Sumber gambar : www.boston.com

Adhe Nuansa Wibisono, S.IP

Kajian Terorisme dan Keamanan Internasional UI

Jakarta, Rabu 24 Desember 2013

Serangan Mumbai
Sekelompok 10 orang teroris dari Pakistan, yeng berasal dari kelompok Lashkar e Thaiba dan diduga didukung oleh Angkatan darat dan Badan Intelijen Pakistan, menyerang Mumbai pada tanggal 26 November 2008. Serangan terorisme dan operasi kontra-terorisme berlangsung lebih dari 60 jam dan menyebabkan korban jiwa sebesar 180 orang, banyak diantara mereka adalah warganegara asing tewas dan kemudian menyebabkan gelombang kepanikan di tengah masyarakat dan keterkejutan dunia internasional. Serangan teror Mumbai adalah serangan teroris paling serius yang pernah dihadapi oleh India dan menyebabkan dampak bagi kerusakan ekonomi, sosial dan politik di negara tersebut. Tulisan ini akan mencoba untuk menjelaskan bagaimana serangan Mumbai itu dapat terjadi dan mengapa pemerintah India gagal untuk melakukan antisipasi terhadap serangan tersebut.
Pada bulan Januari 2008, Fahim Ansari dan Sabuddin Shaikh menyerahkan peta target serangan kepada para pemimpin Lashkar e Taiba. Peta ini didapatkan melalui hasil pelacakan GPS yang dipantau oleh kelompok tersebut. Kartu identitas palsu (disertai keterangan agama Hindu) disiapkan untuk sepuluh orang penyerang yang berencana melakukan serangan di Mumbai. Untuk menyembunyikan pola komunikasi mereka, Lashkar e Taiba memesan sebuah akun pada bulan Oktober 2008 denga nama dan identitas palsu sebagai penjual VOIP. Nomor terpisah digunakan untuk melakukan komunikasi dua arah. Pembayaran dilakukan dari dua lokasi yang berbeda termasuk Pakistan dan Italia. Alamat email fiktif dibuat untuk kemudian sepuluh alamat IP di Lahore, Chicago, Kuwait, Koroliov (Rusia) dan Rawalpindi.[1]

Para penyerang ini kemudian meninggalkan perairan Pakistan pada 23 November menggunakan kapal “al Husaini”. Setiap penyerang dipersenjatai dengan menggunakan senapan AK-47 yang dilengkapi dengan 240 peluru, 10 granat, pistol jenis 7.62 dengan 14 selongsong, ponsel Nokia dan alat peledak berjenis RDX. Kelompok penyerang ini memiliki telefon satelit, ketika memasuki perairan India di wilayah pantai Saurashtra kemudian mereka membajak kapal India M.V. Kuber yang memiliki lima orang awak kapal. Empat orang dari awak kapal tersebut kemudian dibawa menuju kapal al Husaini dan dilaporkan teras dibunuh. Satu awak kapal dibiarkan sementara hidup untuk menjadi penunjuk arah sampai ke Mumbai, sampai empat mil kemudian dan akhirnya juga tewas dibunuh.
Mereka kemudian meninggalkan kapal M.V. Kuber menggunakan perahu karet dan mencapai garis pantai Mumbai sekitar pukul 20.30 pada 26 November. Para penyerang kemudian mendarat di perkampungan nelayan Machimar Nagar yang tidak jauh lokasinya dari kantor Badhwar Railway. Datang melalui jalur laut memungkinkan para penyerang ini menghindari pos pemeriksaan keamanan India di perbatasan darat atau di bandara. Kemudian mereka membagi tim mereka kepada empat kelompok dan menyebar menuju titik-titik serangan.[2]
Para penyerang kemudian mengginakan taksi, sementara satu tim berjalan menuju Chabad House. Semua tim penyerang ini dipandu oleh instrumen GPS. Target serangan adalah Leopold Cafe, Taj Palace Hotel, Chabad House, Stasiun Kereta Api dan Oberoy Hotel. Tim penyerang yang menuju Chabad House adalam kelompok yang terakhir kali sampai di lokasi penyerangan pada pukul 16.00 pada 29 November. Sedangkan dua teroris yang menyerang stasiun kereta api mencoba melarikan diri menuju Rumah Sakit Cama dimana mereka kemudian menewaskan tujuh orang dan membajak kendaraan milik perwira polisi, setelah membunuh sembilan orang termasuk tiga orang perwira polisi pada tengah malam 26 dan 27 November. Namun tidak lama kemudian mereka akhirnya dihadang dan dihentikan oleh sekelompok polisi. Satu teroris tewas terbunuh sementara yang lain ditangkap hidup-hidup. Ia adalah Ajmal Kasab, satu-satunya teroris yang tertangkap hidup-hidup, diadili dan dijatuhi hukuman mati pada tanggal 6 Mei 2010.[3]
