Adhe Nuansa Wibisono, S.IP
Kajian Terorisme FISIP UI
Jakarta, Rabu 5 Juni 2013

Overview Achille Lauro Hijacking


Taktik pembajakan ini diawali oleh observasi yang dilakukan oleh dua orang mastermind pembajakan yaitu Masar Kadia dan Magled al Molqi. Observasi awal ini kemudian dilakukan untuk mengukur tingkat pengamanan, jadwal makan, melihat aktivitas sehari-hari yang dilakukan oeh awak kapal dan penumpang, mengukur kemampuan para awak kapal terutama tingkat agresivitas dan self defence dari sejumlah awak kapal, respon dan kebiasaan yang dimiliki oleh awak dan kapten kapal dan juga denah dan pemetaan dari kapal Achille Lauro. Kemudian pada 28 September 1985, dilakukan aksi penyelundupan empat senapan otomatis Kalashnikov, delapan granat tangan, sembilan detonator, melalui kapal feri Habib bergerak ke kapal Achille Lauro yang dinaiki oleh empat orang pembajak. Kemudian empat pembajak ini melakukan kontak dengan Magled al Molqi yang kemudian memberikan perintah kepada mereka untuk mengeluarkan senjata mereka dan melakukan pengambilalihan atas kapal Achille Lauro.[1] 


Jumlah sandera yang terdapat di atas kapal Achille Lauro adalah 350 orang awak kapal (warganegera Italia dan Portugal) dan 97 orang penumpang dari berbagai negara. Keberadaan penumpang yang berasal dari berbagai negara ini kemudian akan menarik perhatian dunia mengenai tuntutan yang diajukan para pembajak dikarenakan menyangkut keselamatan banyak orang dari berbagai negara, diantaranya adalah Belgia, Brazil, Inggris, Perancis, Belanda, Italia, Spanyol, Swiss, Amerika Serikat dan Jerman Barat. Tidak terdapat warganegara Israel dalam kasus pembajakan ini tetapi terdapat beberapa orang keturunan Yahudi Amerika Serikat.[2]

Para pembajak mengatakan bahwa terdapat 20 orang pembajak yang ada di dalam kapal Achille Lauro, strategi ini digunakan untuk memberikan tekanan psikologis agar tidak ada upaya perlawanan dan pengambil-alihan kendali oleh awak kapal ataupun para penumpang.[3]Kemudian para pembajak memerintahkan Kapten de Rosa untuk berlayar menuju Suriah dan mengumumkan tuntutan para pembajak atas nama Palestinian Liberation Front (PLF) untuk membebaskan 50 tahanan Palestina di penjara Israel. Setelah para pembajak ini mendapatkan kontak dengan otoritas Suriah mereka kemudian menuntuk agar disambungkan dan berbicara dengan Palang Merah Internasional, Kedutaan Besar Italia, Jerman Barat, Inggris agar mereka dapat melakukan tekanan politik terhadap Israel. Kapal kemudian diarahkan untuk berlayar kembali menuju Port Said, Mesir.[4]
Untuk mengatasi krisis ini kemudian Yassir Arafat, ketua umum Palestine Liberation Organization (PLO) kemudian mengirim Abu Abbas dan Hani al Hassan untuk membantu proses mediasi dan negosiasi. Pada 9 Oktober 1985, otoritas Mesir bersama Abu Abbas, utusan PLO, melakukan negosiasi dengan para pembajak. Pihak otoritas Mesir dan Italia telah memberikan penawaran terhadap para pembajak untuk membebaskan seluruh sandera dan penyerahan kapal yang kemudian ditukar dengan jaminan keamanan untuk mereka dapat keluar dari Mesir. Kemudian otoritas Mesir melakukan kontak dengan kapten kapal Achille Lauro, kapten de Rosa yang memastikan semua tawanan dalam keadaan aman, walaupun terdapat satu tahanan tewas, Leon Klinghoffer, yang telah tewas ditembak oleh para pembajak. Berdasarkan pernyataan kapten kapal ini kemudian otoritas Mesir bersedia untuk memenuhi tuntutan para pembajak yang diikuti dengan penyerahan diri para pembajak dan penyerahan kapal Achille Lauro.[5]
Analisa Efektivitas Hijacking
