Adhe Nuansa Wibisono, S.IP
Kajian Terorisme FISIP UI
Jakarta, Jumat 22 Maret 2013
Sumber Utama : Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003)
Rangkuman
Artikel Douglas Kellner ini mencoba untuk memberikan analisa mengenai peran media dalam mengkonstruksi opini publik Amerika Serikat dalam peristiwa 11 September. Serangan ini menjadi begitu penting dan vital dikarenakan sebagai rangkaian dari berbagai peristiwa seperti pembajakan pesawat, melakukan operasi penabrakan pesawat menyerang infrastruktur yang memiliki arti simbolik yang penting, merepresentasikan kekuatan modal global dan kekuatan militer Amerika Serikat. Serangan 11 September ini juga menyimpan pesan penting kepada publik global bahwa pertahanan Amerika Serikat dapat ditembus oleh serangan kelompok teror.[1]
Media juga memiliki peranan dalam meningkatkan intensitas psikologis publik akan peristiwa 11 September, jaringan televisi nasional kemudian menyorot berbagai peristiwa yang akan menggugah simpati publik akan peristiwa 11 September. Rekaman video ketika pesawat menubruk gedung World Trade Center, detik-detik ketika salah satu gedung runtuh dalam kobaran api dan asap, orang-orang yang berusaha lompat keluar gedung untuk menyelamatkan nyawanya, teriakan orang-orang yang histeris dan putus asa melihat tragedi keruntuhan gedung WTC, tentu saja memori-memori ini tidak akan mudah untuk dilupakan dari ingatan publik Amerika Serikat dan bahkan juga publik dunia. Siapapun yang menjadi saksi hidup dari tragedi 11 September akan mendapatkan memori kolektif yang kuat, sangat simbolik dan ikonik layaknya perisitwa pembunuhan John F. Kennedy, kematian Lady Diana, foto-foto mengenai kekejaman perang Vietnam, dan akan menjadi memori yang tidak mudah dihapuskan.[2]
Peranan penting yang dilakukan media dalam tragedi ini adalah melakukan framing issue yang kuat bahwa ini merupakan serangan militer dan kemudian harus direspon dengan serangan militer yang lebih besar. Peter Jennings dari ABC News menyatakan, “Respon militer yang harus dilakukan harus massif untuk mendapatkan hasil yang efektif”. Respon lain yang diberikan seperti pernyataan NBC News yang menyarankan tindakan militer seharusnya diambil oleh pemerintah untuk membalas serangan ini. Hal lain yang dilakukan adalah seperti CNN yang memberikan penegasan dalam setiap breaking news mengenai 11 September dengan caption “Attack On America” atau slogan-slogan agresif yang digunakan dalam setiap beritanya.[3]
Dari sisi rezim pemerintahan Bush kita juga dapat menganalisa berbagai hal yang bisa dilihat sebaagai upaya untuk melakukan framing issue dalam 11 September. Penyebutan “evil” kepada kelompok teror Al Qaeda, dan melakukan penyebutan kata ini berulang kali dalam setiap pernyataan publiknya yang disiarkan melalui jaringan berita televisi. Bush mencoba untuk membingkai konflik ini sebagai peperangan antara kebaikan dan kejahatan dan memposisikan Amerika Serikat sebagai “pahlawan yang akan mengalahkan semua kejahatan di dunia ini”, “mengusir, mengejar orang-orang jahat, orang-orang barbar itu”. Bush juga menggunakan istilah-istilah seperti “Bin Laden Dead Or Alive” dan mengkampanyekan perang melawan terorisme ini sebagai perang Salib.[4]
Apa yang terjadi di media televisi juga terjadi di pemberitaan radio. Siaran-siaran di radio berubah menjadi sangat propagandis dan meningkatkan histeria dan kemarahan publik. Ditandai dengan adanya siaran yang menyebarkan kebencian terhadap orang Arab dan orang Islam, munculnya tuntutatn akan penggunaan senjata nuklir dan peperangan global terhadap Islam. Fenomena ini bahkan menyebar juga kepada radio mainstream yang menjadi dramatik dengan pengulangan lagu-lagu nasional Amerika Serikat, slogan-slogan patriotisme dan propaganda-propaganda perang.[5]
Media-media di Amerika Serikat mengalami gejala kecanduan perang pasca peristiwa 11 September ini dan munculnya gejala patriotisme yang berlebihan, sesuatu yang hilang sejak Perang Dunia II. Media kemudian melakukan framing ulang mengenai posisi politik Amerika yang tadinya “America under Attack” kemudian berubah menjadi “America Arising”, “America Strikes Back” dan “America’s New War” bahkan sebelum adanya keputusan mengenai operasi militer, media telah terlebih dahulu mempropagandakan tindakan perang kepada publik.[6]
