Kajian Terorisme FISIP UI
Pusat Studi HAM UII
Jakarta, Selasa 27 November 2012
Latar Belakang
Dalam satu artikelnya yang berjudul “China’s Unpeaceful Rise”, John J. Mearsheimer mengawalinya dengan satu monolog, “Can China rise peacefully? My answer is no. If China continues its impressive economic growth over the next few decades, the United States and China are likely to engange in an intense security competition with considerable potential for war”[1]. Berkaca dari pernyataan tersebut kita dapat melihat bahwa peningkatan kapasitas militer China di kawasan Asia menjadi perhatian banyak kalangan terutama Amerika Serikat yang melihat China sebagai ancaman baru bagi dominasi Amerika Serikat di kawasan Asia. Mearsheimer menegaskan bahwa jika Amerika Serikat tidak merespon peningkatan kekuatan militer China di kawasan Asia, maka dinamika keduanya akan berpotensi untuk menimbulkan perang. Anggaran belanja militer China yang terus meningkat beberapa tahun terakhir juga menimbulkan banyak pertanyaan di berbagai pihak, apa yang sedang dilakukan China dengan anggaran belanja militer yang terus meningkat.
Pada tahun 2000 anggaran belanja militer China berjumlah sebesar 30 juta US Dollar yang kemudian meningkat tajam menjadi 120 juta US Dollar pada tahun 2010[2], hal ini cukup menjadi perhatian karena anggaran belanja militer China adalah anggaran belanja militer terbesar ke dua di dunia setelah anggaran belanja militer Amerika Serikat. China juga melakukan modernisasi peralatan militer yang dimilikinya dalam beberapa tahun terakhir. China melakukan pembelian sejumlah tank, pesawat terbang, rudal balistik, pengembangan teknologi nuklir dari Rusia, selain itu China juga mengembangkan teknologi militer mandiri yang meliputi pengembangan kapal induk Liaoning[3], kapal perang, rudal, teknologi nuklir. Hal lain yang bisa dicermati adalah kuantitas militer pasukan China yang sangat besar, berjumlah sekitar 2,28 juta orang untuk pasukan militer aktif dan 800 ribu orang untuk komponen pasukan cadangan.[4]Tentu saja peningkatan kapasitas militer ini menimbulkan pertanyaan bagi negara-negara lain terutama Amerika Serikat, terkait dengan intensi politik China di balik peningkatan anggaran belanja militer yang begitu besar dalam 10 tahun terakhir?
Tidak hanya berhenti sampai disana kemudian China juga melakukan pengembangan teknologi militer terbaru seperti pengembangan sejumlah kapal perang, pesawat dan misil balistik. Kapal selam terbaru yang dikembangkan oleh China adalah kapal perang Type 052D yang memiliki 64 rudal yang siap ditembakkan dalam serangan udara, serangan laut dan serangan darat. China juga disebut memiliki kekuatan militer perairan terbesar di kawasan Asia dengan sekitar 50 kapal perang, 50 kapal amfibi, 1 kapal induk dan sekitar 85 kapal peluncur yang disertai dengan misil.[5]Selain itu juga China telah melakukan peluncuran kapal induk Liaoning yang memungkinkan sebagai landasan pacu bagi pesawat-pesawat militer China yang akan diterbangkan atau didaratkan kembali dalam sebuah operasi militer di tengah lautan lepas. Kapal induk Liaoning ini dapat memuat sekitar 50 pesawat terbang dan helikopter sekaligus, memiliki panjang sekitar 300 meter, kecepatan sekitar 32 knot dan dilengkapi dengan misil dan rocket launcher. [6]China memiliki pesawat jet-fighter diantaraya adalah pesawat jet fighter J-15, J-16, J-20 dan J-31 yang dilengkapi dengan misil udara jarak dekat dan jarak jauh. Kemudian China juga terus melakukan pengembangan uji coba rudal balistik, yang terbaru adalah rudal balistik Dongfeng-41 yang memiliki daya jangkau sejauh 14,000 km yang kemungkinan dilengkapi dengan nuclear warheads.[7]
