Adhe Nuansa Wibisono

Hubungan Internasional UGM

Engkau mengira mereka lemah?
Di balik keanggunan yang tampak
Engkau mengira mereka naif?
Di balik keramahan sikap

Engkau salah kawan…

Sesungguhnya,
Terdapat keresahan di balik kepolosan yang terlihat
Sesungguhnya,
terdapat perjuangan di balik setiap senyuman

Sebelumnya saya meminta maaf untuk rekan-rekan akhwat seperjuangan, dimana saya menulis sebuah hal yang “seharusnya” mungkin tidak saya tulis. Tapi ada sebuah ide strategis yang saya pikirkan dan sayang sekali jika keresahan ini tidak saya bagi dengan kalian semua, “stakeholder” sesungguhnya dalam masalah ini. Saya hanya memiliki harapan adanya kembali sosok-sosok “akhwat gerakan” atau “aktivis wanita” yang saya rasa sudah mulai hilang dari KAMMI (mungkin dalam sekup UGM). Sesuatu hal istimewa yang saya dapatkan ketika mengamati sosok-sosok penggiat Muslimah Hizbut Tahrir yang memiliki kecapakan dalam ranah-ranah pemikiran Islam atau isu-isu pemberdayaan perempuan dengan frame khusus keislaman. 
Suatu kekaguman yang sama ketika saya mengenal seorang sosok aktivis wanita yang memimpin LMND-PRM dalam sekup propinsi Yogyakarta. Termenung sejenak, sebenarnya di KAMMI saya melihat banyak orang yang memiliki potensi istimewa pula, tapi mungkin ada kondisi-kondisi sistemik yang membuat kader putri tidak dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Tapi sekali lagi ini pandangan subjektif penulis yang memiliki harapan besar akan perubahan yang bisa dilakukan. Sebelumnya saya juga sudah siap untuk dikritik, terutama generasi akhwat “senior” yang memiliki pengalaman aktivisme yang panjang, perlu diingat ide serta gagasan ini ditujukan dalam konteks kekinian, sehingga bacaan-bacaan realitas diseuaikan dengan pandangan subyektif penulis.
 
Saya berpikir ada baiknya KAMMI mengembangkan sebuah biro khusus kemuslimahan, dalam konteks ini saya memikirkan komisariat UGM dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Diakui atau tidak jumlah kader putri KAMMI (atau biasa disebut akhwat KAMMI) dapat dibilang signifikan. Bagaimana tidak dalam setiap kali rekruitmen melalui proses Daurah Marhalah I paling tidak komisariat UGM dapat merekrut paling tidak sekitar 30 orang akhwat. 
Berarti jika UGM dalam setahun melakukan tiga kali proses rekruitmen maka minimal dalam setahun komisariat UGM dapat merekrut minimal 80-90 orang akhwat. Ini jumlah yang cukup besar untuk ukuran gerakan mahasiswa dalam level kampus UGM dibandingkan dengan gerakan mahasiswa yang lain. Sekarang dimana masalahnya? Sebenarnya disinilah masalah itu baru dimulai, jumlah kader putri yang cukup banyak itu tidak diimbangi dengan proses penjagaan dan pengkaryaan yang sesuai, sehingga banyak kader putri yang tidak merasa include dan tergabung dengan proses aktivitas yang ada di KAMMI.

