Adhe Nuansa Wibisono
Humas KAMMI Daerah Sleman
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang kokoh”
(Q.S. As-Saff : 4)

Pengelolaan kaderisasi dan pembinaan adalah sebuah hal penting yang menjadi napas utama dari sebuah pergerakan. Sebaik apa sebuah pergerakan dapat melakukan proses kaderisasi maka sejauh itu pula sebuah gerakan akan dapat terus bertahan, eksis dan melakukan kontribusi bagi perbaikan masyarakat. Ide, gagasan dan cita-cita dari suatu pergerakan akan terus hidup lintas waktu dan generasi melalui kader-kader muda yang terus dibina dari waktu ke waktu.
KAMMI sebagai gerakan juga memiliki kebutuhan akan adanya proses pembinaan secara sistemik dan berkesinambungan, yaitu sebuah karakter KAMMI sebagai “harokatu tajnid” organisasi pengkaderan yang terus bekerja mencetak anak-anak muda yang memiliki mimpi yang sama akan masa depan bangsa Indonesia ini, yaitu lahirnya “bangsa dan negara Indonesia yang Islami”. 
Proses pembinaan kaderisasi di KAMMI ini disandarkan kepada sebuah sistem yang dinamakan Manhaj Kaderisasi 1427 H. KAMMI sebagai sebuah wajihah amal thullaby memiliki komprehensivitas dalam paradigma berpikir dan referensi manhaj Ikhwanul Muslimin. KAMMI hadir dengan setting sejarah sebagai wajihah Tarbiyah dalam level thullaby pada saat Reformasi 1998. Ideologisasi KAMMI disandarkan pada asas Islam dan mendudukan Manhaj Ikhwanul Muslimun sebagai sandaran referensi utama. Dalam konteks ke-Indonesiaan, ini dirumuskan dalam Manhaj Tarbiyah 1427 H yang sudah diadaptasi oleh KAMMI Pusat sebagai Manhaj Kaderisasi KAMMI 1427 H.
Turunan dan penjabaran dari Manhaj 1427 H ini adalah kader KAMMI memiliki spesifikasi khusus yang disebut dengan IJDK (Indeks Jati Diri Kader) yang diderivasikan dengan beberapa kompetensi berikut, yaitu : 1) Aqidah, 2) Fikrah dan Manhaj Perjuangan, 3) Akhlaq, 4) Ibadah, 5) Tsaqofah Ke-Islaman, 6) Wawasan Ke-Indonesiaan, 7) Kepakaran dan Profesionalitas, 8) Kemapuan Sosial-Politik, 9) Pergerakan dan Kepemimpinan, 10) Pengembangan Diri. Secara konseptual KAMMI ingin membentuk “Muslim Negarawan”, Rijalul Imam menjelaskan dalam posisi ini kader siap dalam konteks kepemimpinan umat, yaitu kader siap memimpin dan leading di berbagai sektor kehidupan dalam fase Mihwar Daulah, yaitu fase ketika dakwah ini semakin mengokohkan kontribusinya dalam ranah-ranah publik kenegaraan.
Penulis memiliki beberapa gagasan baru dalam pengelolaan pembinaan dan kaderisasi di KAMMI, penulis melihat dalam konteks lapangan harus ada penyesuaian dalam melakukan proses pembinaan terutama jika kita melihat KAMMI sebagai sebuah pergerakan. Beberapa titik poin yang penulis anggap penting adalah : 1) Penguatan Madrasah KAMMI sebagai Halaqah Siyasy, 2) Pembuatan Buku Materi Madrasah KAMMI Standar, 3) Pembentukan Komunitas Epistemik dan Ruang Kultural. Beberapa poin ini adalah titik tekan penulis berdasarkan pengalaman penulis di komisariat UGM.

