]
Para pengamat politik menilai upaya ini sebagai aksi preemptive terhadap kelompok oposisi Islam. Dengan merangkul prinsip-prinsip Islam, Sadat mencoba untuk menghilangkan kritik Al-Ikhwan Al-Muslimun terhadap konsep pemerintahan sekuler. Bersamaan  juga dengan pengelolaan dan pergerakan yang massif dari Al-Ikhwan Al-Muslimun di kampus-kampus dapat membendung pengaruh dari kelompok oposisi lainnya dan mengkonsolidasikan kekuatan politik dari Anwar Sadat. Kelompok reformis Islam, Al-Ikhwan Al-Muslimun, pada akhirnya menggantikan peranan dari gerakan kiri sebagai kekuatan oposisi nasional yang paling dominan.[8]
Pembentukan Gama’at Islamiya
Perpecahan internal dalam tubuh gerakan mahasiswa memberikan sinyalemen positif terhadap kebangkitan dari kelompok mahasiswa Islam. Asosiasi mahasiswa Islam (Gama’at Islamiya) yang berafiliasi kepada gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun dibentuk pada tahun 1970 di Rumah Sakit Qasr al-Ayni Kairo oleh dokter dan mahasiswa Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dilepaskan dari penjara zaman Nasser. Kelompok serupa juga dibentuk tidak lama kemudian di sejumlah fakultas Kedoketran di Kairo, Ayn Shams dan di sejumlah universitas di Mesir bagian atas.[9]
Dengan adanya persaingan diantara kelompok pro-Nasser dan pro-Sadat dalam memperebutkan posisi kepemimpinan lembaga mahasiswa ditambah adanya tekanan pemerintah, munculnya kepemimpinan mahasiswa independen memberikan kelompok mahasiswa Ikhwan kesempatan untuk meningkatkan kekuatannya dalam gerakan. Ketika kekuatan politik gerakan semakin meningkat, situasi sosial-politik semakin mendukung kekuatan mahasiswa Ikhwan dalam mendapatkan pengaruh yang lebih besar. Mengakui pentingnya peranan gerakan mahasiswa sebagai pion efektif dalam menghilangkan pengaruh Nasser, Anwar Sadat melihat elemen gerakan mahasiswa Islam sebagai pion untuk memperbesar pengaruhnya terhadap gerakan mahasiswa kiri.[10]
Mengendurnya tekanan Anwar Sadat kepada Al-Ikhwan Al-Muslimun, memberikan peluang ekspansi dari gerakan mahasiswa Islam, yang dimana pada tahun 1970-an masih dianggap sebagai kelompok minoritas dalam skala gerakan mahasiswa yang lebih luas. Islamisme bukan merupakan gerakan yang populer pada awal tahun 1970-an ketika diskusi tentang diakletika materialisme, imperialisme dan penjajahan Barat masih menjadi wacana utama saat itu. Sementara itu untuk lapisan kelas bawah, generasi pertama mahasiswa dari Mesir Utara, tema-tema diskusi ini dirasa terlalu elitis. Mahasiswa mulai mencari pertanyaan yang lebih mendasar tentang kondisi sosial-ekonomi masyarakat kelas bawah Mesir yang sedang dilanda kemiskinan.
