Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM

Kali ini saya akan mengangkat kisah tentang seppuku (tindakan membunuh diri) yang terdapat pada budaya samurai di Jepang pada abad pertengahan (15-17). Seppuku adalah nama formal dari harakiri, bedanya seppuku dilakukan secara formal dan ada aturan pelaksanaannya. Latar belakang budaya seppuku muncul dari pandangan hidup kelas samurai bahwa kematian lebih terhormat daripada kekalahan dan kegagalan. 
Diduga pandangan ini muncul dari pengaruh agama Budha dalam memandang kehidupan sebagai sesuatu yang fana dan kemuliaan dalam kematian. Biasanya seppuku dilakukan karena kekalahan dalam peperangan, kegagalan dalam melaksanakan tugas, bentuk kekecewaan terhadap majikan, bentuk loyalitas apabila majikan telah gugur dan sebagai pilihan daripada mati di tangan musuh. Seppuku dalam pandangan jalan samurai mencerminkan nilai-nilai seperti kehormatan, keberanian, loyalitas, rasa tanggung jawab dan pengorbanan.
Secara formal seppuku dilakukan dengan tata pelaksanaan sebagai berikut, sang pelaku akan menggunakan baju putih sebagai tanda kesucian. Pelaku akan meminum dua cangkir sake dengan masing-masing dua tegukan maka akan terdapat empat tegukan. Dalam bahasa jepang empat (shi) berarti juga kematian. Sebelum melakukan penusukan diri pelaku akan menggubah satu syair yang secara alamiah memancarkan pandangan dan perasaan pelaku dalam memandang hidup. 
Pelaksanaan seppuku tidak dilakukan sendiri, secara formal dilakukan dengan seorang kaishakunin yang akan memenggal kepala pelaku seppuku, biasanya dilakukan oleh sahabat atau keluarga terdekat sang pelaku. Dalam beberapa situasi khusus pelaksanaan formal seperti di atas tidak dapat dilakukan dan digantikan dengan cara menusuk diri sendiri dalam peperangan, menjatuhkan diri dari atas benteng dan memenggal kepala sendiri.
Merujuk beberapa referensi dan novel samurai yang saya baca budaya seppuku ini berdampak dan berpengaruh besar dalam cara pandang masyarakat Jepang. Secara umum para samurai mengaggap seppuku adalah sebuah tindakan menjunjung kehormatan dan keberanian. Seperti yang dapat dilihat di dalam sejarah abad pertengahan Jepang, banyak dari samurai terkemuka melakukan seppuku karena berbagai hal. Beberapa nama masyhur dalam epos Taiko karangan Eiji Yoshikawa seperti Oda Nobunaga dan Shibata Katsuie memilih melakukan seppuku untuk mengakhiri hidupnya. 
Yang dapat saya amati ternyata budaya seppuku tidak hanya berhenti pada zaman samurai tetapi juga terus berkembang pada saat ini. Kasus terbaru yang dilakukan oleh elit politik Jepang, Toshikatsu Matsuoka sebagai menteri pertanian, kehutanan dan perikanan Jepang pada masa Shinzo Abe membuktikan hal tersebut. Dia melakukan bunuh diri karena terlibat sakandal dana politik dan merasa bertanggung jawab dengan melakukan seppuku. Tidak hanya di kalangan elit politik tetapi budaya seppuku telah merasuk dalam pandangan hidup orang Jepang. Beberapa kasus bunuh diri diduga berdasarkan kegagalan dalam bisnis, kehidupan asmara atau bahkan tidak lulus ujian akademis.
Melihat konteks seppuku saya menyimpulkan bahwa pandangan dan keyakinan ternyata sangat berperan penting dalam hidup manusia. Seorang samurai akan melakukan seppuku dengan kesadaran dan keyakinan karena menganggap seppuku sebagai suatu nilai kebenaran. Dalam hal ini kita dapat melihat bagaimana pandangan hidup dapat mempengaruhi demikian besar dalam kehidupan manusia yang dapat menjadi pengarah bahkan tujuan kehidupan sekaligus. Timbul satu lintasan pikiran terakhir, bagaimanakah kebenaran yang hakiki?

Referensi
http://www.win.net/rastnest/archive21.htm, The Fine Art of Seppuku
http://fortunecity.com, Seppuku-Ritual Suicide