Mahasiswa Electro Technische School Bandung, 20 Juni 1941

Adhe Nuansa Wibisono
Hubungan Internasional UGM
Kau tak kenal bangsamu sendiri
[Pramoedya Ananta Toer : Anak Semua Bangsa]
Bagaimana nasib anak indo peranakan Eropa pada zaman kolonialisme Belanda? Pramoedya Ananta Toer menggambarkan dengan baik problem dilematik yang dihadapi oleh kelompok indo-peranakan dalam kata-kata di atas. Indo-peranakan adalah suatu kelas sosial yang muncul pada zaman penjajahan akibat adanya perkawinan campur antara orang Belanda dengan orang Pribumi. Menjadikan mereka sebagai lapisan sosial hybrid yang membawa dua unsur kebudayaan yaitu Eropa dan Pribumi. Dilema umum yang dihadapi oleh orang-orang indo-peranakan adalah masalah sense kebangsaan, dimana dalam pandangan Pribumi mereka dianggap sebagai orang asing, dalam pandangan orang Belanda mereka dianggap sebagai orang Pribumi. Walaupun pada umumnya mereka lebih berpihak kepada bangsa Belanda dalam pandangan politik, kecendrungan budaya dan sense keagamaan serta kelas sosial.

Awalnya hal ini tidak menarik perhatian saya, tetapi menjadi sangat menarik beberapa waktu belakangan. Suatu ketika saya mendengar cerita tentang legenda tuan tanah di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bisa dibilang orang ini adalah salah satu orang paling kaya di daerah tersebut pada periode tahun 1920-1940 an. Tuan tanah ini memiliki tanah yang luasnya berhektar-hektar, ada kabar yang mengatakan bahwa Tuan Tanah ini adalah seorang anak peranakan Indo-Belanda. Tuan Tanah ini dikenalkan kepada saya dengan sebutan Datuk Muhammad Zahid.
Datuk Muhammad Zahid, nama ini memang terdengar lebih “Araby” daripada “Hollandisch” bagi telinga Melayu kita. Saya pun sempat berpikir bagaimana mungkin seorang keturunan Indo-Belanda dinamakan dengan nama yang sangat Melayu-Arab seperti itu. Mengapa jikalau tuan tanah ini memiliki darah keturunan Belanda, dia tidak dinamakan dengan nama yang hybrid atau asimilasi dari kedua kebudayaan yaitu Belanda dengan Indonesia-Melayu. Seperti Herman Meijer, Iskandar Jansen atau Dahlan Van der Berg misalnya.
Perkiraan saya Datuk Muhammad Zahid ini layaknya keturunan indo peranakan Belanda lainnya ketika itu ditinggalkan oleh orangtuanya pulang ke negeri Belanda dan kemudian diasuh oleh orangtua angkat yang beragama Islam, dimana Muhammad Zahid pun akhirnya menganut agama yang sama. Menurut informasi yang dituturkan oleh anak keturunannya, Muhammad Zahid kemudian diangkat anak oleh pengasuh keluarga yang bekerja kepada Meneer Belanda tersebut dan diberikan modal sejumlah harta hibah atau warisan yang cukup besar sehingga kehidupan Muhammad Zahid muda ke depannya tidak akan mengalami kesulitan.
Informasi mengenai garis keturunan dari Muhammad Zahid tidak dapat ditelusuri dengan jelas. Narasumber yang saya temui, Husni Ali Thayib, cucu dari Muhammad Zahid mengatakan bahwa ayah dari Muhammad Zahid adalah seorang Belanda totok yang kemungkinan bekerja sebagai pegawai admistrasi Gubermeen Kolonial Hindia-Belanda, sedangkan ibunya adalah seorang wanita Jawa yang kabarnya masih merupakan kerabat Keraton Kesultanan Yogyakarta yang bermukim di daerah Sleman, Yogyakarta.
Informasi ini agak sulit untuk ditelusuri kebenarannya dikarenakan minimnya dokumentasi keluarga yang diwariskan oleh Datuk Muhammad Zahid kepada anak keturunannya. Bapak Husni begitu dia disapa hanya menjelaskan, “Muhammad Zahid atau biasa saya panggil dengan “Datuk” tidak pernah menjelaskan banyak mengenai asal-usul keturunannya, ayah saya Ali Thayib yang kemungkinan masih memiliki hubungan darah langsung dengan Datuk hanya menyebutkan adanya kemungkinan Datuk memiliki kekerabatan dengan kerabat Keraton Yogyakarta dari garis pertalian ibunya”.
Diskusi mengenai Muhammad Zahid pun semakin diperlancar dengan foto-foto lama yang diperlihatkan kepada saya. Wajah sang Datuk pun kemudian diperlihatkan kepada saya, terlihat seorang laki-laki dengan garis wajah yang peranakan kebarat-baratan dengan kumis tebal yang melintang. Muhammad Zahid menggunakan pakaian ala jas Barat dilengkapi dengan kacamata tebal dan peci hitam yang digunakan agak miring, sesuai dengan mode kala itu. Foto itu diambil di beranda rumahnya di Tanah Abang, tampak di dalam foto tersebut istri Muhammad Zahid, kemudian koleganya beserta pasangan yang merupakan Bupati Banten dalam sistem administrasi kolonial pemerintah Hindia Belanda kala itu.
Foto lain yang cukup menarik adalah foto perayaan ketika anak lelaki Muhammad Zahid mengalami proses menjadi  “pengantin sunat”. Tampak sekali kemeriahan di dalam acara tersebut dimana hampir satu kampung ikut berfoto bersama Muhammad Zahid dan anak lelakinya di suatu Masjid Besar di daerah Tanah Abang.

