![]() |
| Personel “Perwira Bebas” Aktor dibalik Revolusi 1952 |
Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM
Yogyakarta , 24 April 2011
Untuk melihat bagaimana awal mula hubungan Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan Gamal Abdul Nasser maka latar belakang sejarah Revolusi Mesir 1952 menjadi sangat penting untuk diangkat dalam penelitian ini. Al-Ikhwan Al-Muslimun tercatat sebagai salah satu organisasi politik yang terlibat dalam peristiwa penggulingan kekuasaan monarki terakhir di Mesir tersebut. Ikhwan bekerjasama dengan elemen “Perwira Bebas” (Free Officers), sejumlah elite menengah militer, yang menjadi aktor utama dalam peristiwa revolusi 1952. Pada awalnya Hasan Al Banna, Mursyid Am Ikhwan yang pertama, melakukan kontak dengan sejumlah perwira militer. Perkembangan menunjukkan kontak ini menyentuh beberapa tokoh militer yang kemudian akan melibatkan Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan sebuah rencana revolusi yang tengah digagas oleh sejumlah elemen dalam tubuh militer Mesir.
Kontak pertama Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan para perwira militer dimulai pada tahun 1940, melalui sosok Anwar Sadat, seorang anggota junta militer. Kontak tersebut melahirkan kontak lain antara Sadat dengan Aziz Al-Misri, mantan Panglima Angkatan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir yang sudah berstatus sebagai tentara purnawirawan. Kontak tersebut juga berhasil menghubungkan Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan Abdul Mun’im Abdul Rauf, perantara yang menggantikan peran Anwar Sadat dalam menghubungkan opsir militer dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Abdul Rauf adalah anggota dewan tertinggi Perwira Bebas dan menjadi pendukung utama pengaruh Al-Ikhwan Al-Muslimun di organisasi militer tersebut.
Dalam merekrut para perwira militer Mesir agar menjadi anggota Ikhwan, Abdul Rauf dibantu oleh Mahmud Labib, seorang purnawirawan militer. Labib mengundurkan diri dari militer pada tahun 1936 setelah kiprahnya dalam operasi militer Mesir di Sudan. Kemudian ia diketahui bekerjasama dengan Hasan Al-Banna sejak awal 1941. Ia menjadi penasihat Hasan Al-Banna dalam aktivitas kepanduan (unit organisasi yang bergerak dalam aspek keamanan dan paramiliter) Al-Ikhwan Al-Muslimun sampai tahun 1947, kemudian ia diangkat menjadi deputi militer Ikhwan dan dikirim ke Palestina untuk membantu melatih dan merekrut sukarelawan di sana. Dalam perang Palestina, Mahmud Labib menjadi kepala teknis “divisi sukarelawan” dan wakil Hassan Al-Banna dalam masalah perang. Kontak Labib yang paling penting dengan dengan Perwira Bebas dilakukan pada tahun 1944 dengan tokoh militer Gamal Abdul Nasser.
Kedekatan hubungan Gamal Abdul Nasser dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun diikuti oleh perwira-perwira lain dalam tubuh militer diantaranya adalah Rasyad Muhanna, Kamaluddin Husain dan Husain Asy-Syafi’i. Dalam proses perekrutan perwira militer, Abdul Mun’im Abdul Rauf tetap menjadi figur penting. Abdul Rauf membawa para perwira yang berhasil direkrut kepada Mahmud Labib untuk “diinjeksi dan diindoktrinasi dengan prinsip-prinsip Ikhwan”, kemudian disusul dengan pengambilan sumpah di sebuah ruangan gelap demi “mengamankan” kesetiaan para perwira militer terhadap Al-Ikhwan Al-Muslimun. Sumpah yang mereka ikrarkan menandakan akses mereka ke dalam tubuh biro rahasia Al-Ikhwan Al-Muslimun.[1]
Dalam perang Palestina, hubungan antara Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan Perwira Bebas berkaitan dengan suplai persenjataan dan pelatihan militer untuk para sukarelawan. Dalam operasi militer ini Gamal Abdul Nasser menjadi figur utama sebagaimana Kamaluddin Husain yang mewakili barisan sukarelawan. Kedekatan hubungan Ikhwan dengan militer semakin menguat pada operasi ini, bagi perwira militer peran aktif sukarelawan Ikhwan di Palestina dan kesiapan mereka bertempur sampai mati berhasil menimbulkan sikap simpati. Setelah revolusi, junta militer memasukkan sukarelawan Al-Ikhwan Al-Muslimun dalam “Pemakaman Palestina” sebuah monumen yang memasukkan daftar para sukarelawan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang gugur dalam perang Palestina.
