David Cameron, Perdana Menteri Inggris
Adhe Nuansa Wibisono, S.IP
Kajian Terorisme FISIP UI

 Jakarta, Kamis 13 Juni 2013
 

Latar Belakang
Pada sore hari 22 Mei 2013, Lee Rigby, seorang prajurit Angkatan Darat Inggris dan Drummer dari Royal Regiment of Fusiliers, dibunuh oleh dua penyerang di dekat Royal Artillery Barracks di Woolwich, London tenggara. Rigby sedang tidak bertugas dan berjalan di sepanjang Jalan Wellington ketika ia diserang. Dua pria menabraknya dengan mobil, kemudian menggunakan pisau yang digunakan untuk menusuk dan membunuhnya sampai mati. Para pelaku tersebut kemudian menyeret tubuh Rigby ke jalan. Dua penyerang, yang tetap di tempat kejadian sampai polisi tiba, mengatakan kepada orang yang lewat bahwa mereka telah membunuh seorang tentara Inggris untuk membalas pembunuhan terhadap kaum muslim oleh tentara-tentara Inggris. Beberapa polisi tiba di lokasi sembilan menit setelah panggilan darurat dari publik, diikuti lima menit kemudian oleh petugas bersenjata. Kedua penyerang ditembak, ditangkap, dan kemudian dibawa ke rumah sakit yang terpisah. Kedua pelaku adalah warganegara Inggris keturunan Nigeria yang dibesarkan sebagai orang Kristen yang kemudian pindah memeluk agama Islam. Serangan itu dikecam oleh para pemimpin politik, komunitas muslim dan seluruh dunia pers Inggris.

Serangan ini kemudian memicu serangkaian gelombang anti Islam, seperti adanya aksi demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok ultranasionalis terhadap kelompok imigran dan minoritas muslim, meningkatnya ancaman kepada warga muslim di Inggris dan juga adanya insiden-insiden pengrusakan fasilitas keagamaan seperti masjid di berbagai tempat di Inggris. Sehari setelah insiden penyerangan Woolwich, yaitu pada tanggal 23 Mei 2013, Perdana Menteri Inggris David Cameron memberikan pernyataan politik mengenai respon pemerintah Inggris atas kasus tersebut di depan kantor kementrian Inggris di Downing Street No. 10. Melalui pernyataan tersebut sebenarnya hal apa yang ingin disampaikan oleh pemerintah Inggris kepada masyarakatnya? Hal-hal apa yang ingin ditekankan oleh pemerintah Inggris agar terlihat signifikan dan penting, identitas dan aktivitas apa yang ingin dibentuk oleh pemerintah Inggris melalui pernyataan tersebut?
Oleh karena itu makalah ini memiliki satu rumusan masalah yang mendasar yaitu : Apa signifikansi yang muncul dalam pernyataan David Cameron mengenai insiden Woolwich?