Perspektif rational choice mengasumsikan bahwa pelaku menghitung probabilitas keberhasilan mereka ketika mengevaluasi peluang dari aksi terorisme. Secara umum, tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk mengendalikan atau mengubah perhitungan ini melalui kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi kepastian keberhasilan. Dalam kasus pembajakan pada setengah abad terakhir, cara ini telah ditempuh terutama melalui pengetatan sistem, termasuk melalui detektor logam, penempatan petugas keamanan di gerbang bandara dan pengecekan bagasi. Menurut rational choice, keuntungan dapat berupa mendapatkan uang tebusan (internal) dan mendapatkan pengakuan politik (eksternal). [6]
Jika dilihat dari keberhasilan teknis, maka para pembajak dapat dikatakan berhasil dalam menembus sistem keamanan kapal Achille Lauro. Mereka melakukan observasi secara mendalam mengenai sistem keamanan, jadwal pergantian dan titik-titik strategis di dalam kapal kemudian para pembajak ini dapat menyelundupkan empat orang pembajak beserta senjata yang diperlukan dalam operasi pembajakan seperti : senapan otomatis, geranat tangan dan detonator. Para pembajak juga dapat melakukan pengendalian psikologis terhadap awak kapal dan para penumpang dengan memanipulasi informasi mengenai jumlah personel pembajak, melakukan ancaman kekerasan disertai ancaman pembunuhan, serta adanya aksi pembunuhan yang memberikan efek ketakutan kepada para sandera yang jumlahnya mencapai 450 orang, jumlah yang jauh lebih besar dari jumlah personel pembajak yang diduga hanya sekitar empat orang.
Tuntutan utama dari para pembajak PLF adalah untuk pembebasan 50 orang tahanan Palestina yang ada di dalam penjara Israel. Jika dilihat dari kerangka konsep di atas maka motivasi yang dimiliki para pembajak ini dapat dikategorikan sebagai motivasi eksternal. Dengan melakukan pembajakan kapal Achille Lauro ini para pembajak berpikir untuk meningkatkan daya tawarnya dengan Israel dikarenakan Achille Lauro adalah kapal internasional yang memuat para penumpang dari berbagai negara. Setelah melakukan pembajakan di kapal ini mereka mencoba melakukan negosiasi dengan melakukan daya tawar dengan kedutaan besar negara-negara terkait dimana warganya menjadi korban penyanderaan di atas kapal Achille Lauro. Negosiasi yang dilakukan dengan negara-negara itu adalah agar mereka mau melakukan tekanan politik kepada Israel dan menguatkan tuntutan PLF atas pembebasan 50 orang tahanan Palestina.
Dilihat dari keberhasilan strategis dapat dikatakan pembajakan Achille Lauro ini tidak menghasilkan keberhasilan dalam tuntutan pembebasan 50 orang tahanan Palestina di Isarel. Akhir dari skenario pembajakan ini adalah penyerahan kapal dan pembebasan para sandera yang ditukar dengan jaminan keselamatan para pembajak oleh otoritas pemerintahan Mesir. Akhir skenario ini menunjukkan kegagalan para pembajak dalam mencapai tujuan strategisnya, walau negosiasi keselamatan hidup para penumpang kemudian ditukar dengan jaminan keamanan untuk para pembajak dan tidak dilakukan operasi pembunuhan terhadap para pembajak oleh aparat keamanan setempat. Dengan ini saya menilai bahwa pembajakan Achille Lauro ini memiliki efektivitas dalam keberhasilan teknis yaitu pengambilalihan dan pembajakan kapal melalui jumlah personel yang minim, kemudian dengan itu dapat meningkatkan daya tawar untuk melakukan tekanan politik terhadap Israel tetapi mengalami kegagalan dalam tujuan strategis yaitu pembebasan tahanan Palestina dan berakhir dengan operasi penangkapan yang dilakukan oleh otoritas keamanan Mesir.
