Hubungan Internasional UGM
Menarik untuk melihat apa yang terjadi pada Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) UGM pada akhir tahun 2008 ini. Terdapat beberapa hal yang menjadi sejarah pada Pemira kali ini, yaitu majunya dua calon independen dari lima capresma, tiga suara terbesar melebihi angka 3000 suara (Qadaruddin AF : 3900-an, Ganendra Widigdya : 3500-an suara, Lakso Anindito : 3000-an suara), angka partisipasi pemira yang melebihi target Rektorat yaitu 13000-an suara, dan Partai Bunderan berkuasa genap menjadi sepuluh tahun. Selain itu metode kampanye yang digunakan para calon juga begitu atraktif dengan menggunakan bulletin, famlet, poster bahkan banner yang tersebar di seluruh penjuru kampus.
Tergelitik hati ini melihat metode kampanye yang digunakan oleh para calon presiden mahasiswa, seakan tidak ada bedanya dengan kampenye para politisi baik di tingkat regional maupun nasional. Kritik utama penulis adalah bagaimana kampanye tidak hanya sekedar menjadi ajang penyampaian visi dan misi, penyampaian idealisme masing-masing calon tetapi juga menjadi wadah pembentukan citra para capresma. Pada masa kampanye hampir seluruh penjuru kampus dipenuhi oleh citraan-citraan para capresma. Famlet dan poster capresma tersebar di seluruh penjuru kampus mulai dari papan-papan pengumuman, digantung di langit-langit, kantin, selasar-selasar fakultas.
Sebagai contoh apa yang penulis dapati di selasar/ kantin Fisipol UGM, kantin bagaikan disulap menjadi sebuah panggung pertunjukkan yang besar. Di langit-langit digantung famlet dari salah satu kandidat, papan pengumuman penuh dengan muka para capresma. Apakah hal ini menunjukkan meningkatnya kebebasan di alam demokrasi Indonesia sejalan dengan tingkat kemakmuran mahasiswa yang masuk di UGM?
Keresahan tadi terlontar juga di hati salah satu panelis Debat Capresma UGM, Huda Tri (Presiden Mahasiswa KM UGM 2000-an) melihat fenomena yang terjadi saat ini, dia kemudian membandingkan dengan zamannya dimana alat kampanye hanyalah lembaran-lembaran kertas sederhana, bahkan dia juga turun langsung dalam peyebaran famlet tersebut. Pertanyaan yang keluar adalah darimana dana kampanye itu didapatkan sehingga bisa menutupi anggaran kampanye yang dinilai besar.
Qadarauddin menjawab dana didapatkan dari donasi kader partai Bunderan (partai pendukung Qadar), dan mobilisasi penjualan atribut kampanye seperti poster dan stiker, dan menggunakan dana mandiri. Aulia Rahman menjawab dana didapatkan dari bisnis yang dijalankan secara mandiri selain juga dukungan dari partai lingkar mahasiswa. Lakso Anindito berkilah dana kampanyenya paling minim dikarenakan banner yang dia gunakan paling sedikit, tetapi dia menjawab dana dikumpulkan secara mandiri. Ganendra Widigdya mengaku memiliki bisnis dan mendapatkan dukungan penuh dari para pendukungnya.
Permasalahan pemasukan dana memang sudah dapat kita ketahui, tetapi yang disayangkan adalah pilihan para capresma untuk menjadikan metode kampanye pembentukan citra yang dijadikan prioritas. Penulis menilai telah terjadi proses komodifikasi citra capresma, dimana citra para capresma menjadi sesuatu yang diperjualbelikan. Dijual ketika para capresma menebar citra melaluibanner-banner yang terbentang dan dibeli oleh publik yang memilih karena terkonstruksi pikirannya melihat media kampanye para capresma.
Teringat kembali perbincangan dengan seorang rekan, dia mengatakan telah terjadi ironi atas perilaku yang dilakukan oleh para capresma. Para capresma sebagai aktivis mahasiswa mungkin sering mengkritisi metodekampanye para elit yang menghamburkan dana, dengan mengumbar citraan-citraan di seluruh pelosok negeri. Hal serupa juga terjadi walaupun dalam skala lebih kecil yaitu skala kampus dalam Pemira UGM 2008 ini. Rekan ini mengatakan, ”Seharusnya Pemira UGM dapat memberikan bentuk ideal atas pelaksanaan kontes demokrasi, karena UGM adalah miniatur Indonesia”. Itu pula yang menjadi harapan penulis agar kampanye capresma tidak menjadi ajang komodifikasi citraan para capresma.
Recent Comments