Adhe Nuansa Wibisono, S.IP
Kajian Terorisme FISIP UI

Jakarta, Jumat 19 April 2013
Sumber Utama : Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011)
Rangkuman
Al Qaeda dengan cepat mengadopsi penggunaan internet sebagai sarana terbaik untuk menyampaikan kepada publik. Situs web Al Neda, yang mulai digunakan Al Qaeda sejak tahun 2002, menerbitkan analisis mengenai perang Iraq dan Afghanistan, dengan komentar yang diberikan oleh juru bicara Al Qaeda mengenai operasi-operasi militer yang dilakukan Al Qaeda, penjelasan bagaimana perjuangan Al Qaeda kemudian akan bermanfaat bagi ummah (komunitas masyrakat muslim global) dengan melakukan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel dan pemerintahan-pemerintahan yang sekuler. Mengenai pesan simbolik yang terdapat dalam situs-situs Al Qaeda, Michael Scheuer mengatakan, “menguatkan pesan yang disampaikan Osama Bin Laden mengenai tujuan dan prioritas Al Qaeda : seruan jihad sebanyak mungkin kepada khalayak muslim diseluruh dunia”.[1]
Menurut laporan tahun 2004 oleh US Justice and Treasury Department, Al Qaeda telah menggunakan teknik komunikasi spionase “dead drop” yang diadaptasi pada media online terutama email. Sejumlah anggota Al Qaeda terpilih diberikan sebuah username dan password pada suatu akun email misalkan yahoomail.com Kemudian satu orang akan menuliskan pesan, tetapi dia tidak mengirimkan pesan tersebut kepada akun email lainnya tetapi menyimpannya dalam bentuk draft dan kemudian logout dari akun email tersebut.  Kemudian orang lainnya dari tempat yang berbeda kemudian akan mengakses akun email tersebut, membacanya di draft, kemudian akan memberikan pesan baru lagi di draft atau bisa juga dihapus. Pesan yang tidak pernah dikirimkan itu, kemudian tidak memiliki catatan ISP (Internet Servives Provider), yang kemudian tidak bisa dilacak keberadaannya dalam catatan email.[2]

Global Islamic Media Front, media yang berafiliasi dengan Al Qaeda, mengutamakan para target rekrutmen dan simpatisan yang tinggal di negara-negara Eropa, menjadi salah satu penyedia yang memiliki layanan video online yang memperlihatkan video mengenai strategi penembakan, peluncuran roket granat, peluncuran peluru kendali, peledakan mobil, penculikan sandera dan berbagai taktik perang lainnya. Selain video-video mengenai taktik perang, Al Qaeda juga memperbanyak seruan jihad kepada para simpatisannya. Majalah online Sawt Al Jihad (Suara Jihad) yang muncul pada tahun 2004 untuk mempromosikan aktivitas mujahidin.[3]
Pada tahun 2005, Ayman al-Zawahiri menuliskan pesan kepada pimpinan Al Qaeda Iraq, Abu Musab Al Zarqawy dan menyatakan, “kita berada di tengah peperangan, dan sebagian besar dari peperangan ini berada pada peperangan media. Kita berada pada peperangan media akan hati dan pikiran dari ummah”. Peperangan media yang dinyatakan Zawahiri dilakukan untuk mempertahankan kehadiran global Al Qaeda di tengah perhatian publik, baik ketika aktivitas-aktivitas Al Qaeda dalam kondisi meningkat maupun ketika kondisi menurun. Osama bin Laden membentuk departemen media Al Qaeda pada tahun 1988 sebagai bagian dari struktur organisasi orisinil Al Qaeda. Tujuan awalnya didirikannya departemen media ini untuk menyemangati dan mendukung perjuangan para mujahidin di Afghanistan yang berjuang melawan invansi Uni Soviet. Setelah itu Al Qaeda merubah pesannya menjadi seruan perlawanan terhadap Israel, Amerika Serikat dan sejumlah rezim pemerintahan di negara-negara Arab, terutama Saudi Arabia.[4]