Permainan kepentingan dari rezim Sadat juga membuat Gama’at Islamiya untuk berkembang lebih jauh pada tahun 1970-an. Kemah Musim Panas, seperti yang pernah diadakan oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun sebelum tahun 1954, diadakan kembali oleh Gama’at Islamiya dan diikuti oleh ratusan mahasiswa yang berpartisipasi dalam program keislaman. Dibentuknya unit mahasiswa yang bergerak pada pembentukan moral keislaman, studi Al-Qur’an dan tafsir. Dengan fokus pada pendalaman ritual dan kajian keislaman, kelompok mahasiswa ini lebih menitikberatkan pada pembentukan perilaku islami mahasiswa daripada permasalahan politik dan ideologi yang lebih luas. Meskipun melakukan pembelaan terhadap ritual dan nilai-nilai keislaman, kelompok mahasiswa ini menyebarkan pencitraan yang ketat tetapi apolitis dari nilai-nilai Islam.[11]
Gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun tumbuh subur dalam kondisi seperti ini dan menikmati periode kebangkitan. Elite pimpinan Ikhwan mengambil keuntungan dari toleransi yang diberikan Anwar Sadat dan menginisiasi banyak program yang bertujuan untuk memperkuat kebangkitan organisasi Ikhwan. Melalui pengadaan “program-program pelatihan” dimana dalam forum itu para pimpinan Ikhwan akan menyampaikan pandangan dan gagasannya, dapat dikatakan Al-Ikhwan Al-Muslimun secara efektif melakukan mobilisasi dan terhadap mahasiswa-mahasiswa universitas di seantero Mesir. Ikhwan mencoba melakukan pembaruan gerakan di kalangan mahasiswa dengan membentuk sejumlah proyek-proyek pelayanan masyarakat. Beberapa upaya yang dilakukan seperti bantuan financial untuk pembelian buku materi perkuliahan dan biaya kuliah, serta penyediaan pakaian seragam untuk wanita. Kebijakan toleran Sadat kepada Ikhwan juga meluas kepada hal-hal lain di luar lingkup universitas.
Sarana penting dari mobilisasi gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah universitas, dimana asosiasi mahasiswa Islam (Gama’at Islamiya) yang berafiliasi kepada Al-Ikhwan Al-Muslimun telah mendominasi lembaga-lembaga mahasiswa di mayoritas fakultas yang ada sejak pertengahan tahun 1970-an. Kelompok Gama’at Islamiya sangat menghegemoni di fakultas-fakultas sainstek. Sebagai contoh, pada pemilihan umum mahasiswa di Universitas Kairo pada tahun 1990-1991, gama’at al-islamiya memenangkan 47 dari 48 kursi senat di Fakultas MIPA, seluruh 72 kursi di Fakultas Kedokteran dan seluruh 60 kursi di Fakultas Teknik.[12]
Richard Paul Mitchell menjelaskan bagaimana pengelolaan Gama’at Islamiya secara efektif dilakukan. Diawali dengan didirikannya Al-Ikhwan Al-Muslimun cabang universitas yang diketuai oleh seorang ketua cabang Ikhwan yang dipilih dari tokoh pimpinan mahasiswa yang dikenal di kalangan akademik dan mahasiswa. Kemudian pengorganisasian dibagi lagi kepada unit yang lebih kecil dimana masing-masing ketua cabang fakultas bertanggung jawab langsung kepada ketua cabang universitas, dan masing-masing fakultas dibagi lagi menjadi kelompok-kelompok yang mewakili masing-masing angkatan dari empat tahun perkuliahan.[13]
Perekrutan dan ideologisasi terhadap aktivis mahasiswa ini disebut sebagai “Islamization From Below” dimana Ikhwan fokus pada penguatan basis rekrutmen dan kaderisasi di kalangan aktivis kampus yang kemudian aktivis ini disiapkan untuk menjadi pemimpin lembaga-lembaga politik, asosiasi profesi, organisasi bisnis di kemudian hari. Para elite-elite mahasiswa ini mendapatkan pengalaman berharga menyelenggarakan pelayanan sosial, mempropagandakan ideologi dan nilai-nilai Islam, berinteraksi dengan gerakan mahasiswa lain di kampus dan berhadapan serta melakukan negosiasi-negosiasi politik dengan rezim penguasa. Asosiasi profesional menawarkan kepada elite mahasiswa ini sebuah saluran untuk melanjutkan aktivitas politik mereka setelah kelulusan mereka di universitas.