Empat Tim Serangan
Para teroris ini kemudian membagi diri kepada empat tim serangan, satu kelompok dengan empat orang penyerang dan tiga kelompok dengan dua orang penyerang. Setelah mendarat di Mumbai, satu kelompok menggunakan taksi untuk pergi menuju Chhatrapati Shivaji Terminus(CRT), stasiun kereta api utama di Mumbai, dimana mereka menggunakan senjata api dan menembaki para penumpang di stasiun. Para teroris ini mampu menjelajah stasiun dan kemudian membunuh tanpa pandang bulu selama 90 menit, sebelum unit polisi bersenjata tiba, memaksa para teroris ini untuk pergi meninggalkan stasiun. Sejumlah besar penumpang kereta berasal dari kelas menengah yang menggunakan kereta secara rutin. Bisa dilihat dalam serangan stasiun kereta api ini para teroris bertujuan untuk membunuh warga India biasa dan bukan menargetkan orang asing. Membunuh tanpa pandang bulu ini tampaknya jelas untuk menanamkan teror dan rasa takut kepada ratusan ribu warga India yang sehari-hari menggunakan kereta  api.[4]
Para penyerang kemudian bergerak menuju Cama dan Albless Hospital, yang diikuti dengan rangkaian pembunuhan dan penembakan. Seteleh itu mereka kembali bergerak dengan mobil polisi yang mereka bajak menuju Hotel Trident-Oberoi, melakukan penembakan sepanjang jalan. Setelah adanya upaya penghadangan kemudian mereka membajak kendaraan lain tetapi kemudian berhasil dihadang oleh polisi. Dalam baku tembak berikutnya, satu teroris tewas terbunuh dan satunya lagi terluka dan ditangkap hidup-hidup. Tim kedua bergerak menuju Nariman House, sebuah kompleks perumahan komersial yang dijalankan oleh gerakan yahudi Chabad Lubavich. Para teroris kemudian melemparkan granat di sebuah pompa bensin di seberang jalan dari kompleks perumahan, menembaki bangunan di sekitar dan kemudian memasuki lobby rumah tersebut. Para teroris ini kemudian menyandera tiga belas orang dan lima orang diantaranya kemudian dibunuh.
Tim ketiga yang terdiri dari dua orang kemudian bergerak menuju Hotek Trident-Oberoi, yang diikuti oleh serangakaian pembunuhan dan penembakan tanpa pandang bulu. Dalam berita yang dilansir oleh meida, para teroris mengklaim bahwa terdapat tujuh orang penyerang dalam gedung ini dan kemudian mereka menuntut agar India membebaskan semua tahanan Mujahidin (pejuang Muslim) di dalam penjara dengan imbalan para sandera. Pengepungan berlangsung selama kurang lebih 17 jam sebelum para teroris tewas terbunuh, sebelum tewas para teroris ini berhasil membunuh tiga puluh orang dalam serangan ini.
Tim keempat adalah tim terbesar dalam serangan ini dan kemudian bergerak menuju Taj Mahal Palace Hotel. Sebelunya para teroris ini memasuki Leopold Cafe dan melakukan penembakan yang menewaskan sepuluh orang. Kemudian mereka bergerak kepada pintu masuk Taj Hotel yang berjarak hanya ratusan meter dari Leopold Cafe. Mereka berjalan melalui lantai dasar hotel dan membunuh siapa saja yang ditemui sepanjang perjalanan, kemudian naik ke lantai berikutnya, menyiapkan bahan peledak dan rencana pembakaran untuk menghambat komando keamanan pasukan pemerintah. Pengepungan di Taj Mahal Hotel berakhir 60 jam kemudian, ketika pasukan komando ati teror India berhasil menewaskan satu orang terakhir dari kawanan teroris.