Konsep Discourse Analysis
Paul Gee (An Introduction to Discourse Analysis, 2004) memberikan penjelasan bahwa bahasa adalah elemen penting dalam penggunaan metode discourse analysis, ketika manusia berbicara atau menulis, manusia merencanakan apa yang seharusnya dikatakan dan menyesuaikannya dalam situasi apa dia melakukan komunikasi tersebut. Pada saat yang bersamaan pula, cara manusia dalam berbicara atau menulis juga menghasilkan situasi-situasi tertentu. Manusia dapat menyesuaikan bahasa yang digunakan dalam membentuk suatu kondisi tertentu. Pada titik lain manusia secara aktif menggunakan bahasa dalam lisan maupun tulisan untuk membentuk suatu dunia “aktivitas”, “identitas”, dan “institusi” dalam sekitar kehidupan manusia. Perkembanga sejarah dan kebudayaan dalam kehidupan manusia juga membentuk kebiasaan atau rutinitas. Rutinitas-rutinitas ini kemudian menjadikan aktivitas, identitas dan institusi seperti terlihat memiliki keberadaan yang lepas dari bahasa dan terjadi “di sini” dan “saat ini”, pada titik inilah penjelasan mengenai transformasi dan perubahan terjadi.[1]
Manusia secara aktif membentuk dan membentuk ulang (bulid and rebuild) dunia tidak hanya melalui bahasa tetapi juga melalui penggunaan bahasa yang disertai dengan tindakan, interaksi dan sistem simbol non bahasa, obyek, peralatan, teknologi dan sejumlah cara tertentu dari cara berpikir, menilai, merasa dan sistem kepercayaan. Pada titik tertentu apa yang dibangun manusia terkadang cukup serupa dengan apa yang telah dibangun sebelumnya, terkadang juga berbeda. Tetapi penggunaan bahasa akan selalu dilihat sebagai proses pembangunan yang aktif. Sehingga penggunaan bahasa sebagai alat, bersamaan dengan alat-alat lainnya, digunakan untuk merancang atau membentuk sesuatu. Kapanpun manusia berbicara atau menulis, manusia secara simultan selalu membentuk elemen-elemen tertentu dari sebuah “realitas”.[2]
Saya akan mencoba meminjam tiga pendekatan James Paul Gee dalam penggunaan metode discourse analysis untuk menganalisa sebuah teks. Tiga pendekatan yang akan saya gunakan tersebut adalah konsep “signifikansi”, “aktivitas dan “identitas” :
Signifikansi adalah penggunaan bahasa untuk membuat sesuatu menjadi signifikan, terlihat dan menonjol. Signifikasi juga berarti memberikan makna atau arti pada suatu teks tertentu melalui suatu cara tertentu. Sebagai contoh ketika saya memasuki sebuah ruangan, yang tidak memiliki kejelasan mengenai bagian “depan” atau “belakang” dari suatu ruangan tersebut kemudian saya mengatakan bahwa , “saya duduk di bagian depan dari ruangan tersebut”. Pada titik itu saya menggunakan bahasa dalam cara tertentu untuk menunjukkan bahwa keberadaan saya di bagian depan ruangan menjadi sesuatu yang penting dan signifikan.[3]
Aktivitas adalah penggunaan bahasa untuk dikenali dan diakui dalam sejumlah aktivitas tertentu, lebih tepatnya untuk membentuk aktivitas yang dilakukan “di sini” dan “saat ini”. Sebagai contoh saya berbicara dan berperilaku pada suatu pidato pembukaan formal sebuah pertemuan resmi tentu akan berbeda dengan cara saya berbicara dan berperilaku pada suatu “diskusi ringan” sesaat sebelum pembukaan formal dimulai. Ketika saya berperilaku, saya harus menggunakan bahasa yang tepat kepada orang lainnya tentang apa yang seharusnya saya lakukan.[4]
Identitas adalah penggunaan bahasa untuk dikenali dan diakui dalam peranan atau identitas tertentu. Sebagai contoh ketika saya berbicara dan berperilaku sebagai “ketua umum” dari sebuah komite, di saat yang lain saya akan berbicara dan berperilaku berbeda sebagai kolega atau teman yang berbicara akrab antara satu dengan lainnya. Walaupun saya memiliki posisi resmi sebagai ketua umum dari komite tersebut, saya tidak akan selalu berperilaku menggunakan identitas ketua umum. Saya harus menggunakan identitas ini pada waktu dan tempat yang tepat untuk membuatnya efektif.[5]