Meminjam perspektif Mearsheimer, China adalah salah satu negara great powers yang memiliki potensi untuk menjadi hegemon di kawasan Asia. Sebagai negara great powers apa yang dilakukan China adalah untuk bisa bertahan dalam sistem internasional yang anarki, yang tidak memiliki otoritas tertinggi yang dapat menerapkan hukuman kepada negara-negara agresor[8]. Sehingga setiap negara harus berpikir dalam kerangka membantu dirinya sendiri agar tidak menjadi korban agresi negara lain dalam sistem internasional yang anarkis seperti ini. Kemudian Mearsheimer mengatakan bahwa negara-negara itu memiliki kapabilitas militer yang ofensif, dalam arti lain memiliki pasukan militer dan persenjataan yang memungkinkannya untuk menyerang negara lain. Dalam konteks China kita akan melihat terdapat negara-negara yang memiliki kapabilitas militer besar yang menjadi negara tetangga atau berdekatan lokasi geografisnya dengan China, yaitu : Rusia, Jepang, Korea Selatan dan India. Sehingga kebutuhan akan kapabilitas militer menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap negara, termasuk China dalam mengantisipasi kemungkinan diserang oleh negara lainnya.[9]
Selain itu Mearsheimer mengatakan bahwa setiap negara tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan menjadi keinginan-keinginan politik (intensi) dari negara lain, apakah mereka akan menawarkan kerjasama atau mereka akan melakukan agresi militer dalam waktu 5-10 tahun ke depan[10], tidak ada yang bisa memastikan hal tersebut. Dalam konteks regional China tidak mengetahui dengan pasti apa yang menjadi intensi politik dari negara-negara tetangga dengan kapabilitas militer yang besar seperti Rusia, Jepang, Pakistan, dan India. Dalam konteks global, China akan melihat Amerika Serikat sebagai negara satu-satunya yang mampu menjadi hegemon di tingkat regional Pasifik dan Eropa, bahkan mungkin menjadi hegemon paling dominan di tingkat global. China juga tidak mengetahui dengan pasti apa yang menjadi intensi politik Amerika Serikat kepada China begitu pula sebaliknya.
Sehingga dalam kondisi sistem internasional yang demikian anarkis, tidak jelas dan sangat kompetitif, setiap negara berupaya untuk menjadi hegemon, terutama dalam ruang lingkup regional. Seperti yang dikatakan Mearsheimer bahwa satu-satunya tujuan utama bagi setiap great powers adalah untuk mempertahankan eksistensi dirinya (survival), dan cara terbaik untuk mendapatkan survival tersebut adalah dengan cara terus menerus meningkatkan kapabilitas militer, sehingga negara great powers itu kemudian menjadi hegemon di tingkat regional[11]. China sebagai salah satu negara yang memiliki kapabilitas militer paling besar di Asia, dengan anggaran belanja militer dan jumlah personel militer yang besar, memiliki potensi untuk menjadi negara great powers yang menjadi hegemon di kawasan Asia Timur. Dalam perspektif yang ditawarkan oleh Mearsheimer, penulis berasumsi melihat bahwa China mencoba untuk menjadi hegemon di Asia Timur, untuk mempertahankan eksistensi politiknya agar dapat survive dalam level regional. Penulisan makalah ini kemudian mencoba untuk melihat China sebagai satu negara great powers di kawasan Asia yang berpotensi menjadi hegemon dalam tingkat regional. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana cara China dalam mewujudkan usahanya sebagai negara hegemon di kawasan Asia?
Rumusan Masalah
Bagaimana China melakukan penerapan prinsip-prinsip realismeofensif John Mearsheimer dalam usahanya untuk menjadi negara hegemon di kawasan Asia?