Kekuasaan Al-Ikhwan Al-Muslimun dalam struktur organisasi formal di lembaga-lembaga mahasiswa di universitas merupakan proses yang bertahap. Keleluasaan yang diberikan rezim kepada lembaga-lembaga mahasiswa di universitas dimulai pada tahun 1967 termasuk dengan dibentuknya Persatuan Nasional Lembaga Mahasiswa Mesir. Kapasitas dari lembaga ini semakin meningkat di bawah pemerintahan Anwar Sadat yang mengeluarkan peraturan organisasi mahasiswa yang lebih longgar pada tahun 1976. Para pimpinan Al-Ikhwan Al-Muslimun bersama dengan Gama’at Islamiya meluncurkan penerbitan dari literatur dan famlet yang menyebarkan nilai-nilai Islam. Dengan strategi ini Anwar Sadat juga efektif dalam membendung kekuatan institusional dari gerakan-gerakan kiri. Kecendrungan ini juga dapat dilihat dari kooptasi dan kemenangan Al-Ikhwan Al-Muslimun pada fakultas Teknik Universitas Kairo, yang sejak dulu sudah menjadi basis dari gerakan kiri.
Pada tahun 1975, Al-Ikhwan Al-Muslimun menginisiasi proyek pembangunan di komunitas daerah tertinggal meliputi pembangunan gedung-gedung sekolah, rumah sakit-rumah sakit dan klinik-klinik kesehatan. Upaya ini menjadikan Al-Ikhwan Al-Muslimun tampil sebagai kekuatan politik non-pemerintah yang menonjol. Pada tahun 1977, Al-Ikhwan Al-Muslimun melalui Gama’at Islamiya memegang kendali atas lembaga-lembaga mahasiswa di seluruh tiga belas universitas-universitas besar di Mesir. Pada tahun berikutnya Ikhwan  mampu untuk memimpin Persatuan Nasional Lembaga Mahasiswa Mesir. Universitas menjadi wadah utama dari aktivisme kekuatan oposisi selama masa pemerintahan Anwar Sadat.[14]
Dengan memegang kekuasaan dari Persatuan Nasional Lembaga Mahasiswa Mesir pada tahun 1976, Gama’at Islamiya dapat menggunakan dana dan fasilitas lembaga sebagai batu loncatan untuk memperkuat basis aktivitas religius mereka. Dipengaruhi oleh kuatnya posisi mereka dalam universitas, Gama’at Islamiya secara perlahan terlibat dalam isu-isu politik terkini, terutama menjadi kekuatan oposisi bagi terhadap kebijakan pemerintah yang menghalangi ekspansi gerakan mereka. Di Mesir Atas, Gama’at Islamiya mendapatkan keuntungan dari kedekatan dan kekuatan jaringan mereka dengan komunitas masyarakat sekitar untuk membentuk sebuah jejaring gerakan, yang akan semakin memperkuat perkembangan gerakan mereka. Pada tahun 1980, lebih dari 60 persen dari anggota aktif  gerakan Islam di Assyut merupakan mahasiswa dari Gama’at Islamiya.[15]
Seperti di asosiasi profesional, kemenangan Gama’at Islamiya dalam pemilihan umum mahasiswa menunjukkan kelemahan rival-rival politik sebagai keuntungan politik bagi mereka. Ketika kelompok gerakan mahasiswa kiri dan liberal dapat mempertahankan kekuatan politik mereka, seperti di Fakultas Ekonomi dan Sosial-Politik di Universitas Kairo, Gama’at Islamiya hanya mampu merebut 13 dari 48 kursi senat mahasiswa. Sementara itu di kebanyakan fakultas lainnya yang menjadi kompetitor politik utama dari kelompok Gama’at Islamiya adalah kelompok Islam lainnya yang juga menargetkan basis konstituen yang sama. Keikutsertaan para mahasiswa ini dalam Gama’at Islamiya juga membentuk kesadaran politik akan sebuah lingkaran dan jejaring yang lebih luas daripada sekedar jejaring mahasiswa di kampus, mereka akhirnya membuat jejaring konstituen terhadap kandidat Islamis yang akan dimajukan, pertama pada serikat dan lembaga mahasiswa dan kemudian akan dilanjutkan pada asosiasi-asosiasi profesional.
