Adhe Nuansa Wibisono 
Hubungan Internasional UGM

Pandangan Lenin mengenai demokrasi dan diktatorian dilihat dari pembagian identitasnya akan kelas-kelas sosial yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis adalah kelompok orang yang melakukan ekspolitasi terhadap pihak lain dengan memanfatkan segala fasilitas yang mereka miliki baik uang, jaringan maupun kekuasaan. 

Kelas proletar adalah orang yang terekploitasi, yang ditindas sehingga harus melakukan pertentangan kelas untuk mengambil alih dari kelas borjuis. Menurut Lenin republik demokrasi (ala borjuis) pada praktiknya adalah kediktatoran borjuis, kediktatoran pengeksploitir terhadap kelas pekerja. Lenin menganggap harus ada pergantian kekuaasaan dari kediktatoran borjuis kepada kediktatoran proletariat, menggantikan demokrasi untuk yang kaya kepada demokrasi untuk yang miskin.

Bucharin melihat agama sebagai “racun” yang merusak kehidupan masyarakat. Racun yang tersistemasi, terstruktur yang menjadi bagian dari pengekalan dominasi kelas borrjuis atas kelas proletar. Bucahrin mengambil contoh bagaimana agama katolik yang terdiri dari struktur dan  tingkatan menjadi bukti bahwa agama katolik adalah sebuah struktur/sistem yang mencoba mendominasi masyrakat. Adanya posisi Tuhan, malaikat, santo-santo,pendeta-pendeta menjadi bukti dari sistemasi pendominasian kepada masyrakat demi kepentingan gereja.

Menurut saya kritik Bucharin terhadap agama harus dilokalkan pada level agama katolik saja. Bahwa tidak bisa paradigma Bucharin ini digunakan dalam melihat agama lain terutama Islam. Kritik Bucharin mengenai validitas keberadaan Tuhan dalam versi katolik menjadi sesuatu yang sangat kritis, dia melihat kata-kata God, Lord adalah proses awal pemujaan terhadap seseorang yang memiliki kekuasaan terutama harta. Pendapat ini coba ditarik dari akar bahas God dan Lord yang menunjukkan arti yang sama dengan seseoprang yang berkuasa dan memiliki harta yang banyak. 

Bucharin mencoba meyakinkan bahwa konsepsi akan Tuhan adalah pemujaan kepada seseorang pada zaman dahulu kala yang sangat berkuasa dan perlahan-lahan masyrarakat menyembahnya. Bucharin meragukan konsepsi Ketuhanan dalam agama katolik dan melihatnya sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaan para klergi atau pendeta. 

Pandangan ini ditolak dalam Islam karena tidak adanya kekuasaan absolut di tangan para pendeta/penguasa agama, tidak ada status istimewa seseorang sehingga dapat memberikan surat pengampunan dosa kepada orang lain. Konsepsi kekuasaan dalam Islam adalah amanah / tanggung jawab bukan untuk memperkaya atau menguntungkan sekelompok orang tertentu. Tidak tepat jika kritik Bucharin terhadap agama katolik menjadi parameter dalam melihat “agama” secara keseluruhan.

Kesadaran kelas menurut Lukacs adalah kondisi dimana masyarakat dapat melihat realitas adanya penindasan dari kelompok borjuis terhadap kelompok proletar. Penindasan yang dilakukan itu tidak disadari oleh kaum proletar karena adanya distorsi sejarah, distorsi informasi akan apa yang sebenarnya terjadi. 

Masyarakat terjebak dalam kesadaran semu sehingga harus dibagnkitkan kesadaran riil di dalam kesadaran semu tersebut. Kesadaran kelas ini menjadi awal bagi perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan oleh kelas borjuis, menyadarkan masyrakat yang selama ini tertidur bahwa ada masalah , ada penindasan dan menjadikannya awal dari perlawanan terhadap penindasan. Bagimana dapat melawan jika tidak sadar kalau selama ini terjadi penindasan? Sebuah logika yang menurut penulis sangat mudah dipahami, entah sebagai fakta ataupun sebagai sebuah propaganda.