Adhe Nuansa Wibisono, S.IP
Kajian Terorisme FISIP UI
Jakarta, Selasa 11 Juni 2013
Apa itu Future Studies?
Sebuah bidang baru dalam riset sosial telah dibuat untuk melakukan studi akan masa depan, yaitu disebut dengan future studies. Future studies ini adalah sebuah studi sistematis untuk memprediksi masa depan, dan praktisinya dikenal sebagai futuris. Futuris bertujuan untuk menemukan atau menciptakan, mengusulkan, memeriksa dan mengevaluasi masa depan. Futuure studies ini dilahirkan dalam rangka membantu manusia dalam memilih dan menciptakan masa depan yang paling diinginkan.[1] Publikasi “The Image of The Future” oleh F.L, Polak pada tahun 1951 adalah sebuah sinyalemen utama dan “The Art of Conjecture” oleh B. De Jouvenel yang muncul pada tahun 1964 adalah sinyalemen lainnya. Polak menggunakan konsep “citra masa depan” untuk menganalisa jatuh dan bangkitnya sebuah peradaban (F.L. Polak, The Image of the Future, 1951) dan Jouvenel membawa banyak prinsip-prinsip akan studi masa depan bersama di bawah narasi yang sama untuk pertama kalinya.[2]
Pada tahun 1945, untuk menjaga kapabilitas dan kapasitas militer US Army Air Corps, Jenderal H.H. Arnold, membentuk sebuah unit penelitian yang disebut dengan Research and Development Units (RAND) untuk memecahkan masalah manajemen dan strategu peperangan. RAND Corporation menjadi salah satu lembaga paling berpengaruh dari banyak lembaga, institut, dan organisasi lain yang terlibat dalam “riset pemikiran” dan kemudian dikenal sebagai lembaga “think tank” (Dickson, 1972). Sebagian besar dari apa yang dihasilkan RAND ada hubungannya dengan konsep future studies dalam beberapa cara, yaitu : kebijakan alternatif, desain kebijakan, saran, peringatan, rencana jangka panjang, prediksi dan ide-ide baru.[3]
Perkembangan lainnya dalam studi kebijakan juga berkontribusi pada perkembangan future studies. H.D. Laswell, D. Lerner dan beberapa peneliti lainnya mengusulkan pembentukan ilmu studi kebijakan pada tahun 1951. Tujuannya adalah : (1) untuk mempelajari kebijakan suatu proses pengambilan keputusan, dan (2) informasi yang tersedia dapat membantu para pengambil kebijakan dalam tugas-tugas mereka. Tujuan utama futuris adalah untuk memelihara atau meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Salah satu ciri khas futuris adalah melaksanakan tujuan ini dengan secara sistematis mengeksplorasi ragam alternatif dari masa depan. Mereka melakukan prediksi melalui cara “berpikir prospektif”, dan mencoba untuk membuat suatu “alternatif baru” akan masa depan – suatu penjelasan visioner akan penyelidikan sistematis akan suatu kemungkinan dan evaluasi atas suatu kecendrungan yang ada (Toffler: 1978). “the possible, the probable and the preferable” – ini adalah sesuatu yang futuris lakukan untuk mengetahui apa yang bisa, apa yang mungkin, dan apa yang seharusnya terjadi.[4]
Untuk melaksanakan tugas, futuris juga berusaha untuk mengetahui apa yang menyebabkan perubahan, suatu proses dinamis yang mendasari perkembangan teknologi di satu sisi dan perubahan dalam tatanan politik, ekonomi, sosial dan budaya di sisi lainnya. Futuris juga berusaha untuk menentukan perubahan antisipatif apa yang harus diterima karena mereka berada di luar kendali manusia dan perubahan apa yang bisa dikendalikan manusia. Juga para futuris berusaha untuk menemukan konsekuensi tak terduga, tidak diinginkan, dan tidak diakui dalam kehidupan manusia.[5]
Dengan demikian para futuris berusaha untuk memperjelas tujuan dan nilai-nilai, menggambarkan tren masa depan, menjelaskan kondisi, merumuskan alternatif gambaran masa depan dan menemukan, mengevaluasi, dan memilih kebijakan alternatif (Lasswell, Projecting the Future, 1967). Futuris juga mempelajari gambaran masa depan dari berbagai kelompok, seperti pemimpin nasional atau penghuni kawasan kumuh (J.A. Mau, Social Changes and Images of the Future, 1968). Futuris menganalisa gambaran sosial dominan masa depan dan implikasinya terhadap naik turunnya dari seluruh peradaban (F.L. Polak, The Image of the Future, 1961).[6]
Tujuan lain dari future studies melibatkan kejadian-kejadian di masa sekarang. Pertama, aksi yang terjadi di masa sekarang adalah apa yang akan membentuk masa depan. Dengan demikian, kondisi saat ini harus dipelajari, dikarenak berpikir akan masa depan sebagian besar tentang apa yang harus dilakukan sekarang, yaitu, apa tindakan yang akan diambil untuk menciptakan masa depan yang akan menjadi seperti yang diinginkan, mengingat kondisi saat ini dan harapan untuk masa depan. Kedua, pemikiran masa depan memainkan peran yang berorientasi, membuat orang tahu di mana mereka berada di masa sekarang. Seringkali, kecepatan dari suatu perubahan membuat kebingungan akan apa yang terjadi di masa sekarang dan apa yang terjadi di masa lalu. Ketiga, hasil penelitian future studies membantu orang untuk menyeimbangkan tuntutan masa kini terhadap kemungkinan-kemungkinan dari masa depan.