Penyebaran para penyerang ini menjadi tim serangan yang berbeda menunjukkan upaya untuk mengurangi risiko operasional serangan. Setelah serangan dimulai, kegagalan atau pembunuhan terhadap setiap tim tidak akan menghalangi tim lainnya untuk melakukan serangan. Satu-satunya titik yang memungkinkan kegagalan untuk keseluruhan operasi serangan adalah ketika kawanan teroris ini masih berada di atas laut dalam perjalanan mereka menuju Mumbai. Sebenarnya ketika para teroris ini bergerak menuju perairan India, mereka telah terlihat oleh sensor badan pengawasan perbatasan India, tetapi tidak ada respon berarti yang diberikan oleh petugas keamanan perbatasan perairan di India terkait hal tersebut.
Analisa Kegagalan Intelijen India
Meskipun badan intelijen India menerima serangkaian informasi dan peringatan intelijen sejak tahun 2006 bahwa Lashkar e Thaiba telah membentuk dan melatih tim untuk melakukan serangan komando melalui jalur perairan untuk menyerang berbagai target strategis termasuk hotel-hotel mewah di Mumbai, pemerintah India tidak melakukan upaya untuk meningkatkan kapasitas polisi lokal di negara bagian Maharashtra, selain itu juga tidak ada upaya yang dilakukan dalam memperkuat pasukan patroli perairan perbatasan.
Respon pemerintah India juga terlihat mengecewakan dikarenakan mereka membutuhkan waktu 11 jam untuk menerjukan National Security Guards (NSG), pasukan elit komando terlatih untuk melawan operasi terorisme, dan kemudian tiba di lokasi kejadian di Mumbai dikarenakan mereka harus didatangkan dari New Delhi. Pada saat mereka, para kawanan teroris ini telah berhasil melakukan serangkaian pembunuhan dan pembakaran. Di sisi lain Angkatan Darat dan Angkatan Laut yang dikerahkan di lokasi untuk membantu kepolisian setempat terbukti tidak efektif dalam melawan kawanan teroris bersenjata dan terlatih ini. NSG kemudian berhasil membunuh pelaku teroris terakhir pada sore 29 November. Kepolisian setempat meskipun dengan peralatan yang sederhana dan mendapatkan banyak korban jiwa dalam proses serangan tersebut, memberikan kontribusi paling besar untuk melawan para teroris. Para petugas kepolisian melakukan perlawanan di lorong-lorong hotel dan lokasi lainnya untuk menghalau serangan teroris walaupun kemampuan dan perlengkapan mereka tidak mampu menyamai kemampuan para teroris tersebut. Kemudian akan disebutkan beberapa faktor yang menyebabkan mengapa serangan Mumbai dapat terjadi dan mengapa pemerintah India gagal untuk melakukan antisipasi terhadap serangan tersebut, diantaranya adalah :
Kegagalan Intelijen, Para pejabat intelijen India telah menerima peringatan sebelumnya baik dari sumber intelijen mereka sendiri dan dari intelijen Amerika Serikat bahwa adanya kemungkinan serangan sangatlah memungkinan. Tapi kurangnya detail dan kejelasan dari ancaman tersebut kemudian tidak menimbulkan respon khusus dari pemerintah India. Terdapat beberapa koordinasi kecil diantara beberapa badan keamanan nasional dengan Badan Penelitian dan Analisa, Biro Intelijen dan kepolisian lokal di Mumbai. Meskipun telah berhasil disadap informasi tentang adanya kemungkinan Lashkar e Thaibamelakukan serangan melalui wilayah perairan Mumbai, tidak begitu diketahui dengan jelas apakah kepolisian Mumbai atau pasukan penjaga wilayah perairan menerima informasi tersebut. Akibatnya dikarenakan tidak adanya respon yang diberikan atas informasi tersebut menyebabkan munculnya isu agar adanya respon yang cepat terhadap informasi intelijen yang didapatkan.[5] 
Kesenjangan dalam Pengawasan Pesisir Pantai, serangan ini kemudian menyorot ketidakmampuan India untuk secara efektif mengawasi wilayah garis pantai. Meskipun Badan Analisa dan Penelitian telah memiliki informasi mengenai adanya kemungkinan serangan teroris yang mendarat melalui laut, langlah-langkah yang diambil ternyata tidak cukup untuk memonitor lalu lintas maritim di sekitar wilayah perairan Mumbai. Kegagalan ini mencerminkan kekurangsiapan peralatan penjaga pantai dalam pengawasan pesisir, yaitu minimal sejumlah 100 kapal untuk mengawasi sekitar 5.000 mil garis pantai dan aset penerbangan minimal. Meskipun pemerintah pusat telah menyisihkan dana untuk pembelian 26 kapal tambahan untuk melakukan patroli di wilayah pesisir pantai India, Propinsi Maharashtra (yang Mumbai menjadi ibukotanya) menolak untuk memberikan dana yang dibutuhkan dalam proses pengawasan tersebut.[6]
