Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM
Pendidikan di Indonesia tidak menghargai potensi kecerdasan anak manusia yang beragam. Peserta didik diberikan kurikulum pendidikan yang seragam tanpa memberikan ruang untuk menumbuhkan ketertarikannya akan suatu hal tertentu. Seorang anak dijejali beban kurikulum yang begitu padat semenjak pendidikan dasar sehingga pendidikan menjadi ”beban” sesuatu yang harus dikerjakan oleh seorang anak. Seperti sindiran satir yang sering diungkap oleh Eko Prasetyo, ”lebih berat buku pelajaran yang dibawa sang anak daripada berat badan anak itu, betapa mengerikan!”.
Permasalahan ini diperumit dengan adanya pandangan yang diseragamkan tentang arti kecerdasan. Anak yang cerdas adalah anak yang mendapat peringkat teratas di kelas, sedangkan yang tidak dianggap bodoh atau pemalas. Tolak ukur kecerdasan anak diseragamkan melalui nilai-nilai yang terdapat di rapor, hanya sebatas kecerdasan akademis. Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah dengan kemampuan dan potensi yang berbeda-beda sehingga parameter kecerdasan ini tidaklah tunggal bahkan sangat variatif. Buku Totto Chan (Tetsuko Kuroyanagi: 1982) dengan indah menggambarkan keragaman ini di dalam bingkai sekolah Tomoe Gakuen. Diceritakan ada anak yang tertarik dengan kimia dan eksperimen, ada yang suka memelihara hewan, ada yang suka memelihara tumbuhan, ada yang hubungan antar personalnya kuat, dan ada juga yang senang dengan kesenian, olahraga, dll.
Apa yang terjadi jika parameter tunggal ini tetap digunakan pada pendidikan? Anak-anak akan merasa bahwa definisi ”cerdas” adalah satu makna yaitu anak yang mendapat peringkat teratas di kelas sedangkan yang lainnya adalah anak bodoh. Akan muncul rasa minder dan tidak percaya diri di dalam anak jika dia gagal mendapatkan ranking. Kondisi demikian diperparah dengan konstruksi sosial budaya masyrakakat kita yang berpandangan dengan parameter tunggal ini. Anak-anak akan menganggap potensi lainnya di luar bidang akademik adalah sesuatu yang tidak berguna dan akhirnya anak akan meminggirkan potensi itu dan terfokus pada peningkatan kecerdasan akademik semata. Haidar Baqir, praktisi pendidikan, dalam sebuah seminar menyatakan sistem seperti ini yang akan melahirkan anak-anak yang secara akademik unggul tetapi secara kreativitas mandul.
Kondisi demikian tentu bertentangan dengan esensi dari pendidikan yaitu untuk membebaskan, mencerahkan dan memerdekakan seseorang dari kebodohan dengan menimbulkan keingintahuan yang mendalam. Esensi ini dapat diwujudkan jika seluruh potensi manusia dapat dikembangkan sewajarnya tanpa ada suatu sistem atau pola yang menghambat pertumbuhannya. Bagaimana mungkin ini dapat diwujudkan jika seorang anak diberikan beban pelajaran yang berat, tanpa ruang untuk menimbulkan rasa ingin tahu yang mendalam. Proses belajar menjadi sesuatu yang sangat menyeramkan layaknya seoarang anak yang dipaksa menelan sesuatu yang tidak disukainya.
Penulis menilai permasalahan ini harus segera dituntaskan dengan penghapusan parameter tunggal di dalam pendidikan ini. Selain itu dibentuknya arah pendidikan baru yang lebih manusiawi, lebih memerdekakan. Anak diberikan kesempatan lebih untuk mengeksplorasi diri dan lingkungannya. Anak diberikan kesempatan untuk mengenal, melakukan apa yang disukainya yang membuat rasa ingin tahunya muncul.
Konsep pendidikan ala Tomoe Gakuen mungkin dapat menjadi inspirasi bagi pendidikan di Indonesia, yang mengajarkan pada kita pentingnya sedari dini melakukan apa yang disuka dan tidak menganggap ”cerdas” sebagai sebuah definisi yang tunggal. Tomoe Gakuen mengajarkan bahwa setiap orang itu unik, tidak ada anak yang lebih cerdas atau lebih bodoh dan menjadikan proses belajar sebagai petualangan menemukan sebuah harta karun ”jawaban”. Sebuah konsep pendidikan yang memerdekakan jiwa seorang anak.
Ngabean Lor, 27 september 2008, 5.58 WIB
hahahaha,
wahai kaum brewok,
kunjungi blog saya
http://ibnulkhattab.blogspot.com/
btw gimana nih komisariat?