Adhe Nuansa Wibisono

Hubungan Internasional UGM
Kegelisahan penulis berasal dari kebuntuan yang penulis hadapi dalam memaknai kehidupan, agama dan ibadah. Selama ini ibadah hanya dirasakan sebagai sesuatu yang menjadi rutinitas saja sehingga terasa seperti hilangnya makna hakiki dalam peribadatan yaitu penyerahan diri terhadap Allah sebagai Zat yang Maha Tinggi dan Maha Agung.
Kondisi ini layaknya ungkapan Eko prasetyo dalam sebuah diskusi, “ketika iman menipis, agama menjadi layaknya patung, sebuah rutinitas yang kaku dan mekanik”. Sebuah kondisi yang selayaknya tidak terjadi pada manusia tetapi tidak dapat terelakkan lagi ketika manusia kehilangan kemampuan untuk memaknai kehidupan.
Proses memaknai kehidupan ini layaknya proses memaknai ulang akan diri kita, sebuah proses pencarian jati diri. Proses dimana setiap orang harus bergulat dengan dirinya dan mecoba mencari bentuk yang ideal tentang “diri”. 
Ahmad Wahib dalam catatan hariannya menggambarkan dengan baik proses pencarian diri tersebut, ” Aku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Marx dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan… aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari, dan terus-menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya aku bukan aku. Aku adalah mang-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku. Aku adalah aku, pada saat sakaratul maut!”.
Pemaknaan ulang ini tidak hanya berlaku untuk konsepsi diri, tetapi jauh lebih penting dilihat dari aspek sosial yang berkaitan dengan manusia lain. Agama menjadi sebuah isu kritis dalam pembahasan ini, apakah cara pandang kita terhada Islam selama ini sudah cukup mendalam? Apakah Islam hanya menjadi sebuah identitas saja tanpa sesuatu konsekuensi yang berat ketika kita bersyahadah, bersaksi akan hakikat Allah dan rasul-Nya. 
Imaduddin Abdul Rahim memberikan pendefinisian menarik tentang tauhid kepada Allah SWT, ”…Inilah intisari sesungguhnya dari ajaran Islam, yaitu mentauhidkan atau mengesakan Allah, yang berarti meletakkan Allah dan semua perintah-perintahNya di atas segala-galanya, terutama di atas kepentingan dan keinginan pribadi…”. Sedangkan mengakuii kerasulan Muhammad berarti memilih untuk konsekuen mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, mengikuti sebuah jalan penderitaan seperti yang diungkap oleh Haji Misbah.
Ibadah adalah aspek penting dalam mengekspresikan kepatuhan kepada Allah dalam menjalankan segala perintah-Nya dan mengikuti jalan Rasulullah yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Ibadah yang baik tidak berhenti pada sebuah kesalehan pribadi tetapi juga menyebabkan lahirnya sebuah kesalehan sosial. Indikasi dari baiknya ibadah seseorang adalah semakin posistif hubungannya dengan orang lain, semakin banyak manfaat yang dia berikan kepada orang lain, kepada lingkungan terdekatnya. 
Pemaknaan ulang akan hal ini akan menjadi sebuah refleksi terhadap seluruh ibadah yang telah kita lakukan baik yang sendirian ataupun berjamaah, baik yang nampak maupun tidak nampak. Pertanyaan terbesar apakah ibadah kita memiliki hubungan garis lurus dengan kemanfaatan sosial? Sebuah kondisi yang digambarkan dengan konsep hablu minallah hablu minannas, hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.
Semoga kita diberikan kemampuan untuk memaknai ulang seluruh hal yang kita alami di dunia ini sehingga kita tidak hanya menjadi robot-robot yang bergerak, makan dan tidur tetapi menjadi manusia utuh yang terus berproses, manusia yang lepas dari segala ikatan kecuali ikatan terhadap Allah, manusia yang siap menderita mengikuti jalan para nabi dan manusia yang memiliki kemanfaatan besar terhadap manusia lainnya.