Sementara gerakan mahasiswa Gama’at Islamiya yang berafiliasi kepada Al-Ikhwan Al-Muslimun mendominasi kampus-kampus seperti Universitas Kairo dan Universitas Alexandria, kelompok-kelompok Islam militan seperti Islamic Group dan Jihad telah muncul dan menguasai beberapa universitas di Mesir. Keberadaan dari kader mahasiswa Islamis ini memiliki dampak yang melampaui posisi mereka di kampus atau universitas. Para aktivis Islam pada akhirnya memasuki asosiasi-asosiasi profesional setelah mereka lulus dan keluar dari Gama’at Islamiya, yang mencapai puncak dari aktivitas-aktivitas sosial politik pada periode tahun 1976-79.[16]
Aktivitas-aktivitas Kemahasiswaan yang dilakukan Gama’at Islamiya
Apa yang membuat keberadaan Gama’at Islamiya ini mendapat dukungan yang positif dari mahasiswa ketika itu, aktivitas-aktivitas apa saja yang membuat mereka dapat menggalang dukungan sehingga dapat memenangkan kursi kepemimpinan lembaga mahasiswa di beberapa universitas besar di Mesir? Keberhasilan mereka dapat ditelusuri melalui latar belakang sosial mahasiswa Mesir pada tahun 1970-an. Gama’at Islamiya langsung menyentuh pada sumber ketidakpuasan yang melanda banyak mahasiswa, terutama pada daerah pedesaan di universitas-universitas Mesir bagian Atas.
Mahasiswa yang berada pada di daerah ini, kebanyakan merupakan orang-orang pertama dari keluarganya yang mendapatkan pendidikan tinggi, menemukan diri mereka mengalami disorientasi dalam atmosfer yang dinamis dalam lingkungan universitas pada tahun 1970-an. Banyak dari kelompok mahasiswa ini datang dari daerah pedesaan tradisional yang hanya terhubung dengan jaringan administrasi pemerintahan pusat, dimana budaya tradisional berpengaruh besar kepada nilai-nilai masyarakat.[17]  
Gama’at Islamiya menyediakan untuk para mahasiswa buku-buku perkuliahan, fotokopi materi perkuliahan dan busana Islami dengan harga terjangkau. Sebaliknya, beberapa aktivis dari kelompok ini terutama mereka yang berada di Assyut, berusaha untuk mengajukan kebijakan tentang pemisahan yang tegas dari kelas perkuliahan yang bercampur dan mengajukan pemisahan sarana transportasi antara mahasiswa dengan mahasiswi. Pengajuan inisiatif ini mengakibatkan kelompok ini mendapatkan popularitas di sebagian segmen mahasiswa tetapi membuat mereka teralienasi dari sejumlah mahasiswa urban di daerah utara, sejumlah mahasiswi dan kelompok Kristen Koptik.