Kemudian Al Qaeda membentuk rumah produksi medianya sendiri yang dinamakan As Sahab(Awan), yang dijalankan melalui sebuah mekanisme dan prosedur yang rumit. Video-video pernyataan sikap dari Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, dan jurubicara Al Qaeda lainnya direkam pada suatu lokasi yang asing dan terpencil. Kemudian diantarkan melalui kurir yang membawanya kepada suatu tempat yang aman untuk menguploadnya di internet dan kemudian mengirimkan video tersebut kepada rumah produksi As Sahab, yang dimana video itu kemudian diedit, diberikan alih bahasa dan ditambahkan fitur grafis. As Sahab telah menggunakan peralatan elektronik dengan kualitas tinggi (diantaranya adalah laptop Sony Vaio) dan juga telah menggunakan software pengamanan dengan kualitas tinggi.[5]
Produk final dari video itu kemudian disimpan pada flashdisk yang kemudian dibawa oleh kurir kepada warung internet dan kemudian diupload pada berbagai situs-situs yang berafiliasi kepada Al Qaeda. Kemudian link dari alamat situs-situs ini akan disebarkan melalui forum-forum diskusi dan chat rooms, selanjutnya para anggota Al Qaeda akan meng-copy dan menyebarluaskan video tersebut. Sistem distribusi seperti ini telah digunakan semenjak tahun 2005, digunakan sejak Al Qaeda memberhentikan pengiriman video kepada media Al Jazeera dan media berita lainnya, yang akan melakukan editing kepada video ini sesuai dengan kebutuhan media, yang dianggap oleh Al Qaeda menghilangkan pesan-pesan penting yang seharusnya ditampilkan dalam video tersebut.[6]
Internet telah menjadi sarana strategis bagi Al Qaeda dalam penyebaran pesan-pesan politiknya. Dengan menggunakan media online, Al Qaeda dapat melakukan operasi-operasi secara massal, menyebarluaskan produk-produknya dan  dapat melakukan penyebaran-penyebaran ide secara massif dengan risiko dan biaya yang sedikit. Seorang juru bicara Al Qaeda kemudian menyebutkan internet sebagai “Al Qaeda University of Jihad Studies”. “Universitas” ini kemudian menawarkan berbagai sarana pendidikan yang  merefleksikan teori yang diajukan oleh pemikir Al Qaeda, Abu Mus’ab Al-Sury, dimana pemikiran Al Qaeda seharusnya seperti perusahaan global yang dapat menjangkau sudut dunia manapun.[7]
Melalui buku yang ditulisnya The Global Islamic Resistance Call (2005), Al-Sury menyatakan bahwa daripada menghadirkan para rekrutmen datang ke Afghanistan atau tempat lain dimana Al Qaeda bermarkas, “menjadi sangat penting untuk memindahkan pelatihan pada setiap rumah, pada setiap kelompok dan pada setiap daerah di basis-basis negara muslim”. Al-Sury kemudian menambahkan, “penyebaran akan budaya dan kesiapan militer dan pelatihan-pelatihan menggunakan semua cara, terutama penyebaran massif melalui internet”.[8]
Pada tahun 2008, sebuah forum diskusi online yang berafiliasi kepada Al Qaeda meluncurkan sebuah artikel mengenai The Art of Recruitment, yang memberikan rekomendasi mengenai metode terencana mengenai penanaman nilai-nilai keagamaan yang radikal, yang kemudian dapat membangkitkan keyakinan akan semangat jihad yang agresif. Proses rekrutmen ini didesain untuk tetap menjaga kualitas dan melindungi keamanan organisasi. Proses ini kemudian diulangi lagi melalui situs-situs yang berafiliasi kepada Al Qaeda. Selain itu juga diberikan panduan kepada para anggota untuk melindungi dan menutupi alamat IP dari komputer atau laptop yang digunakan, bagaimana cara untuk mengguanakan proxy server, dan berbagai cara lain untuk menyembunyikan identitas online.[9]