Penguatan Madrasah KAMMI
Sistem sel adalah sebuah sistem yang jamak digunakan oleh berbagai gerakan dan terbukti cukup efektif, Di Indonesia Partai Komunis Indonesia telah menggunakan sistem sel sebagai alat kaderisasi. PKI menjadi partai yang memiliki karakteristik khusus yaitu sebuah partai yang berbasiskan kader yang “loyalis, ideologis, militan”. PKI menjadi partai yang mampu memobilisasi, mengkonsolidasi kadernya dari tingkat elit sampai dengan tingkat akar rumput. Sehingga PKI menjadi sebuah organ yang memiliki mobilitas yang tinggi dalm proses dinamikan politik periode 1945-1965.
Di belahan negara lain, kita dapat melihat Al Ikhwan Al Muslimun sebagai organ yang mampu mencontohkan optimalitas dari sistem sel. Sistem “usrah” dalam pembinaan Ikhwan adalah sebuah sistem yang diadaptasi dari sistem batalyon militer. Pasukan dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil (maksimal 10 orang) yang dipimpin oleh satu orang “naqib” atau komandan yang kemudian setiap empat kelompok akan disatukan dalam satu “khatibah” atau batalyon. Ribuan kader ikhwan dibina, diatur, diawasi dengan menggunakan sistem sel berjenjang yang sangat rapi ini.
KAMMI sebagai sebuah gerakan telah memiliki Madrasah KAMMI sebagai sistem yang sangat mirip dengan sistem sel baik yang diterapkan di PKI dan Ikhwan. Madrasah KAMMI (MK) adalah sebuah alur dasar dalam proses pembinaan di KAMMI yang dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan dipandu oleh seorang pemandu. Penulis menilai selain sebagai sebuah ruang-ruang pembinaan, MK dapat dioptimalkan sebagai ruang mobilisasi dan controlling oleh karena itu MK menjadi sebuah alur yang wajib dalam proses pembinaan. Penulis berpendapat alangkah baiknya jika MK dapat dikuatkan posisinya sebagai halaqah siyasy di tiap kampus.
Mengaca dari sistem yang berjalan di halaqah PKS, penulis melihat sebuah fungsi-fungsi yang seharusnya dimiliki oleh sebuah pergerakan. Yaitu fungsi kontrol dan otoritas, fungsi kontrol dimana setiap murabbi memiliki wewenang untuk mengevaluasi proses pembinaan, kondisi binaan dan melakukan penilaian-penilaian. Sedangkan otoritas yang dimaksud adalah sebuah fungsi yang menentukan bagaimana binaan akan diarahkan apakah memilih karier organisasi di kampus dan memberikan rekomendasi untuk mengambil apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. PKS sendiri juga melakukan fungsi-fungsi mobilisasi dengan menggunakan sistem “halaqah” ini, mobilisasi untuk demonstrasi, kampanye, bakti sosial dan berbagai kegiatan lainnya.
Penulis berpendapat seharusnya KAMMI dapat memfungsikan MK sebagaimana PKS memfungsikan halaqah. Dalam titik ini maka KAMMI akan memiliki sebuah jaringan sistem sel yang sangat luas dimana kontrol dan pengawasan kepada setiap kader KAMMI dapat dilakukan dengan maksimal. MK seharusnya dijadikan perangkat wajib dari gerakan KAMMI, karena sistem ini yang penulis nilai dapat menjadi “nyawa” bagi gerakan. Sistem pembinaan, pengelolaan, mobilisasi dan pengarahan kader dilakukan oleh pemandu MK. Jika KAMMI dapat membangun sebuah sistem MK yang sebaik dan sekuat yang terdapat di PKS, maka KAMMI akan menjadi sebuah gerakan yang sangat kuat. Sebuah gerakan yang memiliki akses jangakuan sampai massa akar rumput dan mampu mengkonsolidasikan dirinya dalam waktu singkat.

Pembuatan Buku Materi
Salah satu kelemahan yang terdapat dalam proses pembinaan di KAMMI adalah tidak terdapatnya sebuah buku pegangan materi yang menjadi dasar atau acuan bagi para pemandu untuk menyampaikan materi. Memang KAMMI sudah memiliki manhaj 1427 H yang sangat komprehensif tetapi dalam tataran lapangan penulis melihat realitas lain. Para pemandu tidak dalam kapasitas intelektual yang sama, sehingga proses MK sangat tergantung pada kualitas dari seorang pemandu. Ada seorang pemandu yang memiliki wawasan pergerakan yang luas, maka MK akan menjadi sebuah wahana intelektualitas yang menyenangkan tetapi jika pemandu tidak memiliki kapasitas itu, maka MK akan menjadi sebuah proses yang membosankan.
Kelemahan lapangan itu ditambah dengan tidak adanya sebuah referensi pembinaan tertulis yang bisa dibaca dan dijadikan panduan oleh para pemandu. Dengan keresahan ini maka penulis menyarankan terhadap pihak yang berwenang (Kaderisasi KAMMI DIY atau Korps Instruktur Wilayah) untuk membuat sebuah buku pegangan manhaji bagi proses pembinaan di KAMMI.
Buku materi ini akan berisi derivasi-derivasi dari poin-poin pembinaan yang diambil dari IJDK KAMMI. Sehingga poin-poin materi akan menjadi bab-bab kecil yang dituliskan mengenai isi dari materi tersebut. Misalkan jikalau kita membahas tema “aqidah” maka di buku tersebut akan dijelaskan mengenai : 1) Definisi aqidah, 2) dalil-dalil yang berkaitan, 3) pendapat para ulama tentang aqidah, 4) konsep-konsep aqidah. Dengan demikian seorang pemandu akan sangat terbantu ketika ingin mendiskusikan masalah aqidah secara mendalam, proses yang terjadi di MK akan menjadi sebuah ruang-ruang “menimba ilmu” karena KAMMI akan mensandarkannya pada sebuah referensi yang jelas yaitu Al Qur’an , Sunnah, Kitab-kitab Ulama, dan karya-karya intelektual.
Sebagai contoh materi-materi yang diturunkan dari IJDK yaitu Materi Madrasah KAMMI yang akan menjadi inti dari ideologisasi kader siyasy adalah :
1) Aqidah dan Syumuliyatul Islam
2) Mengenal Ikhwanul Muslimun
3) Sejarah Gerakan Dakwah
4) Siyasah Syariah
5) Ideologi KAMMI
6) Memahami Mihwar Gerakan Dakwah
7) Fiqh Dakwah
8) Komitmen Muslim Pada Harokah Islam
9) Studi Tokoh-Tokoh Islam
10) Sejarah dan Perkembangan Islam Indonesia
11) Manhaj Dakwah Kampus
12) Amal Jama’i dan Syura
13) Sejarah Gerakan Mahasiswa
14) Sejarah Aksi Massa dan Demonstrasi
15) Dasar-Dasar Propaganda
16) Membangun Networking

