Hasan Al Banna, Pendiri dan Mursyid Am Pertama Ikhwanul Muslimun
Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM
 Yogyakarta, 20 April 2011

Gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun didirikan oleh Hasan Al-Banna, seorang guru madrasah Islam, bersama dengan enam orang buruh dan pekerja di kota Isma’iliyya dekat Terusan Suez pada bulan Maret 1928. Gerakan ini pada awalnya tidak memiliki pengaruh sosial-politik yang begitu besar, pada tiga tahun pertama aktivitas kegiatan dari gerakan ini berpusat di Isma’iliyya, yang perlahan kemudian membesar diakibatkan pengaruh kharismatik dari Hasan Al-Banna yang semakin memperluas fragmentasi rekrutmen keanggotaan dari gerakan Ikhwan di sekitar wilayah Isma’iliyya. Pada tahun 1932, Hasan Al Banna memutuskan untuk memindahkan pusat pergerakkannya ke pusat ibukota Mesir yaitu Kairo.[1]

Gerakan Al Ikhwan Al Muslimun dibangun oleh Hasan Al Banna tidak lama setelah kejatuhan kekhalifahan Turki Ustmaniyah pada tahun 1924. Hasan Al Banna dengan cermat mendefinisikan Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan persepsi Islam yang komprehensif, “Islam adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, peradaban dan undang-undang serta jihad dan dakwah”. Pemikiran Hasan Al Banna ini diwujudkan dalam aktivitas-aktivitas sosial politik yang dilakukan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang terus mewarnai sejarah politik Mesir dan Timur Tengah pada abad 20 sampai dengan saat ini. Prinsip-prinsip dasar Al-Ikhwan Al-Muslimun dapat disimpulkan dengan : 1. Membentuk individu-individu muslim, 2. Membentuk keluarga-keluarga muslim, 3. Membentuk masyarakat muslim, 4. Membebaskan negeri-negeri muslim, 5. Memperbaiki pemerintahan, 6. Menegakkan eksistensi kenegaraan, 7. Membentuk sokoguru peradaban Islam internasional.[2]

Gerakan Al-Ikhwan kemudian menyempurnakan perpindahannya dengan melakukan merger dan penyatuan dengan organisasi Islam serupa yang memiliki basis massa di Kairo. Setelah setahun di Kairo, gerakan Ikhwan melakukan penerbitan suratkabar dan melakukan muktamar (kongres nasional) pertamanya. Sementara itu perkembangan keanggotaan organisasi menunjukkan hal yang signifikan, gerakan Ikhwan telah melebarkan sayap organisasi dengan memiliki lima cabang pada tahun 1930, lima belas cabang pada tahun 1932, tiga ratus cabang pada tahun 1938 dan diperkirakan antara 1,700 sampai 2,000 cabang pada tahun 1948. Jumlah anggota dan kader Ikhwan tidak diketahui dengan pasti, dengan keberadaan tiga ratus cabang organisasi diperkirakan gerakan Ikhwan memiliki 50,000 sampai dengan 150,000 orang anggota pada tahun 1938 (Mitchell : 1969). Sedangkan perhitungan lain memperkirakan gerakan Ikhwan memiliki 1 juta orang anggota dan simpatisan pada tahun 1948 (Zollner : 2002).[3] 

Pada tahun-tahun pertama ini gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun tampil dengan bentuk organisasi keagamaan, sosial dan kemasyarakatan. Ikhwan memfokuskan gerak organisasinya pada perluasan rekrutmen keanggotaan, diskusi-diskusi mengenai dakwah, perbaikan moral dan keagamaan masyarakat dan juga menjadi organisasi yang melakukan pelayanan sosial pada masyarakat. Aktivitas-aktivitas Ikhwan mulai memasuki ranah politik pada akhir tahun 1930-an.

Penyebab utama dari perubahan perilaku gerakan Ikhwan adalah isu Palestina yang mulai berkembang pada tahun-tahun itu. Dimana negara-negara Arab melakukan serangan umum untuk membebaskan Palestina dari pengaruh negara Barat dan komunitas Yahudi yang berupaya membentuk negara Yahudi di sana. Gerakan Ikhwan menyediakan dukungan yang besar untuk operasi militer tersebut, mencoba untuk menyebarkan isu Palestina di kalangan masyarakat Mesir dan melakukan penggalangan dana untuk medukung isu tersebut.

Pada saat yang bersamaan, penerbitan suratkabar Al-Ikhwan secara efektif menjadi sarana kritik terhadap rezim politik yang sedang berkuasa di Mesir, terutama terhadap kekuasaan kolonial Inggris yang memegang kendali atas negeri Mesir. Gerakan Ikhwan untuk pertama kalinya mencoba untuk masuk ke dalam arena politik praktis ketika mengajukan kandidat pada pemilihan umum legislatif pada tahun 1941.

Al-Ikhwan Al-Muslimun kemudian menggalang aksi-aksi massa dan demonstrasi, menuntut adanya reformasi sosial dan penarikan mundur tentara kolonial Inggris dari wilayah Mesir. Otoritas militer Inggris memerintahkan Hasan Al-Banna untuk pergi meninggalkan Kairo pada Mei 1941. Pada bulan Oktober 1941, Hasan Al-Banna dan para pimpinan Al-Ikhwan Al-Muslimun lainnya ditangkap dan dipenjarakan, dan aktivitas-aktivitas organisasi Ikhwan dilarang oleh pemerintah setelah aksi demontasi menentang pendudukan Inggris.

Tekanan pemerintah terhadap Al-Ikhwan Al-Muslimun tidak berlangsung lama, rezim pemerintah sedang berhadapan dengan ancaman besar Perang Dunia II dan tidak terlalu pusing dengan “ancaman kecil” gerakan reformasi keagamaan seperti Al-Ikhwan Al-Muslimun. Aktivitas-aktivitas pertemuan Ikhwan kembali diperbolehkan, para elite pemimpinnya dibebaskan dari penjara, dan kemudian jumlah anggota yang mengikuti organisasi Ikhwan semakin berkembang dengan sangat cepat. Al-Ikhwan Al-Muslimun kemudian menerbitkan sejumlah majalah dan surat kabar baru selama dua tahun ke depan dan semakin meningkatkan frekuensi gerakan mereka dalam aksi massa dan demonstrasi.

Ikhwan kemudian membentuk sebuah unit khusus yang kemudian akan dikenal sebagai “biro rahasia”, sayap paramiliter dari organisasi yang memiliki prinsip dasar untuk melindungi para elite pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun dan untuk tujuan-tujuan militer jangka panjang organisasi. Pada tahun 1949, gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun telah memperbesar kapasitas organisasinya dengan sejumlah 2,000 cabang di seluruh Mesir dan sekitar 300,000 sampai dengan 600,000 anggota aktif, menjadikannya sebagai organisasi masyarakat terbesar di Mesir.[4]


[1] Ziad Munson, Islamic Mobilization : Social Movement Theory and the Egyptian Moslem Broterhood, The Sociological Quarterly, Vol. 42 No.4, Department of Sociology, Harvard University, 2001, Hal 4
[2] Muhammad Abdullah Al Khatib, Muhammad Abdul Halim Hamid, “Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan : Kajian Analitik Terhadap Risalah Ta’lim”, Asy Syaamil Press & Grafika : Bandung, 2001, Hal 114-118
[3] Ziad Munson, op.cit., Hal 4
[4] Ibid, Hal 5