Overview Beslan School Hostage Taking

Pada 1 September 2004, sejumlah teroris melakukan penyanderaan pada suatu sekolah di Ossetia Utara, Beslan. Sekitar jam 9.00 sekelompok teroris tiba-tiba datang menyerbu Sekolah No.1 di Beslan, Rusia, setelah melakukan penyanderaan terhadap 1200 orang dan kemudian menanam 127 ranjau darat di sekitar area sekolah. Ketika ada respon yang diberikan oleh pihak kepolisian, kelompok teroris ini menyatakan bahwa mereka hanya melakukan komunikasi dengan level pejabat tinggi pemerintahan. Kemudian para teroris ini membentuk dua kelompok sandera pria dan mengarahkan mereka keluar dari aula gym. Satu kelompok ditugaskan untuk menjadi menjadi barikade pada jendela-jendela yang ada, kemudian kelompok satunya dipaksa untuk berbaris dan kemudian berlutut dengan tangan diikat ke belakang dan menghadap dinding. Kelompok yang pertama dilaporkan tidak pernah muncul kembali, ketika tugasnya telah selesai, mereka semua kemudian diarahkan pada ruang kelas di lantai dua, berdiri membelakangi dinding kemudian ditembak satu persatu. Mayat mereka kemudian dilemparkan keluar melalui jendela.[7]
Terdapat pemberitaan yang meluas mengenai kasus penyanderaan Beslan ini di media-media televisi Rusia yang menyebutkan tentang klaim pemerintahan Rusia bahwa jumlah sandera hanya berkisar 354 orang, dan para teroris yang melakukan penyanderaan tidak memberikan tuntutan politik apapun. Para teroris melihat klaim pemerintah ini sebagai upaya pelemahan negosiasi dan sebagai justifikasi atas serangan bersenjata pemerintah Rusia pada lokasi penyanderaan. Kemudian para teroris memberikan respon dengan melakukan pemberhentiaan pemberian air kepada para sandera. Kemudian sekitar pukul 14.00 pada hari kedua penyanderaan, pihak pemerintah Rusia mengirimkan Ruslan Aushev, jenderal militer dan mantan presiden Ingushetian. Aushev melakukan negosiasi dengan delegasi teroris, Khuchbarov yang menghasilkan pesan tertulis tertanggal 30 Agustus 2004, ditujukan kepada Vladimir Putin dari “hamba Allah Shamil Basayev”[8]:
“Vladimir Putin, you were not the one to start the war, but you could be the one to end it… We are offering you peace on a mutually beneficial basis in line with the principle “independence for security”. We can guarantee that if you withdraw the troops and recognize Chechen independence, then : We will not strike any political, military or economic deals with anyone against Russia. We will not have any foreign military bases even temporary ones, we will not support or finance group fighting the Russian Federation, we will join the Commonwealth of Independent States, we wil stay in the ruble zone, we could sign the Collective Security Treaty…”