Target Pengawasan yang Tidak Memadai, efektivitas dari detektor logam CRT kemudian dipertanyakan oleh banyak pihak, kemudian petugas Railway Protection Force (RPF) telah dipersenjatai, senjata mereka dianggap ketinggalan zaman dan jumlahnya sangat terbatas (satu untuk setiap dua perwira). Serangan terhadap stasiun kereta api juga memperlihatkan keterbatasan RPF dalam penanganan kontra terorisme meskipun mereka memiliki kemampuan untuk menangani kriminalitas yang umum, tetapi mereka tidak terlatih untuk menangani serangan terorisme yang telah diatur.[7]
Ekseskusi yang Tidak Sempurna atas Respon Protokol, meskipun kepolisian setempat (termasuk Anti-Terrorism Squad, ATS) telah melakukan respon secara cepat, mereka kurang terlatih untuk mendirikan posko komando dan menutup akses lokasi-lokasi penyerangan. Secara khusus mereka gagal untuk meminimalisir akses area serangan yang bisa dijangkau oleh teroris. Dikarenakan serangan tersebut terjadi di beberapa titik lokasi, polisi setempat tidak memiliki kapasitas untuk melakukan penutupan akses terhadap lokasi tersebut. Kondisi seperti inilah yang menjadi tujuan para teroris, berdasarkan pengalaman sebelumnya untuk tidak membuat polisi mampu mengantisipasi setiap serangan.[8]
Masalah Waktu Untuk Merespon, pasukan militer lokal tiba di lokasi serangan sekitar pukul 02.50, lima jam setelah tembakan pertama dikeluarkan. Unit militer khusus pertama yang datang, Marine Commandos (Marcos), tiba tidak lama kemudian, tetapi unit tersebut telah ditarik kembali sebelum melakukan serangan apapun terhadap para teroris. Baru pada pukul 08.50 pasukan elite National Security Guard (NSG) datang di lokasi kejadian. Operasi pencarian dan penyelamatan baru bisa dilakukan 30 menit setelahnya, dan operasi ini hanya dilakukan di lokasi-lokasi dimana para teroris ini bisa secara langsung untuk diintervensi dan tidak menjangkau para teroris yang bersembunyi di titik-titik strategis.[9]
Kurangnya Pelatihan Kontra-Terorisme dan Perlengkapan untuk Polisi Lokal, agar secara efektif dapat menangani insoden terorisme, respon pertama adalah tersedianya peralatan yang memadai dan pelatihan kontra-terorisme untuk menangani aksi serangan terorisme. Serangan Mumbai ini dapat menunjukkan bagaimana lemahnya persiapan kepolisian Maharashtra untuk menangani satu rencana serangan terorisme besar. Banyak petugas kepolisian terlihat pasif dikarenakan mereka dikejutkan oleh persenjataan yang dimiliki oleh para teroris. Rompi anti-peluru yang tersedia tidak mampu menahan senapan AK-47 atau AK-56. Kebanyakan petugas hanya mengenakan protektor plastik setebal 5 mm yang hanya bisa digunakan dalam kasus pengendalian kerusuhan massa tetapi tidak dirancang untuk menghadapi terorisme. Helm yang digunakan adalah helm kuno yang digunakan dalam Perang Dunia II dan tidak dirancang untuk pertempuran modern, dan sebagian unit pasukan yang terlibat dalam insiden Mumbai ini hanya membawa senapan 303 bolt-action, senapan yang digunakan oleh Angkatan Darat Inggris pada tahun 1950-an.[10]
Keterbatasan Pemadam Kebakaran dan Layanan Darurat, petugas pemadam kebakaran terlihat lambat dalam merespon insiden kebakaran dalam kasus serangan Mumbai. Mereka gagal untuk mengkoordinasikan tindakan mereka dengan kepolisian setempat dan unit pasukan paramiliter nasional dan memiliki kelemahan dalam peralatan yang tidak memadai. Keterbatasan ini menandakan buruknya kualitas pelayanan pemerintahan daerah di India, bahkan untuk kota besar dan pusat ekonomi seperti Mumbai.[11]
Buruknya Rencana Penyelamatan Sandera, dalam beberapa hal rencana penyelamatan sandera yang dilakukan NSG untuk Taj Mahal Hotel dan Trident-Oberoi Hotel memiliki permasalahan yang serius. Unit Komando gagal untuk mendirikan pusat komando operasional untuk mengkorordinasikan misi penyelamatan, tim penyelamat melakukan operasi militer dengan kondisi “buta” tanpa memahami tata letak mendasar dari lokasi bangunan tempat penyanderaan. Kedua hotel dinyatakan telah “bersih” padahal para teroris masih hidup, tindakan pengecekan dari kamar ke kamar terhambat oleh kinerja intelijen yang tidak efektif dalam memastikan berapa jumlah sandera dan seperti apa profil dari para teroris tersebut. Selain itu juga kemungkinan untuk melakukan serangan kejutan di malam hari gagal dilakukan dikarenakan tidak adanya peralatan yang memadai, seperti night-vision googles dan sistem pencitraan thermal.[12]   