Para anggota forum radikal juga menyadari bahwa aktivitas online mereka telah diawasi oleh banyak badan intelijen, aparat keamanan dan organisasi-organisasi yang mengawasi jaringan terorisme online. Pada tahun 2008, melalui sebuah situs Al Qaeda menerbitkan artikel “Know Your Enemy from Monitoring and Analysis Websites”, yang sfesifik menggambarkan situs penerjemahan, situs investigasi, proyek penelitian, liputan berita, dan menyatakan bahwa situs-situs ini adalah alat-alat dan media yang dimiliki musuh. Anwar al-Awlaki, seorang Imam radikal keturunan Yaman dari Amerika Serikat, menyatakan, “satu-satunya yang menghabiskan uang dan waktu untuk menerjemahkan literatur-literatur jihad adalah agen-agen intelijen negara-negara Barat”.[10]
Analisa dan Kesimpulan
 Penggunaan internet oleh kelompok terror dalam menyampaikan pesannya kepada publik secara luas menjadi fenomena baru yang semakin meningkat pasca 9/11. Momentum ini menunjukkan terjadi pergeseran cara pandang mengenai medan pertempuran (battle front) yang tadinya dimaknai dalam ruang-ruang realitas seperti area konflik, wilayah perang, kemudian bergeser juga kepada ruang-ruang dunia maya, yaitu situs web, forum-forum diskusi, media sosial dan media online. Hasil yang ingin dicapai dalam peperangan media ini adalah pembentukan opini publik yang kemudian dapat mengarahkan atensi publik kepada aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh kelompok teror. Jika selama ini negara sebagai unit politik yang menjadi lawan kelompok teror dapat mengendalikan arah opini publik melalui dominansinya pengaruh-pengaruh media mainstream yang berafiliasi kepada negara, melalui kehadiran media-media online yang berafiliasi kepada kelompok teror inilah counter-opinionitu dilakukan.
Selain itu juga berbagai fasilitas yang terdapat dalam dunia maya seperti forum diskusi, situs web dan media sosial juga digunakan kelompok teror untuk menyebarkan ide-idenya secara massif dan luas. Penyebaran ide ini kemudian ditindaklanjuti dengan adanya pola-pola perekrutan kepada simpatisan yang mulai tertarik dengan tawaran gagasan radikal yang menemukan ruang komunikasinya kepada kelompok teror melalui dunia maya. Penggunaan forum diskusi dan media sosial sebagai ruang komunikasi yang interaktif ini kemudian semakin meningkatkan intensitas dan pertemuan antara kelompok teror dengan basis simpatisan dan rekrutmen potensialnya, dunia maya menjadi ruang yang sangat efektif dalam transmisi penyebaran nilai-nilai tersebut.
Pada kesimpulan ini saya menilai bahwa terorisme telah menyentuh satu level yang saya sebut sebagai cyber-terrorism, dimana internet dan dunia maya kemudian menjadi salah satu arena pertempuran yang juga massif, pertempuran akan informasi, media, nilai, ide dan keyakinan. Dimana kelompok teror secara impresif dapat menggunakan internet sebagai sarana promosi, fundraising, sosialisasi, rekrutmen, counter-opinion ataupun framing issues. Pada titik inilah para analisis keamanan dan peneliti dalam bidang terorisme harus menyadari fenomena ini bahwa kelompok teror tidaklah lagi sama dengan kelompok teror tradisional yang sebelumnya ada, mereka semua telah bertransformasi dalam derasnya kemajuan dalam era informasi ini.
Referensi
Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011)


[1] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 26
[2] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 26
[3] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 27
[4] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 31
[5] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 31
[6] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 32
[7] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 33
[8] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 33
[9] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 36-37
[10] Philip Seib and Dana M. Janbek, “Global Terrorism and New Media : The Post-Al Qaeda Generation”, (London : Routledge, 2011), hal 37