Apakah Biro ini diperlukan?
Pertanyaan berikutnya, apakah akhwat memiliki peranan yang setara dalam posisi-posisi struktural di KAMMI? Sebenarnya KAMMI memiliki pandangan egalitarian dalam pembagian fungsi dan peranan kerja, maka tidak ada pos khusus yang membedakan antara laki-laki dengan wanita (mungkin kecuali ketua). Tapi biasanya wanita memiliki beberapa pos-pos khusus yang diampu seperti ranah administrasi, sekretaris dan bendahara. 
Di luar itu juga memungkinkan diantara kaderisasi dan sosial-masyarakat juga sering diampu oleh wanita. Tapi memang saya merasakan ada cakupan-cakupan tidak terlihat yang tidak bisa dijangkau oleh KAMMI dalam wilayah formal-struktural. Di kalangan ikhwan hal ini ditutupi dengan cara mengumpulkan mereka di sekretariat atau jalan-jalan, nonton bareng atau apapun itu. 
Ada ruang-ruang kultur yang mengikat keberadaan seseorang untuk tergabung dengan KAMMI. Masalah itu baru terlihat ketika kita melihat hal tersebut tidak terjadi di kalangan putri, beberepa penyebabnya ternyata cukup sederhana yaitu para akhwat tidak memiliki ruang-ruang kultural kolektif yang menyebabkan mereka harus merasa terikat dengan KAMMI. Hal-hal lainnya yang saya rasa menjadi masalah adalah para akhwat pengampu posisi struktur di KAMMI umumnya berasal dari asrama pesantren mahasiswi seperti Daarus Shalihat dan Asma Amanina, dimana umumnya diluar urusan-urusan organisasi, waktu mereka cukup banyak dihabiskan dalam kegiatan-kegiatan asrama.
Apakah sekretaris tidak mampu memerhatikan masalah ini? Tidak begitu juga cara melihatnya, biasanya akhwat yang menjadi PH jumlahnya lebih sedikit dibanding ikhwan yang menjadi PH, terkadang 5 orang ikhwan sedangkan dari akhwat hanya 3 orang, atau terkadang 6 orang ikhwan dan 2 orang akhwat. Saya menakar ini masalah antara sumber daya yang dimiliki dan masalah yang tidak seimbang, bayangkan 2 orang atau 3 orang mencoba memikirkan 90 orang, apalagi memang tidak ada bidang-bidang khusus yang memerhatikan tentang ke-akhwatan. 
Jadi peran sekretaris, bendahara atau PH akhwat yang sudah memiliki fungsi dan peranan kerja kemudian ditambahkan dengan urusan-urusan ke-akhwatan yang dikerjakan secara insindental dan tidak fokus. Nah ini dia! Saya berpikir dalam titik ini ada masalah besar yang harus segera kita selesaikan. Dalam bayangan saya kita membentuk sebuah biro khusus yang benar-benar menjadi payung, sebuah rumah besar yang menaungi seluruh aktivis akhwat KAMMI baik yang berada di komisariat, partai bunderan maupun di bem fakultas dan bem universitas.

Belajar dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
Titik lain yang menjadi dasar dari pemikiran ini adalah apa yang saya perhatikan dari gerakan lain, terutama Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI), jujur saya mengagumi beberapa hal dari gerakan wanita satu ini, karena sosok wanita memiliki peran-peran yang cukup dominan dalam ruang-ruang publik, dimana MHTI juga turut aktif secara mandiri untuk memberikan pandangan-pandangan mengenai isu-isu yang berkembang, terutama apabila isu itu akan diangkat dalam dua hal yaitu pandangan keislaman dan pandangan perspektif wanita. Saya melihat MHTI memiliki posisi tawar yang jelas dalam melihat sebuah isu atau permasalahan. Secara aktif dan mandiri MHTI akan memberikan pandangan publik dan khas sesuai dengan tawaran atau gagasan yang akan mereka berikan. 
Luar biasa kawan, bagi saya ini strategis, sangat strategis. Aktivis wanita memiliki sebuah ruang kemandirian untuk bersikap, memandang permasalahan, bergerak, mengkaji sesuai dengan apa yang dirasakan. Saya mencoba memikirkan, dengan kondisi seperti ini bisa jadi ke depan aktivis wanita MHTI akan memiliki spesifikasi-spesifikasi khusus dalam isu-isu keislaman dan kewanitaan.
 
Sejenak saya kembali menengok KAMMI, sebuah rumah dimana saya tinggal di dalamnya. Di sana, satu per satu saya mengenal sosok-sosok aktivis wanita yang berkarakter juga memiliki potensi yang sangat luar biasa. Tetapi kemudian ada sebuah kendala sistemik yang saya lihat, bagaimana peran laki-laki sangat dominan dalam setiap pengambilan kebijakan khususnya yang berkaitan dengan penyikapan isu. Mungkin ada sebuah invisible patriarckhis barrier bagi para aktivis wanita untuk mengambil peran-peran yang lebih berimbang, sebuah dinding psikologis tak terlihat yang mungkin membatasi potensi-potensi untuk berkembang. 
Sangat disayangkan, beberapa sosok yang memiliki potensi untuk berkembang juga umumnya akan tergerus arus mainstream dan akhirnya potensi-potensi itu tidak berkembang secara optimal. Seperti yang diduga laki-laki yang akan memiliki ruang-ruang untuk lebih dominan dan terkadang tidak pernah berpikir untuk melibatkan para akhwat dalam ranah-ranah pengambilan isu yang strategis. Ketika melihat kondisi ini dengan apa yang terjadi di MHTI, saya berpikir ulang. Seharusnya jika MHTI bisa memiliki ruang-ruang kemandirian dalam pengambilan isu, lalu mengapa di KAMMI tidak? Apakah ini hanya sekadar hambatan sistemik, wadah atau metode yang seharusnya bisa dipikirkan ulang dan dilakukan sebuah perubahan-perubahan?
 
