Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM
Dalam konteks shirah kita dapat melihat bagaimana dinul Islam dapat mengubah sebuah masyarakat yang tidak tidak beradab, yang memperbudak satu manusia dengan manusia lainnya karena alasan warna kulit, keturunan dan harta. Masyarakat yang tidak menjaga kehormatan para wanitanya dengan adat perkawinan yang begitu merendahkan, para istri dapat diwariskan dari bapak kepada anak laki-lakinya.
Masyarakat yang begitu bodoh dan kejamnya mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan yang baru saja lahir. Masyarakat yang terlena dan memuja patung-patung semu yang bahkan tidak dapat bergerak,berbicara dan membela dirinya sendiri. Masyarakat yang terikat oleh ikatan ashobiyah darah kesukuan yang bisa saling berperang dan membunuh karena persaingan diantara mereka sendiri. Dalam konteks masyarakat seperti inilah Islam hadir mengisi relung-relung jiwa dan mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat muslim yang memasrahkan dirinya kepada Allah SWT.
Ketika kita meyakini kebenaran Islam sebagai kebenaran yang hakiki dan tiada lagi kebenaran pada yang din yang lain, kita akan bertanya-tanya apa pula kebenaran itu? Kebenaran adalah sebuah informasi akan sesuatu yang tingkat validitasnya mencapai seratus persen, absolut, mutlak dan tidak ada keraguan, relativitas disana. Sekarang siapa yang memiliki klaim akan kebenaran itu sendiri, yang memiliki hak mutlaq tentu hanya Allah SWT, karena Dia-lah yang menciptakan seluruh hakikat dari kebenaran ini. Allah yang menciptakan langit, bumi, matahari, bulan, manusia, hewan, tumbuhan, waktu, alam raya beserta isinya.
Mengapa Allah? Karena kita sampai pada kesimpulan tidak dapat membuktikan bahwa alam semesta ini berdiri dengan sendirinya, sangat tidak masuk di akal!bagaimana mungkin alam semesta ini yang sedemikian kompleks dapat terbentuk dengan sendirinya, apakah kita dapat percaya jika objek sederhana seperti bangku saja dapat terbentuk dengan sendirinya, secara tiba-tiba balok-balok kayu menyusun dirinya sendiri menjadi bangku yang memiliki bentuk yang khas?
Jikalau bangku saja memiliki arsitek yang merancangnya, yang merencanakan pembuatan bangku, memotong kayunya, merancang dan menyatukannya menjadi sebuah bentuk bangku apalagi alam semesta ini yang tentu saja memiliki arsiteknya yaitu Allah SWT sang pencipta.
Ada yang mengatakan Islam tidaklah universal,itu hanya agama bangsa Arab saja. Islam tidak bisa diterapkan di tempat lain dan lain sebagainya. Ketika kita menyadari betul proses transformasi sosial-transendental yang terjadi pada masyarakat Arab jahiliyah kita akan menyadari bahwa agama ini adalah sebuah agama yang universal dimana hakikat kebenarannya akan diakui oleh seluruh budaya, adat maupun bangsa yang terdapat di dunia ini.
Proses yang terjadi di dalam masyarakat Arab jahiliyah adalah proses Islamisasi dan purifikasi konsep-konsep nilai yang telah tercemar oleh adat tradisi (dimana adat tadisi itu dibentuk oleh asumsi-asumsi masyarakat itu sendiri) digantikan dengan pemahaman Ilahiyah yang ditransmisikan melalui wahyu Allah dengan perantara Rasulullah Muhammad SAW.
Bagaimana Islam mengubah pemaknaan akan kata “Allah” yang sama sekali berbeda pada masa jahiliyah. Makna Allah pada masa jahiliyah adalah sebuah bentuk tertinggi ketuhanan yang dia tidak berdiri sendiri, memiliki banyak perantara-perantara agar manusia dapat berkomunikasi dengannya, dan menjadikan para malaikat sebagai banaat-banaat atau anak-anak perempuan “Allah”.
Sungguh sebuah pemahaman yang sangat melenceng jauh dari apa yang telah diajarkan oleh Nabiyullah Ibrahim AS yang mengajarkan millah yang lurus mengenai ketauhidan Allah SWT. Islam datang kemudian kembali memurnikan hal tersebut bahwa Allah adalah suatu Zat Tunggal yang tidak membutuhkan sesuatu di luar Diri-Nya, yang tidak membutuhkan perantara-perantara, Yang Maha Tunggal lagi Maha Mengetahui dan seluruh kekuasaan berada pada-Nya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, Allahu al Awwalu wal Akhiru.
Bagaimana Islam mengubah pemaknaan akan ukhuwwah yang pada awalnya ukhuwwah ini dimaknai sebagai ikatan persaudaraan, keterikatan akibat adanya hubungan darah, keluarga, perkawinan, kesukuan yang akhirnya akan menjebak manusia pada pemahaman sempit akan ke-ashobiyahan. Manusia akan terjebak dalam dimensi identitas yang sempit yang akan menjebak jiwanya dan membuat mereka terkungkung dalam kesempitan tersebut.
Islam hadir dan memaknai ulang akan makna ukhuwwah yang membebaskan manusia dari keterkungkungan. Ukhuwwah dimaknai sebagai keterikatan antar insan yang disandarkan kepada ketahuidan dan aqidah Islamiyah dimana kita meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Tunggal dan Muhammad adalah utusan-Nya yang menyampaikan seluruh firman-firman Nya.
Bagaimana Islam mengubah makna akan arti kata karamah atau kemuliaan yang dimana pada sebelumnya bangsa Arab Jahiliyah memandang kemuliaan adalah berdasarkan harta kekayaan dan status sosial di masyarakat. Orang yang paling mulia menurut pandangan jahiliyah adalah orang yang paling banyak hartanya, paling tinggi kedudukannya di masyarakat.
Ketika Islam datang pandangan yang keliru tersebut diubah dan ditansformasikan ke dalam pemahaman yang lebih baik dimana kemuliaan seseorang tidak dinilai dari harta kekayaan atau kedudukan sosialnya tetapi dilihat dari keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Karamah disini tidak lagi diukur melalui sudut pandang sosial an sich tetapi dilihat melalui sudut pandang sosial-transedental yang menggabungkan dua dimensi yaitu dimensi ketuhanan dan kemanusiaan.
Dengan adanya perubahan nilai-nilai yang Islam bawa dalam masyarakat Arab Jahiliyah, kita menyadari betul bahwa Islam adalah agama transformatif dimana Islam hadir bukan untuk membenarkan tradisi tetapi datang dengan sebuah kebenaran Ilahiyah dan mentradisikan kebenaran itu di dalam kehidupan manusia. Sehingga salahlah asumsi yang mengatakan bahwa Islam adalah sama dengan budaya Arab, milik orang Arab dan bukan agama universal sehingga kebenaran Islam tidak mutlak, karena hanya berlaku untuk orang Arab saja.
Kesimpulan yang bisa kita dapatkan adalah Islam adalah sebuah kebenaran transendental yang hadir di dunia yang tidak terbatasi oleh satu budaya tertentu dan bersifat universal karena sifatnya yang mutlak dan transformatif, Islam itu mengubah realitas dan bukannya tunduk pada realitas. Sehingga dakwah Islam akan terus berjalan sampai pada akhirnya seluruh dunia telah ternaungi oleh cahaya Islam seluruhnya.
Recent Comments