Adhe Nuansa Wibisono

Hubungan Internasional UGM

Konflik yang terjadi akibat invasi Amerika Serikat ke Afghanistan pada tahun 2001 terus meningkat dan telah menimbulkan banyak korban jiwa. Peneliti dari University Of New Hampshire, Professor Marc W. Herold menyatakan bahwa antara 2,699 sampai dengan 3,273 korban sipil telah tewas akibat tindakan langsung yang dilakukan oleh pasukan internasional di Afghanistan dari tahun 2005 sampai dengan Oktober 2008. Pembunuhan terhadap masyarakat sipil ini umumnya menggunakan serangan udara misil B1-B dropping JDAM GBU, terlihat anak-anak pun menjadi korban jiwa dalam penyerangan tersebut.

Menarik melihat adanya realita di atas dengan pernyataan presiden AS, Barrack Obama, pada pertemuan puncak para pemimpin negara North Alliance Treaty Organization (NATO), menyatakan akan mengirimkan pasukan tambahan sebanyak 21,000 personil termasuk 4,000 pelatih militer . Padahal jumlah personil tentara asing, baik AS maupun NATO, yang berada di Afghanistan sejak tahun 2001 sudah berjumlah sekitar 70,000 orang . Sebuah realitas yang ironik melihat jatuhnya korban sipil akibat pendudukan militer Amerika Serikat di Afghanistan sejak tahun 2001 di bawah payung “Operation Enduring Freedom” yang bertujuan untuk membumi-hanguskan jaringan “terorisme” Al Qaida dan Thaliban yang melindungi Osama Bin Laden.

Obama menggunakan pendekatan yang tidak berbeda jauh dengan pendahulunya, George W. Bush, dalam menangani situasi konflik di Afghanistan yaitu dengan menggunakan pendekatan hard power. Pendekatan yang mengedepankan cara-cara militer seperti penyerangan, peperangan, invasi untuk mencapai suatu tujuan. Pendekatan hard power ini mungkin dinilai akan menjadi cara paling efektif untuk menghancurkan jaringan “terorisme” tetapi ternyata pendudukan Afghanistan ini berlangsung sampai delapan tahun dan belum terlihat adanya stabilitas di Afghanistan.

Sepanjang tahun 2008-2009 eksalasi konflik meningkat dengan tajam ditandai dengan adanya rangkaian penyerangan yang dilakukan oleh Thaliban. Februari 2009, sebanyak 11 misil ditembakkan ke bangunan kementrian dan penjara di ibukota Kabul, 19 orang terbunuh dan 50 orang lainnya terluka. 2 Februari, pasukan bom bunuh diri memasuki markas polisi di kota Tarin Kot dan meledakkan dirinya, 21 polisi Afghanistan terbunuh dan sekitar 7 orang terluka. 7 September 2008, dua pasukan bom bunuh diri memasuki markas kepolisian di Kandahar, mencari jenderal polisi yang berwenang di perbatasan Spin Boldak, 6 orang terbunuh dan 37 orang terluka termasuk sang jenderal polisi . 

Yang paling fenomenal adalah penyerangan ke penjara Sarposa pada Juni 2008, dimana Thaliban merusak dan mengebom gerbang utama penjara tersebut membunuh 10 sipir penjara dan membebaskan ratusan tawanan yang pro Thaliban. Wali Karzai, Gubernur Propinsi Kandahar dan saudara dari Presiden Hamid Karzai menyatakan bahwa seluruh tawanan telah melarikan diri, dimana diindikasikan sekitar 1,100 tawanan terdapat di dalam penjara tersebut .


Mengapa Afghanistan rawan terlibat konflik?
Mengapa eskalasi konflik di Afghanistan terus meningkat dan seakan tidak pernah ada harapan bagi negeri ini untuk merasakan perdamaian? Paling tidak kita melihat dua hal yang mendasar dari Afghanistan : (1) Letak Geografis Afghanistan, (2) Struktur Demografi Afghanistan. Afghanistan adalah sebuah wilayah berada di daerah Asia Tengah dan berbatasan langsung dengan banyak negara seperti Iran, Pakistan, Republik Rakayat China, Tajikistan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Secara geografis Afganistan adalah wilayah landlocked dimana seluruh perbatasannya dikunci oleh daratan wilayah lain dan tidak memiliki wilayah perairan. Dari kondisi geografis ini Afghanistan rawan sekali untuk diintervensi oleh negara lain karena letaknya yang sangat accessable.

Dari segi demografi penduduk Afghanistan terkenal akan kompleksitas penduduknya yang terdiri atas beragam suku (tribal). Keragaman suku ini yang juga menjadi salah satu faktor dalam konflik-konflik yang terjadi di Afghanistan. Demografi penduduk Afghanistan terdiri dari etnik : Pashtun (38%), Tajik (25%), Hazara (19%), Uzbek (6%), Chahar Aimak-Turkmen, Balochi dan lain-lain sekitar 12% . Konflik yang terjadi umumnya pada pertikaian-pertikaian etnik utama saja yaitu Pashtun, Tajik, Hazara dan Uzbek. 