Asumsi Future Studies
Pertama, ada beberapa asumsi umum mengenai future studies. Dua contohnya adalah sebagai berikut :
- Manusia adalah mahluk pengejar tujuan, mereka bertindak, dikarenakan tujuan dan untuk melakukan pencapaian tujuan. Mereka membuat tujuan untuk diri mereka sendiri dan mulai mencoba untuk mencapainya.
- Masyarakat terdiri dari pola interaksi sosial yang berulang dan memunculkan rutinitas perilaku manusia yang dipengaruhi oleh waktu, ruang, kenangan, harapan, harapan dan ketakutan untuk masa depan dan keputusan. Masyarakat dibentuk setiap harinya dalam pola “act, react and interact”
Kedua, ada sejumlah asumsi future studies yang spesifik, diantaranya adalah sebagai berikut :
- Waktu bergerak secara tidak beraturan, dari masa lalu dan dalam sesaat menuju masa depan
- Tidak semua yang akan ada di masa depan, sudah ada atau tidak ada di masa kini
- Berpikir akan masa depan sangat penting bagi tindakan manusia, “reaksi” mungkin bisa dilakukan tanpa berpikir akan masa depan
- Masa depan tidak sepenuhnya ditentukan
- Hasil masa depan dapat dipengaruhi oleh tindakan individu dan kolektif, oleh pilihan orang melakukan tindakan dalam satu cara atau cara lain
- Interdependensi dalam kehidupan mengundang perspektif holistik dan pendekatan multidisiplin ketika melakukan poenyajian informasi
- Beberapa masa depan lebih baik daripada masa depan lainnya
- Satu-satunya pengetahuan yang benar-benar berguna adalah pengetahuan tentang masa depan. Asumsi ini mengikuti dari kenyataan bahwa masa lalu tidak dapat lagi dirubah
- Tidak ada pengetahuan tentang masa depan. Meskipun ada fakta masa lalu, sekarang dan pilihan kemungkinan masa depan, tidak ada kemungkinan masa lalu dan ada fakta masa depan
Metode Penelitian Future Studies
Ada banyak aspek masa lalu dan realitas saat ini yang memiliki beberapa kaitan pada masa depan dan hal ini juga, dapat dipelajari dengan menggunakan metode standar ilmu dan ilmu sosial, mereka termasuk :
- Gambaran masyarakat saat ini dan alternatif masa depan
- Ekspektasi masyarakat akan masa depan yang paling mungkin
- Sikap, nilai dan tujuan masyarakat, dan preferensi mereka akan masa depan alternatif
- Intensi masyarakat untuk bertindak dalam cara-cara tertentu, sebagaimana intensi mereka untuk memilih, untuk berinvestasi atau untuk membeli produk
- Kewajiban dan komitmen sosial masyarakat kepada orang lainnya
- Pengalaman, tradisi dan sejarah masyarakat disertai dengan keputusan masa lalu akan fenomena sosial yang terjadi
- Analisis tren akan time series data
- Kemungkinan-kemungkinan yang akan ada di masa depan, kemungkinan yang riil dan dapat dipelajari sebagaimana realitas lainnya
- Penyajian penjelasan akan suatu prediksi, futuris dapat memprediksi masa depan dengan membuat asumsi yang jelas
Sejauh ini para futuris telah mmengembangkan metode khusus, yaitu dengan mengadaptasi metode standar atau membuat suatu metode baru untuk mencapai tujuan khusus mereka (Gordon 1992). McHale dan McHale (1975) dalam survei internasional mereka akan futuris mengidentifikasi lebih dari 17 pendekatan metodologis meliputi : extrapolation techniques, using time series data, statistical model, brainstorming, scenario writing, simulation, historical analogy, probabilistic forecasting, delphi techniques, operational models, cross impact analysis, causal modeling, network analysis, relevance trees, gaming dan contextual mapping.[7]
Monitoring, adalah proses penilaian suatu peristiwa yang terjadi dan segera dilakukan proyeksi ke masa depan. Ini adalah pengumpulan data secara online dan kombinasi analisis dengan menggunakan metode ekstrapolasi langsung. Sebagai contoh, termasuk scanning (mencari lingkungan untuk sinyal), segera menganalisis kecenderungan tren data yang relevan dan memproyeksikan mereka, terus menerus merevisi kedua tren dan proyeksi mereka sebagai sinyal terus datang, dan kemudian, jika proyeksi jatuh di bawah atau di atas tingkat tertentu, sering bereaksi dengan beberapa tindakan yang dirancang untuk mempengaruhi tren masa depan.
