Yudi Latif, Ph.D (Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia)
BOGOR – Sekolah Kepemimpinan Bangsa mengadakan Pelatihan School for Nation Leader (SNL) dengan tema “Pemimpin Muda denganJati Diri Ke-Indonesiaan”, pada 14 – 20 April 2015, di Kawasan Wisata Djampang, Bogor, yang diikuti oleh ratusan perwakilan aktivis dari 40 kampus dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Pada satu sesi materi “Indonesia Negara Paripurna dan Lapis Genealogi Intelejensia Muslim Indonesia” yang menghadirkan Yudi Latif (Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia). Dalam pemaparannya Yudi Latif menyebutkan peranan penting dari agama Islam yang diwakili oleh ulama, kaum santri dan aktivis Islam dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Islam yang diwakili oleh pemberontakan ulama dan kaum santri menjadi nyala api yang mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Ruang publik pertama di nusantara ini diawali pada jaringan keagamaan seperti masjid, surau, dan pesantren”.
“Faktor penting yang memunculkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme adalah agama Islam, dimana semangat egalitarianisme Islam mendobrak cara pandang feodalisme yang begitu dominan di nusantara saat itu. Sejak awal tokoh-tokoh penting yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah para pejuang Islam”.
Yudi Latif juga menjelaskan proses munculnya generasi pertama ‘intelejensia’ yang akan berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Pada tahun 1850-an dengan latar belakang politik perkebunan di nusantara, Belanda membutuhkan tenaga administratif rendahan untuk mendukung kemajuan industri perkebunan maka mulai bermunculan sekolah Eropa di nusantara. Didukung dengan munculnya kebijakan ‘Politik Etis’ pada 1900-an, maka terbentuklah generasi pertama ‘intelejensia’ atau kelompok terdidik dalam pendidikan Barat di nusantara”.
“Generasi pertama intelejensia adalah generasi HOS Cokroaminoto, H. Agus Salim, Dr. Cipto Mangunkusumo dan Dr. Sutomo. Mereka adalah generasi yang disebut sebagai generasi ‘proto nasionalisme’, yaitu generasi yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa walaupun masih berlatar belakang keagamaan dan kedaerahan”, ungkap Direktur Eksekutif Reform Institute tersebut.
Terkait dengan perjuangan kemerdekaan, Yudi Latif menjelaskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia belum selesai hanya dengan kemerdekaan saja.
“Jika kita melihat kembali bunyi Pembukaan UUD 1945 disana tercatat, mengantarkan rakyat ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Artinya para pendiri bangsa ini ingin mengatakan bahwa perjuangan bangsa Indonesia belum selesai, perjuangan di alam kemerdekaan itu baru saja dimulai”.
Di akhir pemaparannya Yudi Latif menyebutkan siklus sejarah peradaban, dimana ia melihat Indonesia ke depan akan bangkit menjadi negara besar, “Pada abad ke 7 sampai ke 13 terdapat tiga dinasti imperium besar yang memimpin dunia dalam waktu yang hampir bersamaan : 1) Dinasti Islam Abbasiyah di Baghdad, 2) Dinasti Tang di Cina, 3) Dinasti Sriwijaya di Nusantara”.
“Saya melihat siklus sejarah akan kembali lagi dimana Indonesia akan bangkit menjadi peradaban besar, karena Indonesia adalah sintesa bertemunya dua imperium besar di masa lalu, dinasti Islam Abbasiyah dan dinasti Sriwijaya”, pungkasnya.