Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM
Perang. Satu kata yang dapat membuat setiap orang bergidik mendengarnya. Bagi para jenderal militer mereka bergidik senang dan tersenyum mendengar kata perang. Bagi anak kecil di kamp pengungsian kata ”perang” berarti sesuatu yang menyakitkan, karena terbayang orangtua mereka yang tidak ada lagi…mati karena perang. Bagi pedagang senjata seperti dalam cerita Lord Of War, bunyi ”perang” akan terdengar sama seperti bunyi mesin pengitung uang yang sedang bekerja. Triing… yah bunyi seperti itulah sangat merdu bunyinya…
Lalu bagaimana menurut orang-orang bodoh seperti kita yang tidak pernah merasakan langsung apa yang namanya perang… Aku berani menjamin mahasiswa-mahasiswa akan berkata ahh perang itu cool karena begini dan begitu dan perang itu bodoh karena begini dan begitu… dst… Jangan marah dulu wahai sobat aku hanya ingin menyentil sedikit perasaan kita semua. Aku pun adalah orang yang paling bodoh dalam hal ini..masalah peperangan.. Harapanku kita melihat perang itu tidak dengan rasa yang ”dingin” seakan-akan pembahasan akan perang hanya menjadi komoditas untuk mendapat nilai A tapi jauh lebih luas dan lebih serius dari hal itu.
Menurutku perang adalah sesuatu yang serius dan menjadi sarana dari perjuangan. Ketika aku berbicara perang konteks yang kugunakan adalah perang untuk membela diri, agama, nilai yang dianut, keyakinan, idealisme. Faktor khusus yang menyebabkannya adalah adanya aktor lain yang merusak hal-hal di atas dengan cara-cara agresif, menindas dan menyengsarakan. Coba kita semua mengingat kembali kepada sebuah negara yang namanya Indonesia. Ketika pada awalnya kolonialis datang ke Nusantara dan memonopoli perdagangan dilanjutkan dengan penjajahan secara sistematis untuk mengangkut kekayaan negeri ini, apa yang dilakukan oleh manusia-manusia yang ada di negeri ini? Ada yang dengan berani mengatakan tidak dan melawan tetapi ada juga yang menjadi antek-antek dan tukang semir sepatu penjajah. Ah kawan ternyata penjajahan di negeri ini tidak selesai sampai 1945 saja tetapi mungkin saat ini kita masih terjajah dan tidak ada yang menyadarinya ataupun tersadar untuk ”mau” menyadarinya.
Ada satu negeri yang menjadi kebangganku akan yang namanya keberanian, kepahlawanan, dan pengorbanan. Pernahkah kau mendengar negeri itu sobat? Kuucapkan dengan perlahan….Pa..les…ti…na.. Yah Palestina!! itulah negeri yang bahkan anak-anak kecil menjadi pahlawan dengan mati tertembak, dipukuli atau bahkan dirudal. Apa yang menjadi senjata mereka? Senjata mereka adalah keyakinan akan keadilan Allah SWT dan terwujud dalam batu-batu kerikil yang mereka lontarkan terhadap tank-tank Merkava Israel. Batu melawan tank?! Yah itulah dunia adil bukan?! Aah aku lupa kawan kisah tadi hanya mimpi…aku tidak mendapatkan kisah ini melalui suratkabar atau siaran berita, aku mendapatkannya melalui intuisi dan mimpi. Sebelum kita berpisah aku ingin menampilkan satu puisi yang dapat menggambarkan bagaimana perasaanku akan perang.
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata : Lawan!
(Wiji Thukul)