The Delphi technique, melibatkan penggunaan ahli sebagai responden dalam serangkaian survei panel. Awalnya pertanyaan yang diajukan tentang sifat dan waktu pengembangan masa depan, dan pertanyaan itu kembali ditanyakan, mungkin beberapa kali setelah panelis ahli telah diberitahu tentang tanggapan ahli lain pada tahap awal survei. Modeling and simulation, dimulai dengan basis data yang riil, kemudian dibuat beberapa asumsi, maka mereka akan mengolah implikasi dari model mereka melalui simulasi komputer.
Surveys of behavioral intentions, adalah suatu cara untuk mempelajari masa depan. Sebagai contoh kita dapat melakukannya pada survey intensi voting, survey intensi konsumen untuk membeli produk tertentu, survey intensi pengusaha membuat pengeluaran modal, atau proyeksi anggaran pemerintah yang memiliki konsekuensi masa depan. Melakukan survey terhadap berbagai intensi tersebut telah menjadi metode yang standar untuk mempelajari masa depan. Scenario writing, adalah narasi akan masa depan apa yang mungkin atau dapat terjadi dalam keadaan tertentu, kecenderungan ini akan terus berlangsung. Misalnya jika beberapa program spesifik akan kebijakan alternatif telah diambil. Hal ini dapat dikombinasikan dengan hampir semua metode lainnya, dari yang paling kualitatif sampai yang paling kuantitatif dan metode ini mengizinkan orang untuk memvisualisasikan dan mengeksplorasi alternatif masa depan.
Referensi
Bell, Wendel, ”What Do We Mean by Future Studies”, dalam, Richard A. Slaughter (ed), “New Thinking for a New Millenium”, (London : Routledge, 1996)
Curry, Andrew, and Anthony Hodgson, “Seeing in Multiple Horizons : Connecting Futures to Strategy”, Journal of Future Studies, Vol. 13 No. 1, (August 2008)
Inayatullah, Sohail, “Six Pillars : Futures Thinking For Transforming”, Foresight Journal Vol. 10 No. 1, (2008)
[1] Wendel Bell,”What Do We Mean by Future Studies”, dalam, Richard A. Slaughter (ed), “New Thinking for a New Millenium”, (London : Routledge, 1996), hal 3
[2] Wendel Bell,”What Do We Mean by Future Studies”, dalam, Richard A. Slaughter (ed), “New Thinking for a New Millenium”, (London : Routledge, 1996), hal 5
[3] Wendel Bell,”What Do We Mean by Future Studies”, dalam, Richard A. Slaughter (ed), “New Thinking for a New Millenium”, (London : Routledge, 1996), hal 7
[4] Wendel Bell,”What Do We Mean by Future Studies”, dalam, Richard A. Slaughter (ed), “New Thinking for a New Millenium”, (London : Routledge, 1996), hal 9
[5] Wendel Bell,”What Do We Mean by Future Studies”, dalam, Richard A. Slaughter (ed), “New Thinking for a New Millenium”, (London : Routledge, 1996), hal 10
[6] Wendel Bell,”What Do We Mean by Future Studies”, dalam, Richard A. Slaughter (ed), “New Thinking for a New Millenium”, (London : Routledge, 1996), hal 10
[7] Wendel Bell,”What Do We Mean by Future Studies”, dalam, Richard A. Slaughter (ed), “New Thinking for a New Millenium”, (London : Routledge, 1996), hal 16
tambah referensi Gan:
Masini, Eleonara B., 2002, "Studi Futuristik", Kreasi Wacana.
siaap broo, he he.. ini lagi coba2 review bro