Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM
Konfusianisme atau Konghuchu mulai dikenal di Cina melalui pemikiran-pemikirannya yang cemerlang yang dilontarkan pada zaman Chou Timur (770-221 SM). Konghuchu lahir pada tahun 551 SM berasal dari kota Lu, Provinsi Shandong[1]. Konfusianisme adalah humanisme, tujuan yang hendak dicapai adalah kesejahteraan manusia dalam hubungan yang harmonis dengan masyarakatnya. Kodrat manusia menurut konfusius adalah “pemberian langit”, yang berarti bahwa dalam hal tertentu ia berada di luar pilihan manusia.

Kesempurnaan manusia terletak dalam pemenuhannya sebagai manusia yang seharusnya. Tujuan manusia yang paling tinggi adalah menemukan petunjuk sentral bagi moral yang mempersatukan manusia dengan seluruh isi alam semesta. Bagi Konfusius, manusia adalah bagian dari konstitutif dai seluruh isi alam semesta. Manusia harus berhubungan secara indah dan harmonis dengan harmoni alam di luarnya.

Rakyat percaya pemerintahan surga memiliki struktur yang sama dengan pemerintahan dunia. Kalau pemerintahan dunia terdiri dari kaisar, para keluarganya, perdana menteri, menteri-menteri sipil dan militer, dan lain sebagainya, maka pemerintahan surga pun dipimpin oleh Shangdi dan dibantu para dewa-dewa baik sipil maupun militer untuk mengatur tata tertib di alam semesta ini. Sebab inilah maka para kaisar (hung-di) yang di bumi merasa perlu untuk memuja Shangdi (yang berkedudukan di atas) untuk memohon perlindungan dan berkah serta petunjuk-petunjuk untuk menjalankan roda pemerintahan di mayapada ini agar selalu selaras dengan kehendak Shangdi (Shang = di atas, di = tanah)[2].
Bagi bangsa Cina, the family was the state in miniature, the state the family writ large. Itu sebabnya Max Weber menyebut Cina sebagai “familistic state”. Penulis melihat bahwa dinasti Han yang lebih setia pada ajaran Konfusius. Menurut penulis artikel ini, akibat dari paham keluarga Cina yang ditafsirkan secara berbeda (salah) dengan apa yang dianjurkan oleh Konfusius tentang sistem keluarga 3 generasi, Cina pernah mengalami krisis karena memberlakukan sistem three tyrannies (ruler, the father, and the husband).  

Three Tyrannies kemudian berkembang menjadi the three bonds (dalam bahasa Cina, sangang). The three bonds terdiri dari: relasi rulers-ministers; fathers-sons; and husbands-wifes. Tetapi rupanya paham ini berkembang lagi menjadi the three accordances atau three services: minister melayani ruler, anak melayani bapaknya, dan istri melayani suaminya menjadi tidak resiprokal, hanya pelayanan satu arah, para pengagum three services, menganggap ini sumber dari segala keteratutan. Secara defacto, Paham three services masih sejalan dengan sistem tradisional Cina yang menekankan filial obligation dan filial piety[3].

Penulis menemukan empat aspek kunci dalam Konfusianisme yang berpengaruh dalam perilaku militer, dimana nilai- nilai Konfusianisme itu tertanam dan mengendalikan arah gerak dan perilaku. Empat aspek kunci itu adalah[4] : a) Segmentasi masyarakat, b) Sentralitas pemerintahan, c) Minimalisasi peranan individu dalam kepemilikan kolektif, d) Memiliki tujuan tertentu yang khusus.
Segmentasi masyarakat, segmentasi ini terjadi baik secara horizontal dan vertikal dari struktur tertinggi sampai struktur terendah. Struktur masyarakat terbagi atas : sang kaisar, sarjana-birokrat, seniman, pedagang dan prajurit. Dimana segmentasi ini juga dilihat dari dimensi geografis, demografis (perkotaan dan pedesaan) dan kekerabatan.
Sentralitas pemerintahan, Konfusianisme menanamkan sentralitas pemerintahan tidak hanya sebagai kekuatan dominan tetapi juga kekuatan yang membebaskan dan sebagai kekuatan yang menyatukan sosial-kultural masyarakat. Konfusianisme juga menghasilkan pandangan bahwa kelas berkuasa sebagai “kebiasan umum”  dalam nilai dan norma di masyarakat. Jika berada pada tangan yang salah pandangan ini dapat disalahgunakan untuk melegitimasi kekuasaan sosial politik yang otoriter dan tiran.
Minimalisasi peranan individu dalam kepemilikan kolektif, Konfusian menilai individu memiliki peranan dan tanggung jawab dalam posisi di masyarakat. Dalam hal ini, individu memiliki porsi untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas masyarakat. Individualisme, atau bersikap mementingkan kepentingan pribadi tidak dapat diterima secara sosial dan bertentangan dengan kepentingan masyarakat secara umum.
Memiliki tujuan tertentu yang khusus, sistem nilai Konfusianisme memiliki dua tujuan mendasar, yaitu : 1) Pendidikan diterapkan pada media formal melalui seperangkat peraturan, nilai, dan norma. 2) Pendidikan digunakan untuk mempersiapkan para cendekiawan agar dapat mengisi tugas-tugas pemerintahan.
Dengan melihat dasar-dasar nilai dari Konfusianisme, penulis menilai perilaku militer China akan sangat terpengaruh dalam konsepsi kontrol dan ketaatan terhadap pemegang kekuasaan. Militer China akan beregang pada relasi Three Bonds khususnya relasi rulers-ministers dimana militer memposisikan diri mereka sebagai ministers yang harus melayani rulers apalagi diimplementasikan dalam rezim kekuasaan komunisme yang menanamkan otoritarianisme. Militer China akan memberikan kepatuhan penuh kepada penguasa dengan doktrin yang ditanam bahwa melayani negara adalah salah satu kewajiban pertama dan tertinggi bagi aparatus negara, dimana pandangan ini dikonstruksi menjadi sebuah alat legitimasi sosial-politik rezim komunisme yang berkuasa di China.
Referensi :
Sistem Kepercayaan Orang China”, http://uun-halimah.blogspot.com, diakses pada 7 Juni 2009
Permulaan Sejarah China”, http://sejarawan.wordpress.com, diakses pada 7 Juni 2009
Bates Gill and Lonnie Henley, “China and The Revolution In Military Affairs”, http://www.milnet.com, diakses pada 7 Juni 2009


[1]Sistem Kepercayaan Orang China”, http://uun-halimah.blogspot.com , diakses pada 7 Juni 2009
[2]Sistem Kepercayaan Orang China”, http://uun-halimah.blogspot.com , diakses pada 7 Juni 2009
[3]Permulaan Sejarah China”, http://sejarawan.wordpress.com , diakses pada 7 Juni 2009
[4] Bates Gill and Lonnie Henley, “China and The Revolution In Military Affairs”,http://www.milnet.com, diakses pada 7 Juni 2009