Adhe Nuansa Wibisono

Ketua KAMMI Komisariat UGM 2009-2010
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (selanjutnya disingkat KAMMI) Komisariat UGM adalah percabangan dari struktur KAMMI yang berada di Universitas Gadjah Mada. Sejarah awal berdirinya KAMMI UGM tidak dapat dilepaskan dari sejarah berdirinya KAMMI Pusat. Pada awalnya terdapat beberapa mahasiswa UGM yang menjadi bagian dari delegasi LDK Jamaah Shalahuddin pada Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) ke X pada 25-29 Maret 1998 di Universitas Muhammadiyah Malang, yang pada akhirnya menjadi pertemuan awal terbentuknya KAMMI. Tercatat nama Muhammad Arif Rahman yang saat itu menjabat sebagai Ketua Jamaah Shalahuddin yang merupakan salah satu dari delapan anggota tim formatur KAMMI. Hasil formatur tersebut menetapkan Fahri Hamzah, mahasiswa UI, sebagai Ketua Umum dan Haryo Setyoko, mahasiswa UGM, sebagai Sekretaris Umum.
Visi dari KAMMI adalah menjadi “Wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami”. Visi besar tersebut diturunkan dalam tataran misi yaitu, : 1) Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia, 2) Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik mahasiswa, 3) Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara, 4) Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera, 5) Mengembangkan kerjasama antar elemen bangsa dan negara dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).
Berdirinya KAMMI UGM sekaligus juga merupakan awal terbentuknya KAMMI Daerah Istimewa Yogyakarta, dimana sebagian besar anggota KAMMI DIY pada saat itu adalah juga anggota KAMMI UGM. Sebagian besar anggota awal KAMMI UGM adalah aktivis Lembaga Dakwah Kampus (LDK) di UGM yang tersebar di fakultas-fakultas, sebagiannya juga merupakan anggota dari gerakan ekstra lain. Hal ini dimaklumi karena saat itu KAMMI masih berbentuk “kesatuan aksi”, yaitu gabungan dari kelompok-kelompok aksi mahasiswa dan bukan sebuah organisasi permanen yang memilki AD/ART.
KAMMI UGM memiliki struktur organisasi yang terdiri dari Pengurus Harian, Rumpun dan Fakultas. Bentuk turunan seperti ini digunakan untuk mensiasati besarnya konsentrasi yang dibutuhkan untuk mengelola kader KAMMI se-UGM yang tersebar di 17 fakultas di UGM. Struktur pengurus harian komisariat terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, serta empat departemen yaitu kaderisasi, pengkajian strategis, hubungan masyarakat, pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.
Sekretaris Jenderal, dialah yang mengampu fungsi administrasi dan konsolidasi internal organisasi, hal ini menjadi demikian penting mengingat jumlah kader KAMMI UGM tercatat sampai dengan 300 orang. Selain itu administrasi KAMMI UGM memiliki standardisasi dalam peroperasiannya dari tingkatan komisariat sampai dengan tingkat fakultas. Sekretaris memiliki Standard Operational Procedure (SOP) Administrasi yang menjadi rujukan administratif bagi seluruh kegiatan KAMMI UGM. Sekretaris juga memiliki fungsi penelitian dan pengembagan yang akan membantu organisasi untuk menilai kinerja dan capaian dari organisasi, disini output yang didapatkan dari penelitian dan pengembangan akan menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi bagi gerak organisasi ke depannya.
Bendahara Umum, akan bertugas sebagai pengelola keuangan KAMMI UGM, dimana arus keluar masuk keuangan KAMMI UGM akan terdokumentasikan dengan baik melalui laporan keuangan bulanan dan akan dipublikasikan secara rutin melalui media buletin dan blog. Bendahara tidak hanya mengampu fungsi administrasi keuangan tetapi juga memiliki fungsi fundraising yang diturunkan dalam struktur Badan Usaha Milik Komisariat (BUMK) yang akan menjalakan kewirausahaan agar kemandirian finansial organisasi dapat terwujud. KAMMI UGM akan mencoba membangun bisnis merchandise yang sasarannya adalah para kader KAMMI yang tersebar secara merata di seluruh UGM.