   
Di daerah Mesir Atas, Gama’at Islamiya memanfaatkan disorientasi sejumlah mahasiswa baru dalam lingkungan universitas yang asing dimana sejumlah wanita (terutama pada tahun 1970-an) tidak berjilbab, bercelana jeans dan merokok. Kebingungan dengan kelas perkuliahan yang bercampur-baur, hubungan yang permisif antara laki-laki dengan perempuan. Di luar kelas perkuliahan masalah tempat tinggal dan keuangan menjadi hal yang mengkhawatirkan mahasiswa terutama bagi mereka yang tidak mampu membayar fotokopi untuk materi perkuliahan dan hafalan. Sebagaimana layaknya masyarakat pedesaan yang hidup di tengah-tengah budaya perkotaan wilayah utara, para mahasiswa ini menemukan diri mereka terasing dalam benturan budaya antara derasnya modernitas dan surutnya nilai tradisional.[18]
Di tengah kekosongan ini Gama’at Islamiya hadir dengan tawaran solusi yang lebih komprehensif yang juga mencakup kebutuhan material dan juga kebutuhan spiritual. Dengan pemahaman mereka yang lebih baik mengenai kondisi masyarakat sekitar, Gama’at Islamiya mencoba langsung untuk menyelesaikan masalah tepat pada sasaran, terutama untuk mahasiswa yang berasal dari budaya tradisional di Mesir Selatan. Gama’at Islamiya menawarkan retorika dengan bahasa-bahasa yang populis, mereka mencoba untuk menguatkan identitas Islam mereka dengan memprioritaskan kalangan mahasiswa yang lemah dalam segi finansial serta mencoba menjawab kebutuhan jasmani dan ruhani dari para mahasiswa. Melalui program-program yang terkoordinasi dengan baik mereka menampilkan karakter kesalehan dan kesederhanaan.
Dengan menyediakan sensitivitas keislaman dan kebersamaan,Gama’at Islamiya mencoba untuk mengarahkan kembali disorientasi yang dirasakan oleh mahasiswa baru dalam kehidupan perkuliahan. Sense kolektifitas dari keterikatan sosial ini menjelaskan  tentang popularitas yang didapatkan oleh Gama’at Islamiya, yaitu dengan menyediakan “zona nyaman” dari sebuah perlawanan atas nama nilai-nilai tradisional terhadap otoritas negara. Kelompok Islam dapat menyentuh individu sebagai identitas budaya dalam sebuah cara yang kelompok Marxisme dan Nasserisme tidak dapat melakukannya. Dengan menyentuh nilai-nilai dasar seperti tradisi dan budaya, Gama’at Islamiya dapat mengubah sekumpulan mahasiswa muda “terasing” yang berhadapan dengan kehidupan modernitas hari ini, menjadi kumpulan aktivis-aktivis Islam di universitas-universitas.[19]
Dengan melakukan pemenuhan akan kebutuhan material dan ruhani dari para mahasiswa membuat Gama’at Islamiya dapat membangun dukungan basis lokal untuk semakin memperkuat pengaruh mereka. Dukungan pendanaan dan akses dari pemerintah semakin memperkuat jangkauan pengaruh mereka. Universitas-terutama kampus-kampus yang didanai di Mesir Atas seperti daerah Assyut, bertransformasi menjadi semacam  “Area Islam” dimana terbangunnya penerapan hukum Islam walaupun terbatas. Dalam masyarakat tandingan ini kehadiran sinema, konser musik, klub dansa, pagelaran seni semuanya dilarang.
Rezim pemerintahan Sadat mulai menyadari ancaman dari kekuatan pengaruh Gama’at Islamiya yang terus meningkat. Menyusul adanya demonstrasi mahasiswa terhadap rezim akibat perjanjian damai yang dilakukan Mesir dengan Israel, walaupuin ada pengaruh rezim di kampus-kampus, tetapi Gama’at Islamiya telah tumbuh menjadi aktor politik yang independen. Kritik mahasiswa terhadap kebijakan luar negeri Sadat, lebih disuarakan daripada kritik terhadap kebijakan dalam negeri dan ekonomi. Rezim Sadat mendapatkan dirinya mendapatkan serangan ganda, di satu sisi oleh gerakan mahasiswa kiri dan di sisi lain oleh gerakan mahasiswa Islam.