Persaingan kepentingan akan etnik ini umumnya dimanfaatkan oleh pihak asing untuk mengadu domba antar etnik (seperti yang dilakukan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat) atau memang antar etnik ini akan sendirinya terpecah ketika tidak adanya musuh bersama (seperti yang dialami Mujahidin ketika Uni Soviet telah berhasil dikalahkan).

Dua hal mendasar tadi menjadi sebuah landasan awal untuk memahami bagaimana Afghanistan memang memiliki potensi alamiah untuk terjebak di dalam konflik berkepanjangan. Invasi Amerika Serikat ke Afghanistan pada tahun 2001 hingga sekarang menjadi babak baru bagi dinamika konflik yang terus berlangsung. Upaya Amerika Serikat untuk membangun pemerintahan boneka di bawah Hamid Karzai tidak dapat berjalan dengan lancar karena intervensi negara tetannga seperti Pakistan dan Iran yang juga mempengaruhi aktivitas dan pergerakan Thaliban di Afghanistan.

Amerika Serikat telah mencoba membangun stabilitas melalui Perjanjian Bonn, dimana fungsi dari Loya Jirga (Dewan Kesukuan) tradisional dihidupkan kembali untuk memilih pemerintahan transisi membentuk konstitusi. Sejumlah panglima perang yang membawahi beragam etnik difasilitasi dalam dewan tersebut. Kemudian Presiden Karzai dan Amerika Serikat membakukan sistem winner-take-all yang sentralistik dalam pemilihan umum dengan peranan dan kekuasaan yang dibatasi untuk partai politik . 

Dengan mekanisme tersebut Amerika Serikat berupaya membangun stabilitas politik di atas legitimasi pemerintahan Karzai. Konstruk ini akan cukup stabil apabila di dalam politik Afghanistan tidak terdapat “spoiler” atau perusak stabilitas sistem. Di sinilah Thaliban mengambil peran sebagai “spoiler” dalam stabilitas pemerintahan boneka Karzai.

Posisi Afghanistan yang bersentuhan langsung dengan banyak negara di Asia Tengah juga memungkinkan gerakan Thaliban dan pergerakan Islamis lainnya mendapatkan bantuan dari negara tetangga yang memiliki kepentingan di Afghanistan. Sebagai contoh Pakistan yang telah lama mendukung faksi Islami berbasis etnik Pashtun, termasuk Thaliban, untuk memperkuat pengaruhnya di Afghanistan. Untuk menangkal pertumbuhan oposisi yang sekular, Pakistan mendukung faksi Islam seperti Jamaat-i-Islamiand Fazlur Rehman Jamiat Ulema-e-Islam (JUI-F). Dengan dukungan dari JUI-F, Thaliban mampu untuk melakukan rekrutmen anggota dari madrasah Deobandi, kemudian mengatur dan mengorganisir ulang persebaran senjata di wilayah perbatasan Balochistan.

Tambahan Tentara : Solusi atau Bencana?
Kondisi Afghanistan yang demikian menjadi pelajaran bagi AS bahwa hard power bukanlah segalanya. AS melakukan pengelolaan konflik dengan menggunakan standar ganda dimana faksi yang kepentingannya tidak bertentangan dengan AS akan dirangkul dengan baik dan faksi yang menentang kepentingan AS akan dihancurkan. Stabilitas yang dibangun AS adalah stabilitas semu yang hanya menguntungkan satu pihak saja sehingga pihak lain akan terus melakukan perlawanan sampai kepentingannya juga diakomodir.

Penambahan jumlah tentara yang diajukan oleh Barrack Obama semakin memperkuat niatan tersebut dimana pola hubungan yang akan dibangun terhadap Thaliban adalah pendekatan hard power, AS akan mencoba membumi-hanguskan Thaliban dimanapun mereka berada. Tentu saja ancaman ini akan semakin meningkatkan eskalasi konflik dimana Thaliban juga akan menjawab dengan bahasa kekerasan. Instabilitas politik dan keamanan ini tentu dimanfaatkan negara lain seperti Pakistan dan Iran yang memiliki kepentingan yang bersebrangan dengan AS. Negara-negara tetangga akan memperkuat faksi-faksi yang pro terhadap mereka dan memainkan peranannya sendiri.

Siapapun yang akan menjadi pemenang dalam konflik ini, entah Amerika Serikat entah Thaliban tetapi satu hal yang pasti korban jiwa dari rakyat Afghanistan yang tidak berdosa akan terus berjatuhan.

Referensi :
Buku :
Hadibroto, dkk. “Di Balik Perseteruan AS vs Taliban : Perang Afghanistan”. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 2002
Huntington, Samuel P. “Benturan Antar Peradaban Dan Masa Depan Politik Dunia”, Yogyakarta : Qalam. 2007

Internet :
“3,200 Afghan Civilians Killed By NATO, US action since 2005: study”. diakses pada 13 April 2009
“Obama May Send Less Troops To Afghanistan”. diakses pada 13 April 2009
”Sekjen PBB akan buka Konferensi Afghanistan”. Kompas Online 13 Maret 2009, diakses pada 13 April 2009
“Taliban Kills 13 In Suicide Assault On Kandahar Government Center”. diakses pada 13 April 2009
”Insurgent Attack Frees Hundreds From Kandahar Prison”. diakses pada 11 April 2009
“Afghanistan : New US Administration, New Direction”, International Crisis Group 13 March 2009 diakses pada 13 April 2009