Para penyandera memberikan deadline batas waktu kepada Kremlin untuk memberikan jawaban pada 4 September pagi. Aushev memberikan jaminan untuk mengirimkan surat tuntutan itu kepada Kremlin dan mengajukan pembebasan sandera anak-anak. Khuchbarov menyepakatinya dan kemudian membebaskan ibu-ibu menyusui beserta bayinya, walaupun mereka harus tetap meninggalkan anak-anak yang lebih besar tetap dalam penyanderaan. Setelah meninggalkan sekolah bersama dengan 26 orang sandera yang telah dibebaskan, Aushev kemudian mengirimkan surat tuntutan para penyandera itu menuju Kremlin. Di dalam surat tuntutan tersebut terdapat juga beberapa permintaan yang lebih spesifik dari para penyandera, yang diduga juga ditulis oleh Shamil Basayev sendiri : 1) Kami menuntut agar peperangan di Chechnya dapat dihentikan secepat mungkin disertai dengan penarikan mundur pasukan Rusia secepatnya, 2) Kami menuntut agar Vladimir Putin segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden Federasi Rusia, 3) Kami memperingatkan bahwa semua sandera baik dewasa maupun anak-anak akan menjalani mogok makan dalam mendukung tuntutan kami.[9]
Vladimir Putin kemudian memberikan respon mengenai tuntutan itu dengan jawaban bahwa “keselamatan hidup anak-anak harus diutamakan dengan segala risiko apapun, saya menyepakati hal ini tetapi dua tuntutan pertama tidak dapat dipenuhi”. Dengan jawaban ini dapat terlihat bahwa pemerintah Rusia kemudian tidak menyepakati tuntutan apapun yang diajukan oleh para penyandera terutama dua poin utama mengenai penarikan mundur pasukan Rusia dari Chechnya dan pengunduran dirinya sebagai presiden Rusia.[10]Kemudian pada hari ketiga dari penyanderaan sekitar pukul 13.00, mengikuti hasil kesepakatan dengan para teroris yang memperbolehkan untuk mengumpulkan mayat sandera yang dibunuh pada hari pertama, sebuah truk masuk mendekati lokasi sekolah dan kemudian sejumlah tembakan muncul. Hampir bersamaan terdapat sebuah ledakan terjadi di dalam sekolah, diikuti sebuah ledakan besar tidak lama kemudian, pada titik ini aksi tembak menembak tidak dapat dihindari lagi yang menyebabkan jatuhnya banyak korban penyanderaan yang tewas.[11]
Analisa Efektivitas Hostage Taking
Parameter pertama mengukur hostage taking terbilang sukses adalah dengan melihat “kesuksesan logistik” yaitu apabila teroris telah menyelesaikan misi seperti yang direncanakan. Parameter kedua mengukur hostage taking sukses adalah dengan “kesuksesan negosiasi” yang dibutuhkan oleh teroris untuk menyelesaikan misinya secara sukses dan mendapatkan sebagian atau semua tuntutan yang mereka ajukan. [12]
Jika dilihat dari kesuksesan logistik maka saya menilai bahwa aksi para teroris Chechen dalam kasus penyanderaan Beslan ini telah dikatakan sukses. Para teroris telah menyelesaikan misi penyanderaan sesuai yang direncanakan seperti melakukan banyak tindakan preventif dalam aksi penyanderaan Beslan ini yaitu melakukan pembentengan lokasi, menyebarkan sejumlah bahan peledak di sekitar lokasi sekolah, menyiapkan perangkap dan jebakan di setiap celah titik masuk, dan melakukan pengawasan melalui kamera remote control, menyebarkan para sniper pada posisi strategis, menggunakan masker anti gas dan anjing penjaga dalam rangka melakukan pencegahan terhadap kemungkinan penggunaan gas anestetik oleh aparat keamanan, dan menyiapkan berbagai perangkat keamanan lainnya. Dengan persiapan seperti inilah para teroris kemudian dapat menguasai gedung sekolah Beslan dan melakukan penyanderaan atas 1200 orang salam jangka waktu sepanjang 3 hari sebelum dikalahkan oleh pihak keamanan Rusia.