Setiap poin dari materi ini akan dituliskan dalam sebuah pembahasan yang cukup mendalam sekitar 1000 kata per poin yang akan menjelaskan konsep-konsep dasar mengenai poin-poin tersebut. Penulis menilai KAMMI dimanapun di Indonesia belum ada yang melakukan proyek penguatan kaderisasi dalam pembuatan buku materi. Jika KAMMI DIY dapat memprioritaskan pembuatan buku materi ini maka ini akan menjadi “sumbangan berharga” dan “amal jariyah” bagi proses pembinaan KAMMI di seluruh Indonesia.

Pembentukan Komunitas Epistemik
Ide terakhir adalah gagasan untuk membangkitkan kembali sebuah komunitas epistemik, komunitas yang didesain untuk meningkatkan intelektualitas kader dan menjadi ruang-ruang kultural yang akan menjadi bahan penguat bagi gerakan KAMMI. Di komisariat UGM, kami sedang menggagas sebuah komunitas film yang akan menjadi protoype bagi gagasan ideal mengenai komunitas epistemik. Kami menamakannya KAMMI NOMADEN, tulisan dibawah ini adalah deskripsi mengenai ide komunitas film yang akan dibangun tersebut.
KAMMI NOMADEN adalah sebuah komunitas film yang digagas oleh penggiat KAMMI Komisariat UGM untuk membangun analisis kritis terhadap realitas. Dalam komunitas ini KAMMI akan menonton film-film yang memiliki tema-tema khusus dan menarik seperti politik, media, agama, perang, sejarah, kebudayaan dan nasionalisme. Film akan menjadi media yang menstimulasi sebagai bahan diskusi kemudian KAMMI akan mendiskusikan film-film tematik tersebut dipandu oleh seorang pemantik yang memiliki kompetensi dalam tema tersebut.
Hasil dari diskusi tersebut akan dijadikan sebagai bahan tulisan tematik yang akan dijadikan artikel opini oleh penggiat komunitas KAMMI NOMADEN yang akan dimasukkan dalam blog KAMMI Komisariat UGM (http://kammikomsatugm.wordpress.com). Hasil tulisan terbaik akan ditampilkan di buletin KAMMI yaitu buletin OPOSISI. Setelah satu tahun pelaksanaan kumpulan-kumpulan tulisan tematik terbaik akan KAMMI terbitkan dalam sebuah Jurnal Kritis Akhir Kepengurusan.
NOMADEN adalah singkatan dari Nonton Berjamaah Diskusi En Nulis, sebuah nama yang menggambarkan aktifitas yang akan dilakukan dalam Komunitas Film Ikhwan, KAMMI NOMADEN. Keresahan lain yang melatarbelakangi lahirnya gagasan ini adalah aktivisme kemahasiswaan yang terjebak dalam rutinitas-rutinitas kepanitiaan, lunturnya budaya diskusi dan pendalaman akan intelektualitas, pendangkalan daya kritis mahasiswa dan kurangnya ruang-ruang kultural akibat padatnya rutinitas kelembagaan. NOMADEN mencoba mengambil celah kecil dari peluang realitas yang ada yaitu kejenuhan aktivitas kelembagaan dan keinginan mahasiswa untuk memperdalam daya kritisnya dikombinasikan dengan sebuah aktivitas sederhana yaitu menonton film. Harapannya gagasan ini dapat menjadi muara baru bagi lahirnya aktivisme kemahasiswaan yang lebih kritis. Kemudian komunitas ini akan dijalankan dengan sebuah rantai aktivitas yang ada dan berkesinambungan, sehingga komunitas ini memiliki sebuah output dan progress yang nyata.

Rantai Pelaksanaan
Menonton Film – Diskusi – Artikel Opini Tematik – Blog KAMMI – Buletin Oposisi – Jurnal Film Kritis – Film Project

Tiga ide tadi adalah poin-poin penting yang menjadi keresahan penulis, semoga masukan dan kritik ini menjadi tanda cinta bagi KAMMI dan ekspresi kepedulian nyata dari penulis. KAMMI memiliki potensi besar untuk menjadi sebuah gerakan yang kontributif terhadap perbaikan masyarakat, dengan jumlah kader yang sedemikian besar sudah seharusnya KAMMI dapat melakukan sesuatu yang lebih besar. Semoga tulisan kecil ini dapat meretas cara-cara baru dalam proses pengkaderan yang akan terus-menerus berhadapan dengan zaman yang terus berubah.

Li Kulli Marhalatu Rijaluha, Wa Li Kulli Marhalatu Masakiluha
(Ustadz Rahmat Abdullah)