![]() |
| Muhammad Jazir ASP (Dewan Penasehat Pusat Keluarga Marhaenisme) |
BOGOR – Sekolah Kepemimpinan Bangsa mengadakan Pelatihan School for Nation Leader (SNL) dengan tema “Pemimpin Muda dengan Jati Diri Ke-Indonesiaan”, pada akhir April 2015 di Kawasan Wisata Djampang, Bogor, yang diikuti oleh ratusan perwakilan aktivis dari 40 kampus dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Dalam satu sesi materi yang disampaikan oleh Muhammad Jazir ASP (Dewan Penasehat Pusat Keluarga Marhaenisme) yang bertemakan “Inspirasi Negara Madinah dalam Pembentukan Negara Indonesia”, mengungkapkan bahwa nasionalisme itu adalah alat perjuangan umat Islam melawan penjajahan kolonial.
“Nasionalisme itu alat perjuangan kaum muslim melawan penjajahan. Hubbul wathon minal iman, cinta negara itu sebagian dari keimanan. Nasionalisme Indonesia itu adalah anak kandung dan hasil dari perjuangan umat Islam”.
“Serikat Islam (SI) pada tahun 1919, anggotanya telah mencapai 2,25 juta orang. Dengan pengaruhnya yang luas saat itu, HOS Cokroaminoto, Ketua SI, sampai dijuluki sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota. Saat itu SI berani menggelar kongres dengan tema perlawanan yang provokatif seperti “Kapitalisme Berdosa, Bersatulah Kaum Melarat“, ungkapnya.
Muhammad Jazir menilai bahwa pemimpin negeri ini telah kehilangan jiwa nasionalismenya. Disebabkan karena pemimpin tidak lagi berfikir menjaga kedaulatan bangsanya, justru yang terjadi sebaliknya, malah menyerahkannya kepada asing.
“Freeport dan Blok Cepu menjadi jaminan utang Amerika Serikat kepada China. Presiden Jokowi malah menandatangani perpanjangan kontrak dengan Freeport. Negara telah melanggar undang-undangnya sendiri dalam kasus Freeport dan Blok Cepu”.
Tim Ahli Pusat Studi Pancasila UGM tersebut juga mengkritisi perguruan tinggi dan para guru besar yang telah kehilangan jatidirinya. “Para guru besar tiarap karena guru besar hanya sekedar menjadi administratur pendidikan, guru besar yang seharusnya menjadi guru bangsa hanya menjadi tukang pendidikan”.
“Perguruan Tinggi tidak lagi menjadi pencetak pemimpin tapi melahirkan tukang, saya pikir perlu sekali adanya Sekolah Kepemimpinan di luar kampus”, tegasnya.
Muhammad Jazir juga menilai pemerintahan Jokowi telah kehilangan ideologinya. Menurutnya kabinet Trisakti yang berdaulat dan ideologis, konsepnya berubah sekedar menjadi kabinet ‘kerja”, “Menurut saya Jokowi itu hanya tukang presiden, presiden tanpa kedaulatan. Kabinet Trisakti itu seharusnya ideologis, kalau kabinet kerja itu mentalitas budak”.
Pada akhir pemaparannya Muhammad Jazir menjelaskan bahwa kedaulatan presiden telah dipangkas dan fenomena dinasti politik saat ini kembali menguat. “Peran presiden dan wakil presiden saat ini telah diambil alih oleh Kepala Staf Kepresidenan, dimana peran mengevaluasi kinerja menteri telah diambil alih oleh Luhut Panjaitan, menjadikan presiden tidak punya kedaulatan”.
“Partai kembali menjadi dinasti politik, sekarang adalah para darah biru yang berkuasa di partai-partai politik, tanpa sadar kita kembali lagi pada zaman feodalisme politik”, pungkasnya

Recent Comments