Departemen Kaderisasi, sebagai ujung tombak dari gerakan KAMMI secara rutin dan berkala melakukan fungsinya dengan menjalankan program Daurah Marhalah I (DM I) KAMMI Komisariat UGM, yaitu sebuah proses kaderisasi yang mencoba merangkum aspek pembinaan wawasan keilmuan, fisik dan ruhani sekaligus. Umumnya DM I ini dilakukan di alam terbuka dan dekat dengan areal pedesaan yang harapannya dapat membangkitkan sense kepekaan dan kepedulian kader KAMMI terhadap masyarakat luas. Kelanjutan dari DM I adalah pendidikan lanjutan untuk kader yaitu Madrasah KAMMI yang akan membangun sense sosial politik kader dimana para kader akan dibina dengan menggunakan sistem Focused Group Discussion (FGD) dalam jangka waktu tiga sampai empat bulan dengan para mentor yang telah tersertifikasi untuk melakukan program pembinaan. Proses kaderisasi untuk kader tingkat mula ini akan diantarkan sampai dengan gerbang Sertifikasi AB 1, dimana para kader mula secara resmi telah berstatus sebagai anggota biasa 1 KAMMI.
Departemen Pengkajian Strategis (Kastrat), akan menjaga fungsi pembentukan wacana sosial politik kader dengan melakukan penyikapan-penyikapan terhadap isu-isu politik yang sedang berkembang baik di tingkatan nasional, lokal maupun kampus. Kastrat akan menjalankan fungsinya melalui diskusi-diskusi rutin yang akan mengundang narasumber yang memiliki kapabilitas di bidangnya. Selain diskusi, Departemen Kastrat juga memiliki tim aksi dan propaganda (akspro) yang akan bergerak secara praksis menyuarakan suara KAMMI melalui aksi massa. Tembakan utama dari aksi adalah pembentukan opini di media massa yang akan berpengaruh kepada masyarakat karena mobilitas penyebaran informasi yang luar biasa dari media massa. Upaya-upaya demonstrasi yang dilakukan juga merupakan sebuah tindakan politik yang dapat mempengaruhi jalannya kebijakan. Pemerintah, sehingga Departemen Kastrat bisa dikatakan memiliki fungsi politik yang sangat signifikan.
Departemen Hubungan Masyarakat (Humas), akan berfungsi untuk melakukan pencitraan organisasi dan melakukan pembangunan jaringan. Jikalau Kastrat yang akan melakukan pengkajian dan aksi di lapangan maka Departemen Humas yang akan mempublikasikannya melalui media buletin dan blog. Humas adalah nyawa KAMMI UGM dalam pencitraan, bagaimana KAMMI UGM dipandang oleh publik akan sangat tergantung dengan kinerja dari Humas Sampai saat ini media pencitraan dari KAMMI adalah majalah Oposisi dan buletin Militan, yang mengangkat isu-isu faktual kontemporer baik dari tingkat kampus sampai dengan global. KAMMI menyadari bahwa media adalah alat pembentuk opini yang luar biasa yaitu sebagai institusi hegemon selain lembaga agama dan pendidikan sehingga penguatan fungsi media menjadi salah satu titik perhatian KAMMI. Pembangunan jaringan yang baik dan terkelola akan diampu oleh Humas melalui audiensi berkala sehingga KAMMI akan membangun social network yang kuat dan menopang basis pergerakan dan aktivitas organisasi.
Departemen Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), salah satu bentuk konkret KAMMI dalam berkontribusi kepada masyarakat. PPM selama ini mebangun jalinan dengan masyarakat dengan membangun desa mitra dan melakukan pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan potensi masyarakat yang ada. Selama ini KAMMI UGM telah sampai pada tahapan desa mitra yaitu desa yang memiliki hubungan yang terkelola dengan baik dan menjadi fokus KAMMI dalam menjalankan program PPM. Beberapa program yang telah dijalankan oleh PPM adalah program ternak lele dan training pemberdayaan masyarakat (Community Development). Dengan pengelolaan yang lebih baik KAMMI UGM berencana mengoptimalkan fungsi ini dan semakin berkontribusi kepada masyarakat di kemudian hari.