Pada bulan Desember 1950, gerakan Perwira Bebas terbuka kedoknya dan sebagian dari mereka ditangkap sebelum pemberitaan resmi tentang “intervensi mereka dalam masalah politik”. Komandan pasukan Mesir di Palestina, Fuad Sadiq, orang yang direncanakan menjadi panglima revolusi, menjadi sasaran tuduhan dan hampir diajukan ke pengadilan. Pada akhir 1950, Raja Farouk diduga menerima laporan bahwa 33 persen dari perwira miter mempunyai hubungan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Hampir terungkapnya rencana para perwira militer menyebabkan hubungan Al-Ikhwan Al-Muslimun dan Perwira Bebas semakin dekat. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, Gamal Abdul Nasser merencanakan penyelundupan senjata yang disembunyikan di rumah milik Muhammad Al-Asymawi, ayah dari Hasan Asymawi, teman dekat Nasser di organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun.
Pertanyaan yang kemudian kita ajukan adalah mengapa Al-Ikhwan Al-Muslimun mau terlibat dan mendukung revolusi yang dijalankan oleh militer tersebut? Pertanyaan ini akan terjawab ketika melihat latar belakang yang menyebabkan Revolusi 1952 bisa dilihat dari kondisi sosial-politik Mesir saat itu. Kekuasaan Monarki Absolut Raja Farouk hanya menjadi pemerintahan boneka yang selalu melindungi kekuasaan kolonial Inggris yang telah lama berada di Mesir. Raja Farouk tidak bisa bersikap tegas pada pendudukan asing pasukan Inggris yang masih bercokol di Zona Terusan.[2] Pada titik inilah Al-Ikhwan Al-Muslimun memiliki raison d’etre untuk mendukung upaya penggulingan kekuasaan yang korup.
Hubungan antara Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan Perwira Bebas menjadi semakin intens pada waktu-waktu menjelang pelaksanaan rencana revolusi. Hal ini ditandai dengan munculnya tiga nama sebagai perantara Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan Perwira Bebas yang menyampaikan bahwa revolusi membutuhkan dukungan Ikhwan dan sudah dekat waktunya. Nama pertama adalah Shalah Syadi, anggota senior kepolisian Mesir yang menjadi anggota Al-Ikhwan Al-Muslimun dan teman dekat Nasser serta pendukung Hudhaibi. Nama kedua adalah Hasan Al-Asymawi, yang juga teman dekat Nasser maupun Hudhaibi, dan menjadi penadah persenjataan yang disembunyikan di rumah ayahnya pada tahun 1950. Nama ketiga adalah Abdurrahman As-Sanadi, kepala biro rahasia Al-Ikhwan Al-Muslimun dan teman dekat Nasser.
Pembakaran pada tanggal 26 Januari 1952 merupakan titik tolak perubahan rencana para Perwira Bebas. Revolusi yang direncanakan akan dilakukan pada tanggal 25 Maret diundur dan baru dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 1952, setelah upaya istana yang gagal untuk memenangkan orang pilihannya menjadi Kepala Perhimpunan Perwira. Sikap resmi organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun ketika itu terhadap Revolusi 1952 dapat dilihat dari tindakan Hasan Al-Hudhaibi, Mursyid Am Kedua Ikhwan, yang tidak memberikan pernyataan sikap apapun mengenai peristiwa revolusi. Richard Paul Mitchell menilai sikap yang diambil oleh Hudhaibi tersebut merupakan sikap kehati-hatian karena perencanaan dan situasi yang mengitari pemberontakan (revolusi) Perwira Bebas telah dibebankan “di atas punggung Ikhwan” dengan kata lain Al-Ikhwan Al-Muslimun telah dijadikan sebagai kendaraan revolusi.[3]
Al-Ikhwan Al-Muslimun memiliki peranan signifikan dalam proses revolusi tersebut. Al-Ikhwan Al-Muslimun melakukan berbagi tindakan politik untuk memastikan proses Revolusi Militer ini dapat berjalan sempurna. Diantaranya adalah menjaga fasilitas-fasilitas negara, melakukan agitasi politik terhadap massa untuk mendukung kudeta, menjaga stabilitas dan keamanan agar tidak terjadi kekacauan, membantu melindungi para perwira militer jika kudeta gagal, dan menghalau adanya agresi militer oleh tentara pendudukan Inggris di Zona Terusan.[4]
Dr. Muhammad Sayid Al Wakil menganalisa enam faktor yang menyebabkan Al-Ikhwan Al Muslimun mendukung revolusi ini, yaitu : Pertama, Raja Farouk mengangkat administratur kolonial Inggris dalam pemerintahan Mesir. Kedua, membekali pasukan mujahidin Mesir untuk Palestina dengan senjata yang rusak. Ketiga, Mengadakan perjanjian damai dengan Israel dan menarik mundur pasukan Mesir dari Palestina. Keempat, selama masa pemerintahannya menyebarkan pengaruh negatif kebudayaan Barat dan kerusakan moral. Kelima, Raja Farouk terlibat dalam skandal-skandal seks dan moralitas. Keenam, dianggap terlibat dan bertanggungjawab pada peristiwa pembunuhan pendiri gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun, Imam Hasan Al-Banna.[5]