Bukan berarti saya menganjurkan untuk sekedar mengikuti MHTI, bukan di situ kawan yang menjadikan alasan untuk menggagas ide ini. Secara personal saya mengakui MHTI memiliki sebuah metode yang khas dan memiliki kelebihan dengan metode itu, saya sekedar melihat sebuah “titik kebaikan” di sana, mungkin..mungkin lho, metode ini bisa juga diterapkan di KAMMI dengan modifikasi-modifikasi tertentu yang disesuaikan dengan karakter dan kekahasan yang ada di KAMMI. Sekali lagi, ini adalah ide dengan pandangan luar seorang laki-laki melihat wanita, bisa jadi apa yang saya lihat tidak dilihat oleh kawan-kawan sekalian, begitu pula sebaliknya.

Mau dibawa kemana?
Dalam pikiran saya Biro Kemuslimahan ini akan memiliki dua hal penting yang akan menjadi urgensi dari pembentukannya. Pertama, Biro Kemuslimahan akan menjalankan fungsi-fungsi internal yaitu menjadi ruang konsolidasi dan kaderisasi kader-kader putri KAMMI baik yang berada di komisariat, partai mahasiswa, lembaga mahasiswa. Kerohanian islam fakultas-universitas. Biro ini akan menjadi “Ibu” atau “payung” atau “rumah” bagi seluruh kader putri KAMMI. 
Sebuah ruang kolektif yang diciptakan melalui forum bernama Biro Kemuslimahan, alangkah lebih baiknya lagi jika pembentukan ruang-ruang kolektif virtual ini diujudkan pula dengan ruang-ruang fisik seperti basecamp khusus kader putri atau kontrakan akhwat KAMMI yang digawangi oleh para pengurus akhwat dan terutama Biro Kemuslimahan ini. Jadi dalam setiap komisariat minimal memiliki dua kontrakan yaitu sekretariat utama komisariat dan basecamp khusus akhwat, semoga ide ini bisa dijalankan oleh setiap komisariat di Jogja khususnya UGM.
Kemudian yang menjadi pemikiran saya yang kedua, Biro Kemuslimahan ini akan mengambil peranan-peranan strategis dalam penyikapan isu-isu yang berkaitan dengan perempuan, seperti langkah yang sudah diambil oleh MHTI. Biro Kemuslimahan akan menjadi ruang-ruang koletif dan mandiri para kader putri KAMMI untuk melakukan penyikapan isu, biro ini akan menjadi perwajahan akhwat KAMMI dalam mengkrtisi sebuah masalah atau kebijakan. Sehingga tersedia kesempatan yang sama baik bagi laki-laki dan perempuan untuk menyampaikan gagasan dan tawaran perubahannya kepada publik. 
Biro Kemuslimahan akan menjadi wadah-wadah advokasi khusus terkait isu perempuan dan dapat mengembangkan jaringannya secara strategis baik dengan gerakan wanita setipe seperti MHTI atau Kohati dan lembaga-lembaga sosial sperti Rifka Annisa, Pusat Studi Wanita, dll. Sudah saatnya peranan-peranan strategis dibagi secara merata, dan beban beban perjuangan itu dibagi secara proporsional atas para pemangkunya. 
Tidak ada lagi istilah inferior-dominan, mayoritas-minoritas, patriarkis, tetapi sudah saatnya pembagian peran itu dibagi secara proporsional dan adil. Teringat para shahabiyah yang juga turut ke medan perang untuk memberikan perawatan untuk para mujahid bahkan terkadang maju ke depan menjadi mujahidah itu sendiri.

Terakhir kawan, ini hanya usul
Silahkan dikritik sehabis-habisnya
Sampai antum capek untuk mengetiknya…


Karanggayam, Sleman
2 Agustus 2010, 22.28 WIB