Sang Anak Lelaki
Hal-hal menarik lain yang diceritakan mengenai Datuk Muhammad Zahid adalah mengenai caranya berinteraksi dan mendidik anak di dalam keluarga. Muhammad Zahid diceritakan selalu menggunakan bahasa Belanda dan bahasa Jerman dalam percakapan sehari-hari di dalam keluarganya. Ungkapan dalam bahasa Belanda seperti “goedemorgen (selamat pagi)”, “smakelijk eten (selamat makan)”, “hebben gegeten? (sudah makan?)  atau dalam bahasa Jerman seperti “fruhstuck (sarapan)”, “loffel (sendok)” dan “wie geht es ihnen? (apa kabar?)” kerap kali terdengar digunakan oleh Muhammad Zahid dalam berkomunikasi dengan keluarganya, terutama dengan anak lelakinya.
Kebiasaan unik lainnya yang dia terapkan di dalam keluarganya adalah tata cara makan menggunakan sendok dan garpu lengkap dengan budaya makan yang tenang dan tidak berbicara selama makan. Kebiasaan makan ini menurun kepada anak lelaki Muhammad Zahid sampai hari tuanya, yang tetap menggunakan sendok dan garpu dan tata krama makan ala Eropa tersebut seperti yang diceritakan keturunan beliau, “Ayah kami jika makan tetap menggunakan sendok dan garpu walau makannya dengan nasi sambel sekalipun”.
Sang anak lelaki pun mendapatkan kesempatan langka yang tidak mungkin didapat oleh kebanyakan pemuda Indonesia lainnya kala itu yaitu mencapai tingkat pendidikan di Technische Hogeschool Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung) tempat yang sama dimana Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, menempuh pendidikan. Sesuatu yang agak sulit untuk digapai oleh pemuda Indonesia kebanyakan pada tahun-tahun 1930-1940an, kecuali oleh kaum Belanda, kaum peranakan Belanda, kaum priyayi dan bangsawan Indonesia, serta kaum saudagar Arab dan Tionghoa.
Hal ini menunjukkan kapasitas sosial dan kapital dari Datuk Muhammad Zahid yang mampu melakukan hal tersebut, menyekolahkan anak lelakinya sampai jenjang pendidikan tertinggi yang mampu digapai di tanah nusantara ketika itu. Sehingga membuat keyakinan dari anak-keturunan dari Datuk Muhammad Zahid akan cerita bahwa tentang “tuan tanah keturunan Belanda” itu bukanlah isapan jempol belaka.
Sang anak lelaki kemudian melanjutkan kisah hidupnya dengan menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia pada perang perjuangan kemerdekaan tahun 1945, keterampilan khususnya dalam bidang teknik elektronika yang didapatnya pada bangku kuliah menjadikannya bagian dari unit khusus ketentaraan Indonesia yang mengatur alat-alat telekomunikasi dalam peperangan. Panggilan wajib militer atau menjadi Tentara Rakyat serta Tentara Pelajar adalah situasi yang dihadapi oleh setiap pemuda di bumi nusantara kala itu, tidak terkecuali oleh lapisan mahasiswa atau pelajar di universitas, termasuk juga sang anak lelaki dari Datuk Muhammad Zahid.

Anti Thesis Indo-Peranakan
Keikutsertaan sang anak lelaki dalam perang perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin menambah rumit posisi Datuk Muhammad Zahid dalam pandangan saya. Umumnya orang Indo-Peranakan Belanda memiliki pandangan politik yang mendukung keberadaan rezim kolonial Belanda di nusantara, tetapi Muhammad Zahid sepertinya berpandangan lain, dengan mengizinkan anak lelakinya mengikuti wajib militer Republik Indonesia dapat dikatakan Muhammad Zahid berpandangan politik pro-republik atau pro kemerdekaan.
Apa yang menarik dari sosok Datuk Muhammad Zahid ini adalah keberadaannya sebagai orang indo-peranakan tetapi segala sesuatu yang berkenaan dengan dirinya menunjukkan gejala yang melawan arus mainstream dalam budaya indo-peranakan. Namanya yang tidak mengandung unsur Belanda dan bernuansa Arab-Melayu. Penggunaan gelar “Datuk” yang disematkan padanya. Agama yang dianutnya adalah agama Islam dan bukan Kristen Protestan sebagaimana indo-peranakan kebanyakan. Anak lelakinya yang menjadi tentara pro-republik. Sikap politiknya yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Pilihan sikap ini menjadikan kisah Datuk Muhammad Zahid agak lain dengan kisah indo-peranakan Belanda lainnya, bisa dibilang Datuk Muhammad Zahid adalah seorang anti-thesis dari kultur indo-peranakan. Sebuah kisah balada orang indo peranakan di Indonesia zaman post-kolonial.
Satu hal yang paling menarik dari kisah ini adalah sang anak lelaki dari Datuk Muhammad Zahid. Sang tentara insinyur tersebut, Ali Thayib, dia merupakan ayah dari ayah saya :]
Pejaten Barat, Jakarta
Kamis, 9 September, 01:13