Akhir dari Revolusi Militer 1952 adalah dimana gerakan Perwira Bebas akhirnya bisa mengambil alih kekuasaan politik dari pihak Istana dan naiknya Jenderal Muhammad Neguib ke pucuk kekuasaan sebagai Presiden Mesir. Raja Farouk yang telah turun tahta akhirnya melarikan diri ke luar negeri untuk mencari perlindungan dan suaka politik. Bentuk pemerintahan negara Mesir diubah yang awalnya berbentuk Monarki Absolut akhirnya berubah menjadi Republik Presidensil. Kemudian pada masa transisi pemerintahan ini kelompok Perwira Bebas mentransormasi dirinya menjadi Dewan Revolusi (Revolutionary Command Council) yang memiliki kekuasaan politik untuk mengontrol dan memerintah Mesir secara efektif. Pada titik ini pihak militer memegang kendali penuh kekuasaan di Mesir dan menjadi awal dari rezim otoritarianisme militer di Mesir
Melihat arus politik yang telah berubah dan posisi kekuasaan yang telah berpindah tangan dari Raja Farouk kepada para opsir militer Perwira Bebas pada 23 Juli 1952, Hasan Al-Hudaibi selaku Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun ketika itu, memberikan pernyataan resmi organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun yang isinya mendukung kekuasaan politik dari Dewan Revolusi (RCC) yang memegang kendali atas negara Mesir saat itu. Pernyataan terbuka Mursyid Am diterbitkan pada tanggal 28 juli 1952 dalam surat kabar Al-Ahram, dan kemudian diikuti dengan pernyataan sikap resmi organisasi Al-Ikhwan Al-Muslimun pada 1 Agustus 1952.[6]
Jika melihat peranan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang begitu signifikan dalam Revolusi Militer 1952, maka seharusnya Al-Ikhwan Al-Muslimun menjadi mitra koalisi Perwira Bebas dalam memimpin pemerintahan revolusioner Mesir. Al-Ikhwan Al-Muslimun sudah sepantasnya mendapatkan power sharing yang besar dalam porsi kekuasaan di pemerintahan baru. Tetapi apa yang terjadi? Hubungan antara Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan pemerintahan militer Dewan Revolusi (Revolutionary Command Council)[7] tidak berlangsung terlalu lama, Bulan-bulan selanjutnya menjadi masa paling kelam dalam sejarah Al-Ikhwan Al Muslimun.
Dukungan dari pihak militer yang pada awalnya membantu pelatihan bagi unit kepanduan Al-Ikhwan Al-Muslimun, terlibatnya beberapa tokoh militer dalam pembentukan biro rahasia Nizam Khas, sampai akhirnya terjadi kerjasama dan kolaborasi antara Al-Ikhwan Al-Muslimun dengan Perwira Bebas dalam Revolusi Mesir 1952. Tetapi kemudian pola hubungan ini berubah ketika pasca revolusi dan pemerintahan rezim militer telah berkuasa. Rezim militer akhirnya melihat Al-Ikhwan Al-Muslimun sebagai faktor ancaman yang berpeluang menjadi oposisi politik. Pada titik inilah hubungan Ikhwan dengan militer akhirnya memburuk. Apa yang terjadi selanjutnya adalah tekanan dari pihak militer kepada organisasi Ikhwan dan berujung kepada pemberangusan gerakan Ikhwan oleh rezim militer.
Dewan Revolusi yang saat itu dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser menghancurkan Al-Ikhwanul Al-Muslimun sampai tingkat yang tidak terbayangkan. Gamal Abdul Nasser memenjarakan Mursyid ‘Am Ikhwan, Ustadz Hasan Al Hudhaibi, memerintahkan pengrusakan dan pembakaran kantor pusat Al-Ikhwan Al-Muslimun, menangkapi dan menyiksa para aktivis Ikhwan, menyatakan Al-Ikhwan Al-Muslimun sebagi organisasi terlarang, menyita aset-aset strategis organisasi, menghukum mati tokoh-tokoh Ikhwan diantaranya adalah Syaikh Sayyid Quthb, dan menjadikan Al-Ikhwan Al-Muslimun sebagai gerakan kontra revolusioner yang menjadi lawan politik yang harus dimusnahkan dalam pemerintahan baru.
[1] Richard Paul Mithcell, “Masyarakat Al-Ikhwan Al-Muslimun : Gerakan Dakwah Al-Ikhwan Di Mata Cendekiawan Barat”, Era Intermedia : Solo, 2005, Hal 182
[5] Cahyadi Takariawan, “Al-Ikhwan Al-Muslimun : Bersama Mursyid ‘Am Kedua”, Tiga Lentera Utama : Yogyakarta, 2002, Hal 58-59
[6] Barbara H.E. Zollner, The Muslim Brotherhood : Hasan Al-Hudaybi and Ideology, London : Routledge, 2009, Hal 25
[7] Gerakan Perwira Bebas mengubah namanya menjadi Dewan Revolusi ketika sudah berhasil melakukan kudeta dan memimpin pemerintahan revolusioner
Recent Comments