Terganggu atas kritik mahasiswa akan kebijakannya, Sadat mengeluarkan pernyataan bahwa kelompok mahasiswa bergerak atas perintah dari kekuatan asing dan mendapatkan suntikan dana asing terhadap aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan. Selanjutnya Sadat melakukan pembredelan terhadap gerakan mahasiswa, membekukan asset-asetnya dan hanya mengizinkan lembaga mahasiswa untuk beraktivitas dibawah pengawasan yang ketat dari fakultas. Dengan demikian rezim pemerintah telah sukses untuk mengendalikan aktivitas politik mahasiswa, walaupun masih belum mampu untuk melarang aktivitas-aktivtas sosial mereka atau mengurangi popularitas mereka di universitas.[20]
Kritik yang dilancarkan oleh kelompok Islam membuat Sadat membatasi kebebasan dan mengubah sikapnya terhadap Al-Ikhwan Al-Muslimun. Kritik yang dikeluarkan oleh Gama’at Islamiya mengenai kebijakan  Infitah menjadikan Sadat mengalami “dilemma of legitimacy”, menggambarkan hasil yang didapatkan ketika rezim membiarkan kebebasan sosial dalam konteks otoritarianisme. Pada September 1981, Anwar Sadat menahan banyak dari pimpinan Al-Ikhwan Al-Muslimun dan melarang kembali penerbitan dari majalah Ad Da’wa.[21]
Pembredelan ini tidak berpengaruh signifikan pada mahasiswa-mahasiswa Ikhwan di kampus-kampus. Ketika rezim pemerintah mampu untuk melakukan pelarangan aktivitas-aktivitas politik, Ikhwan dapat menjustifikasi pertemuan-pertemuan mereka sebagai aktivitas keagamaan. Gama’at Islamiya mencoba untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mempengaruhi kebijakan di universitas. Pengaruh mereka dalam kebijakan kampus menghasilkan sejumlah reformasi tertentu seperti peraturan “halal food” di seluruh kantin dan kafetaria universitas maupun menghadirkan pembicara-pembicara berorientasi Islam ke dalam agenda-agenda kampus.[22]
Perjanjian Camp David pada September 1978 juga menimbulkan reaksi keras dari kelompok Islam dan memotivasi Sadat untuk mengurangi toleransinya terhadap aktivitas oposisi. Sesuai dengan opini publik yang berkembang, kelompok Islam menolak perjanjian damai kepada Israel yang ditawarkan oleh Sadat. Para pimpinan kelompok radikal muncul sebagai sebagai kritikus paling tajam di universitas, memojokkan kelompok Islam moderat. Perubahan ideologi seperti ini di dalam kelompok-kelompok mahasiswa Islam di universitas menjadikan rezim Sadat untuk menarik dukungannya kepada aktivitas-aktivitas keislaman di kampus-kampus dan menarik dukungan finansial kepada lembaga-lembaga mahasiswa termasuk diantaranya Gama’at Islamiya.


[1] Charles Robert Davidson, Political Violence In Egypt: A Case Study Of The Islamist Insurgency 1992-1997, The Fletcher School of Law and Diplomacy, 2005, hal 243
[2] Ibid, hal 243
[3] Ibid, hal 243
[4] Gilles Kepel, The Brotherhood In The Salafist Universe, Current Trend In Islamist Ideology Volume 6, Hudson Institute, 2008, Hal 22
[5] Ibid, Hal 22
[6] Stephen Robinson, Political Process Model of Hybridization : The Muslim Brotherhood and the Free Officers’ Legacy, 2011, hal 44
[7] Ibid, hal 44
[8] Ibid, hal 45
[9] Charles Robert Davidson, op.cit., hal 244
[10] Ibid, hal 244
[11] Ibid, hal 245
[12] Carrie Rosefsky Wickham, op.cit., Hal 124
[13] Richard Paul Mithcell, op.cit., Hal 244
[14] Stephen Robinson, op.cit, Hal 45
[15] Charles Robert Davidson, op.cit, hal 246
[16] Carrie Rosefsky Wickham, op.cit., Hal 124
[17] Charles Robert Davidson, op.cit, hal 245
[18] Ibid, hal 247
[19] Ibid, hal 248
[20] Ibid, hal 249
[21] Stephen Robinson, op.cit., Hal 50
[22] Ibid, Hal 50