Basis Teori Realisme Ofensif Mearsheimer
Pada awalnya John Mearsheimer berpendapat bahwa sistem internasional dilihat dalam bentuk yang anarki, yaitu tidak adanya otoritas tertingi yang mampu untuk menerapkan aturan-aturan dan menghukum negara-negara agresor. Ketidakjelasan dari intensi politik diantara berbagai negara dan kemungkinan adanya tindakan militer ofensif, membuat negara-negara curiga dan takut antara satu dengan lainnya dan kemudian memunculkan mekanisme self-help yang akan menjamin keamanan mereka masing-masing. Untuk merespon rasa takut akan adanya agresi dari negara lain kemudian negara mencari cara untuk meningkatkan kapasitas power yang mereka miliki, terutama kapabilitas militer. Mearsheimer berpendapat, “Setiap negara mencari peluang untuk menyeimbangkan kekuatan dengan negara lainnya dengan cara meningkatkan anggaran belanja militer seperti yang dilakukan negara rivalnya”[12]. Mearsheimer juga mengatakan, “semakin besar keunggulan militer yang dimiliki suatu negara terhadap lainnya, maka dia akan semakin aman”. Negara meningkatkan kapasitas militernya untuk mengurangi ancaman dari negara lain pada sebuah sistem yang hegemonik, dimana menjadi satu-satunya negara great powers sebagai tujuan puncaknya.[13]
Mearsheimer melihat struktur anarki dalam sistem internasional yang membuat munculnya keinginan dan kebutuhan akan keamanan pada setiap negara. Mearsheimer mengatakan fokus ada di mempertahankan balance of power dan bukan menciptakan power. Mengapa negara menginginkan power dikarenakan struktur dari sistem internasional yang memaksa negara untuk meningkatkan power. Dalam sebuah sistem yang tidak memiliki otoritas tertinggi diantara great powers, tidak ada jaminan bahwa suatu negara tidak akan menyerang negara lainnya, ini memunculkan cara pandang bagi setiap negara untuk meningkatkan power dan melindungi dirinya sendiri. Teori realisme ofensif ala John Mearsheimer memiliki lima asumsi dasar yaitu :
- Negara-negara Great Powers adalah aktor utama dalam sistem internasional yang anarkis
- Setiap negara memiliki potensi kapabilitas militer yang ofensif
- Negara tidak dapat memastikan akan keinginan atau intensi politik dari negara lain
- Negara menjadikan survival sebagai tujuan utamanya
- Negara adalah aktor rasional yang akan memaksimalkan kemungkinan mereka untuk survival.
Mearsheimer mengatakan, “negara great powers menyadari bahwa cara terbaik untuk menjamin keamanan mereka adalah untuk mencapai tingkat hegemoni secepatnya dan kemudian mengeliminasi kemungkinan adanya ancaman dari negara great powers lainnya. Hanya negara bodoh saja yang akan melepaskan kesempatan untuk menjadi hegemon di dalam sistem, karena dalam sistem itu hanya dengan power yang cukup suatu negara bisa bertahan”[14]. Pendapat ini kemudian bisa ditarik dari sebuah cara pandang animus dominandi, yang berarti secara alamiah manusia akan saling mendominasi satu dengan lainnya. Hubungan antar negara dilihat sebagai dinamika dalam memperebutkan power, tetapi yang mendorongnya bukan naluri hewan yang alamiah tetapi akan pemenuhan rasa aman yang diakibatkan dari struktur anarkis dalam sistem internasional. Bagi kelompok realis ofensif mereka memandang bahwa kondisi status quo sulit ditemui dalam hubungan antar negara, dikarenakan sistem internasional akan membentuk insentif besar bagi negara yang meningkatkan power-nya atas pesaingnya, dan kemudian mengambil situasi dimana keuntungan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Tujuan puncak dari suatu negara dalam sistem yang anarkis adalah menjadi hegemon pada sistem tersebut.”[15]
Mearsheimer kemudian berpendapat bahwa strategi terbaik untuk meningkatkan power dan hegemoni adalah berdasarkan taktik ofensif. Negara-negara great powers akan cenderung untuk menggunakan strategi yang ofensif, yang akan mendekatkan mereka pada tingkatan hegemoni. Jika menjadi hegemoni global tidak masuk akal untuk dicapai oleh suatu negara, maka pilihan yang memungkinkan adalah menjadi hegemoni regional yang mendominasi tingkat regional. Mearsheimer menyatakan bahwa tujuan utama dari suatu negara adalah untuk memaksimalkan keamanan nasional, kemudian negara dianggap memiliki keinginan yang ofensif dalam upayanya meningkatkan power. Dalam kacamata realisme ofensif, sistem internasional yang ada memungkinkan negara great powers dengan keinginan yang kuat untuk melakukan tindakan ofensif dalam rangka meningkatkan keamanan dan menjamin keberlangsungan hidup (survival) mereka.[16]