Apabila dilihat dari sisi kesuksesan negosiasi, yaitu mendapatkan sebagian atau semua tuntutan yang diajukan maka saya menilai teroris Chechen mengalami kegagalan pada sisi ini. Tuntutan yang diajukan oleh kelompok ini ada tiga : 1) Penarikan mundur pasukan Rusia dari Chechnya, 2) Pengunduran diri Vladimir Putin dari jabatan Presiden Rusia, 3) Ancaman mogok makan terhadap semua sandera. Tuntutan strategis yang berarti bagi kelompok Chechen ini adalah tuntutan yang pertama dan kedua, tetappi pihak Rusia tidak menyepakati tuntutan itu dan mempersiapkan operasi penyerangan sebagai balasan dari tiga tuntutan kelompok Chechen. Akhir dari kasus penyanderaan Beslan ini adalah operasi penyerangan yang dilakukan otoritas Rusia yang kemudian menyebabkan jatuhnya banyak korban tewas baik dari sisi sandera maupun pelaku penyanderaan, yaitu sekitar 355 orang jumlah korban sandera tewas dan sekitar 28 orang pelaku yang tewas.
Kasus penyanderaan Beslan ini kemudian bisa dikatakan dapat berjalan dalam level kesuksesan logistik dimana kelompok teroris Chechen dengan sukses dapat mengambil alih sekolah Beslan dan melakukan penyanderaan untuk mengeluarkan sebuah tuntutan politik. Pada level kesuksesan negosiasi kelompok teroris Chechen mengalami kegagalan karena tidak ada satupun dari tuntutannya yang dikabulkan oleh pemerintah Rusia dan kemudian kelompok teroris Chechen dikalahkan dalam sebuah operasi penyerangan yang dilakukan pemerintah Rusia. Tiga tuntutan yang diajukan oleh kelompok Chechen itu tidak ada satupun yang terwujud dan kelompok teroris Chechen mengalami kehilangan seluruh personel dalam operasi penyergapan terhadap 28 personel yang melakukan penyanderaan.
Referensi :
Anderson, Sean K. and Peter N. Spagnolo, “The Achille Lauro Hijacking”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007)
Dolnik, Adam, “The Siege Of Beslan School No. 1”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007)
Dugan, Laura, et.al, “Testing A Rational Choice Model Of Airline Hijackings”, (Criminology Volume 43 Number 4 2005)
Sandler, Todd, and John L. Scott, “Terrorist Success in Hostage-Taking Incidents: An Empirical Study”, The Journal of Conflict Resolution, Vol. 31, No. 1, (Sage Publications, 1987)


[1] Sean K. Anderson and Peter N. Spagnolo, “The Achille Lauro Hijacking”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 53
[2] Sean K. Anderson and Peter N. Spagnolo, “The Achille Lauro Hijacking”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 55
[3] Sean K. Anderson and Peter N. Spagnolo, “The Achille Lauro Hijacking”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 56
[4] Sean K. Anderson and Peter N. Spagnolo, “The Achille Lauro Hijacking”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 58
[5] Sean K. Anderson and Peter N. Spagnolo, “The Achille Lauro Hijacking”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 59
[6] Laura Dugan, et.al, “Testing A Rational Choice Model Of Airline Hijackings”, (Criminology Volume 43 Number 4 2005), hal 1034
[7] Adam Dolnik, “The Siege Of Beslan School No. 1”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 177-178
[8] Adam Dolnik, “The Siege Of Beslan School No. 1”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 179-180
[9] Adam Dolnik, “The Siege Of Beslan School No. 1”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 180
[10] Adam Dolnik, “The Siege Of Beslan School No. 1”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 180
[11] Adam Dolnik, “The Siege Of Beslan School No. 1”, dalam “Countering Terrorism and Insurgency in the 21st Century : International Perspectives”, Volume 3 : Lessons From The Fight Against Terrorism, (Praeger Security International : London, 2007), hal 180
[12] Todd Sandler and John L. Scott, “Terrorist Success in Hostage-Taking Incidents: An Empirical Study”, The Journal of Conflict Resolution, Vol. 31, No. 1, (Sage Publications, 1987), hal 37