Rezim pemerintahan Bush juga melakukan sensor dan tekanan kepada pihak-pihak yang mengeluarkan kritik terhadap kebijakan perang yang diambil oleh Bush. Kolumnis Oregon Daily Courier, Dan Gutherie, mengaku jika dia dipecat dikarenaka tulisannya pada artikel “hiding in a Nebraska hole” yang berisikan kritik terhadap kebijakan pasca 11 September. Pada kasus lain ada Tom Gutting, editor dari Texas City Sun, yang dipecat karena mengkritik perilaku dan respon Bush pada hari terjadinya seranagan 11 September. Dalam dunia akademik kita menemukan kasus konflik antara Larry Faulkner dari University Of Texas dengan aktivis jurnalisme Bob Jensen, dikarenakan kritik Jensen atas kebijakan perang Bush. Belum lagi intervensi yang dilakukan Lynne Cheney, istri dari wakil presiden AS saat itu, yang melakukan serangkaian intervensi kepada aktivis dan akademisi yang mengkritik kebijakan perang rezim Bush.[7]
Analisa dan Kesimpulan
Pada artikel yang dipaparkan oleh Douglas Kellner ini kita dapat melihat bagaimana media memberikan peran penting dalam mendukung satu kebijakan politik yang dikeluarkan oleh suatu rezim pemerintahan. Dalam kasus 11 September ini kita dapat melihat bahwa media di Amerika Serikat dapat melakukan pembentukan opini, framing issue, dan propaganda perang. Pembentukan opini dalam peristiwa 11 September ditanda dengan adanya slogan-slogan “America Under Attack” “America On War” dimana publik dikonstruk bahwa negara sedang mengalami serangan, negara sedang dalam kondisi berbahaya. Pembentukan opini juga dilakukan dengan adanya upaya untuk melakukan serangan balasan yang lebih besar, adanya opini akan operasi militer kepada kelompok teror dan negara-negara yang mendukung atau melindungi kelompok teror tersebut.
Framing issue yang terlihat tegas adalah ketika media secara berulang-ulang memperkuat identitas antara Amerik Serikat dengan musuh-musuhnya. Istilah “evil” yang disematkan kepada kelompom teroris dapat dilihat sebagai upaya framing issue yang dikuatkan oleh jaringan media untuk menegaskan framing yang dikeluarkan oleh rezim Bush kepada kelompok teror. Kemudian juga media menjadi alat propaganda perang yang dominan dan digunakan oleh rezim Bush sebagai alat kontrol untuk mempengaruhi persepsi publik Amerika Serikat atas justifikasi kebijakan perang yang diambil. Ketika mulai muncul pertanyaan mengenai korban sipil yang jatuh dalam serangan Amerika Serikat ke Afghanistan dan Iraq, media memainkan peranan penting untuk terus menjaga memori korban sipil pada serangan 11 September, sehingga muncul persepsi bahwa jatuhnya korban sipil di Afghanistan dan Iraq sebagai balasan atas korban sipil di 11 September.
Dari sini saya kemudian menilai bahwa media memainkan peranan penting dalam mendukung kebijakan politik suatu rezim, pada akhirnya media digunakan sebagai ideological apparatus, meminjam bahasa Louis Althusser, dimana media hanya dijadikan sebagai alat, sebagai aparat untuk menjaga kepentingan dan stabilitas dari rezim berkuasa. Posisi media pada peristiwa 11 September juga meruntuhkan argumen mengenai prinsip-prinsip impartial, cover both side dan independensi media. Artikel ini dengan jelas memperlihatkan bahwa media hanyalah merupakan kepanjangan tangan dari kepentingan rezim, atau sebuah titik kompromistis antara pemilik modal dengan rezim penguasa, ini kesimpulan yang saya dapatkan dari artikel ini.
Referensi
Kellner, Douglas, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003)
[1] Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003), hal 53
[2] Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003), hal 54
[3] Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003), hal 57
[4] Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003), hal 58
[5] Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003), hal 65
[6] Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003), hal 66
[7] Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003), hal 68
Recent Comments