Kesimpulan
Apa yang terjadi dalam Serangan Mumbai ini menunjukkan bagaimana perpaduan dari buruknya kinerja intelijen, lambatnya respon unit militer kontra-teror, lemahnya koordinasi antara unit-unit terkait di lapangan dan lemahnya perlengkapan yang dibutuhkan dalam penanganan kontra terorisme kemudian menghasilkan satu kegagalan besar dalam penanganan kontra terorisme. Keberhasilan para teroris dalam melakukan serangan dan menimbulkan korban jiwa yang besar dan kerusakan infrastruktur yang cukup parah meperlihatkan bagaimana para teroris yang terdiri dari sepuluh orang ini dapat menimbulkan tantangan yang besar bagi pihak keamanan dan kepolisian India.
Intelijen yang sudah mendapatkan laporan mengenai adanya kemungkinan serangan melalui akses garis pantai seharusnya memberikan rekomendasi yang tepat kepada pemerintah untuk melakukan penguatan pengawasan di wilayah garis pantai strategis. Unit kontra teror khusus seperti NSG seharusnya dapat memberikan respon penyelamatan yang lebih cepat dan harus adanya tindakan strategis agar markas unit khusus tidak hanya berada di New Delhi tetapi juga tesebar di beberapa kota besar yang strategis di seluruh wilayah India. Lemahnya koordinasi antara unit khusus, unit militer, unit kepolisian, unit pemadam kebakaran dan unit pelayanan darurat seharusnya bisa dievaluasi dengan peningkatan latihan bersama dalam penanganan terorisme, bagaimana setiap unit ini bisa dilatih secara spesifik dalam menghadapi serangan terorisme. Perlengkapan yang terbatas yang dimiliki oleh unit militer dan kepolisian harus direspon secepatnya oleh pemerintah India dengan melakukan pergantian alat-alat persenjataan agar tidak mengalami kekalahan serupa ketika persenjataan yang dimiliki teroris jauh lebih canggih daripada yang dimiliki oleh unit kepolisian lokal.  
Referensi
Acharya, Arabinda, etc, Terrorist Attacks in Mumbai : Picking Up The Pieces, International Centre for Political Violence and Terrorism Research, S.Rajaratnam School for International Studies, (RSIS : Singapore, 2008)
Balachandran, Vappala, Dealing With Aftermath Of Attacks: Lessons From Mumbai And Elsewhere On What To Do And What Not To Do, Pluscarden Programme Conference, St Antonys College, Oxford University, 8-9 October, 2010
Nayak, Polly, and Michael Krepon, The Unfinished Crisis : US Crisis Management After The 2008 Mumbai Attacks, (Stimson Center : Washington, 2012) 
Rabasa, Angel, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009)


[1] Vappala Balachandran, Dealing With Aftermath Of Attacks: Lessons From Mumbai And Elsewhere On What To Do And What Not To Do, Pluscarden Programme Conference, St Antony’s College, Oxford University, 8-9 October, 2010, hal 2-3
[2] Vappala Balachandran, Dealing With Aftermath Of Attacks: Lessons From Mumbai And Elsewhere On What To Do And What Not To Do, Pluscarden Programme Conference, St Antony’s College, Oxford University, 8-9 October, 2010, hal 3
[3] Vappala Balachandran, Dealing With Aftermath Of Attacks: Lessons From Mumbai And Elsewhere On What To Do And What Not To Do, Pluscarden Programme Conference, St Antony’s College, Oxford University, 8-9 October, 2010, hal 3
[4] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 5 
[5] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 9
[6] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 9
[7] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 9
[8] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 10
[9] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 10
[10] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 10
[11] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 11
[12] Angel Rabasa, etc, The Lessons of Mumbai, (RAND Corporation : Santa Monica, 2009), hal 11