Mearsheimer melihat bahwa menjadi hegemon global adalah satu hal yang mustahil untuk terwujud, kecuali untuk sebuah negara yang memiliki ‘superioritas senjata nuklir’, sehingga mampu untuk menghancurkan negara lawan tanpa adanya rasa takut akan serangan balasan.[17]Oleh karena itu yang paling memungkinkan dicapai oleh suatu negara adalah untuk terus memperbesar kapasitas militer ofensifnya dan kemudian menjadi negara hegemon di tingkat regional. Negara yang telah mencapai tingkat hegemon regional belum tentu akan merasa puas dan aman, mereka akan mencegah munculnya ‘kompetitor potensial’ yang akan menjadi hegemon tandingan dalam regional tersebut. Dengan kata lain sebuah negara hegemon akan berusaha untuk mempertahankan power setidaknya diantara dua negara great powers yang berdampingan wilayahnya, sehingga energi dari dua negara great powers ini akan terkuras dalam mempertahankan diri antara satu dengan lainnya. Negara great powers hanya akan menyerang jika terdapatnya suatu peluang, mereka hanya akan melakukan tindakan tersebut ketika potensi kemenangan dan keuntungan yang didapat pasti lebih besar daripada risiko kekalahan dan biaya yang diakibatkan oleh perang.[18]
Referensi
Mearsheimer, John J., ‘China’s Unpeaceful Rise’, Current History, April 2006
Mearsheimer, John J., ‘China’s Challenge to US Power in Asia’, The Chinese Journal of International Politics, Vol. 3, 2010, Oxford University Press
Mearsheimer, John J., ‘The False Promise Of International Institutions’, International Security, Vol. 19, No. 3, 1994-1995
Mearsheimer,John J., ‘The Tragedy Of Great Power Politics’, (New York : W.W. Norton, 2001)
Snyder, Glenn H., ‘Mearsheimer’s World : Offensive Realism And The Struggle For Security’, International Security, Vol. 27, No. 1, 2002
Internet
BBC News, ‘China Lands J-15 Jet On Liaoning Aircraft Carrier’, http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-china-20483716
Huffington Post, ‘China Lands First Jet On Its Aircraft Carrier’, http://www.huffingtonpost.com/2012/11/25/China-Jet-Aircraft-Carrier_N_2187767.html
Japan Times, ‘New Ships Give China’s Navy A Stronger Punch’, http://www.japantimes.co.jp/text/eo20120912mr.html
The Economist, ‘China Military Rise : The Dragon’s New Teeth’, http://www.economist.com/Node/21552193
The Times Of India, http://articles.timesofindia.indiatimes.com/2012-08-28/china/33449060_1_test-fires-ballistic-missile-agni-v
‘China Military Strength’, http://www.globalfirepower.com/Country-Military-Strength-Detail.Asp?Country_Id=China
[2] The Economist, ‘China Military Rise : The Dragon’s New Teeth’, http://www.economist.com/Node/21552193, Diakses Pada 27 November 2012
[3] Huffington Post, ‘China Lands First Jet On Its Aircraft Carrier’, http://www.huffingtonpost.com/2012/11/25/China-Jet-Aircraft-Carrier_N_2187767.html, Diakses Pada 27 November 2012
[4] ‘China Military Strength’, http://www.globalfirepower.com/Country-Military-Strength-Detail.Asp?Country_Id=China, Diakses Pada 26 Novmber 2012
[5] Michael Richardson, Japan Times, ‘New Ships Give China’s Navy A Stronger Punch’, http://www.japantimes.co.jp/text/eo20120912mr.html, Diakses pada 27 November 2012
[6] BBC News, ‘China Lands J-15 Jet On Liaoning Aircraft Carrier’, http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-china-20483716, diakses pada 27 November 2012
[7] The Times Of India, http://articles.timesofindia.indiatimes.com/2012-08-28/china/33449060_1_test-fires-ballistic-missile-agni-v, diakses pada 27 November 2012
[10] John J. Mearsheimer, ‘China’s Challenge to US Power in Asia’, The Chinese Journal of International Politics, Vol. 3, 2010, Oxford University Press, hal 383
[11] John J. Mearsheimer, ‘China’s Challenge to US Power in Asia’, The Chinese Journal of International Politics, Vol. 3, 2010, Oxford University Press, hal 387
[13] John J. Mearsheimer, ‘The Tragedy Of Great Power Politics’, (New York : W.W. Norton, 2001), Hal 21
[14] John J. Mearsheimer, ‘The False Promise Of International Institutions’, International Security, Vol. 19, No. 3, 1994-1995, Hal 11-12
[15] John J. Mearsheimer, ‘The Tragedy Of Great Power Politics’, (New York : W. W. Norton, 2001), Hal 21
[16] Glenn H. Snyder, ‘Mearsheimer’s World : Offensive Realism And The Struggle For Security’,International Security, Vol. 27, No. 1, 2002, Hal 158
[17] Glenn H. Snyder, ‘Mearsheimer’s World : Offensive Realism And The Struggle For Security’,International Security, Vol. 27, No. 1, 2002, Hal 152
[18] Glenn H. Snyder, ‘Mearsheimer’s World : Offensive Realism And The Struggle For Security’, International Security, Vol. 27, No. 1, 2002, Hal 154
Recent Comments