Setiap kebudayaan memiliki ciri khas dan daya tariknya sendiri, begitu pula dengan negeri Sakura. Geisha adalah ikon bagi kesenian tradisional Jepang, para gadis ini mempelajari berbagai kesenian seperti tarian dan musik tradisional yang menjadikan mereka seniman tradisional yang handal. Rumah-rumah geisha (Okiya) membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka menjadi geisha. Dibalik semua kontroversi tentang geisha, saya tetap memahami satu hal tentang mereka, para wanita muda yang memilih jalan berduri akibat kemiskinan dan kesempitan ekonomi. Sebuah kecantikan polos dari negeri Sakura.
“Japanese Beauty”
Adhe Nuansa Wibisono [The BrewokZ],
Sinduadi, Yogyakarta. Kamis, 10 November 2011
Aku baca majalah Jepang, justru sejarah sebenarnya Geisha itu bukan pelacur, cuma gara-gara dimanfaatkan beberapa perempuan pelacur jepang yang berdandan ala Geisha dan mengaku Geisha saat menjajakan diri ke orang-orang asing, makanya akhirnya Geisha identik dengan pelacur. Wallahu a'lam.
sorry baru bales fiya… sebenarnya masih banyak kontroversi mengenai geisha, ada yang melihatnya dalam sudut pandang kebudayaan, ada juga yang melihatnya sebagai praktik prostitusi terselubung. Apapun itu saya mencoba melihatnya secara lebih objektif bahwa geisha telah mampu menjadi agen bagi terjaganya budaya-budaya tradisional di Jepang. jika aspek negatifnya bisa dipisahkan dan kemudian geisha murni sebagai praktik budaya dan kesenian tradisional tentu akan lebih baik lagi 🙂