Profil Pelaku dan Korban Penyerangan Woolwich
Michael Olumide Adebolajo (Pelaku)
Michael Olumide Adebolajo, lahir di Lambeth dalam keluarga Kristen, kemudian kuliah sosiologi di University of Greenwich. Adebolajo menjadi salah satu dari dua tersangka pada kasus pembunuhan Lee Rigby, juga atas tuntutan kepemilikan senjata api. Dia memiliki sejarah keterlibatan dalam aktivitas Islam radikal termasuk penangkapan sebelumnya dalam sebuah aksi demonstrasi. Menurut Anjem Choudary, seorang ulama muslim radikal, Adebolajo mengubah agamanya dari Kristen ke Islam pada tahun 2003 dan memiliki hubungan dengan kelompok Islam radikal Al Muhajiroun. Adebolajo terlihat memberitakan retorika anti-Barat di Woolwich pada aksi demonstrasi yang digelar oleh Al Muhajiroun. Pada tahun 2006, Adebolajo ditangkap disekitar Old Bailey selama aksi protes atas kasus persidangan Mizanur Rahman. Pada tahun 2010, Adebolajo ditangkap di Kenya bersama lima orang lainnya. Boniface Mwaniki, kepala unit anti-terorisme Kenya, mengatakan mereka percaya bahwa Adebolajo berencana untuk mengikuti pelatihan kelompok militan Al-Shabab yang memiliki jaringan dengan Al Qaeda. Adebolajo mendapatkan bantuan konsuler oleh Kantor Luar Negeri Inggris. Dia diserahkan kepada pemerintah Inggris di Kenya dan dideportasi kembali ke Inggris. Pada saat penangkapannya Adebolajo menggunakan nama Michael Olemendis Ndemolajo.[6]
Michael Oluwatobi Adebowale (Pelaku)
Michael Oluwatobi Adebowale berusia 22 tahun lahir di Nigeria, Adebowale juga mengenyam pendidikan tinggi di University of Greenwich. Ibunya adalah petugas percobaan dan ayahnya seorang anggota staf di Komisi Tinggi Nigeria. Pada tanggal 28 Mei Adebowale dipulangkan dari rumah sakit dan dibawa ke kantor polisi di selatan London. Adebowale menjadi salah satu dari dua tersangka pada kasus pembunuhan Lee Rigby, juga atas tuntutan kepemilikan senjata api.[7]
Lee Rigby (Korban)
Lee Rigby, seorang tentara dari 2nd Battalion The Royal Regiment of Fusiliers. Rigby berasal dari Manchester di barat laut Inggris, adalah seorang drummer di sebuah band militer yang pernah bertugas di Afghanistan, Jerman, dan Siprus. Ia ditempatkan di London pada saat kematiannya. Lee Rigby bergabung dengan Angkatan Darat pada tahun 2006. Rigby juga ikut ambil bagian dalam Regimental Recruiting Team di London pada tahun 2011. “Seorang prajurit yang berpengalaman dan berbakat dan penembak senapan mesin, dia adalah seorang prajurit sejati dan memilki pengabdian ketentaraan di Afghanistan, Jerman dan Siprus,” kata komandannya Letkol Jim Taylor. Rigby, yang terdaftar pada dinas ketentaraan pada tahun 2006, juga “seorang parjurit yang populer dan cerdas,” kata seorang rekan di Angkatan Darat Inggris.[8]
Kronologi Penyerangan Woolwich
Serangan itu terjadi sekitar pukul 14:20 di Wellington Street, dekat persimpangan dengan John Wilson Street, bagian dari South Circular Road (A205) di Woolwich, sekitar 300 sampai 400 meter dari perimeter Royal Artilerry Barracks dimana Lee Rigby tinggal. Dia tidak bertugas pada saat itu dan mengenakan jaket Help for Heroes.Rigby kemudian secara sengaja ditabrak oleh penyerang di dalam mobil, kemudian ditusuk dan dibunuh oleh dua orang bersenjata dengan pisau. Setelah membunuh Rigby pelaku berusaha untuk memenggal kepalanya. Berikut ini adalah kronologi kasus penyerangan Woolwich yang dilakukan oleh Michael Adebolajo dan Michael Adebowale yang menyebabkan kematian seorang tentara Inggris[9] :
Rabu, 22 Mei 2013
14.20 : Serangan terjadi di dekat Royal Artillery Woolwich Barracks Sebuah mobil melaju melewati batas trotoar dan menabrak seorang pria yang mengenakan jaket Help For Heroes
14.20 : Dua orang pria menyerang korban itu dengan pisau dan pisau daging, menusuknya hingga tewas kemudian memenggalnya
14.30 : Salah seorang penyerang (Adebolajo) direkam pada rekaman ponsel kemudian dengan tangan berlumuran darah memegang pisau kemudian berkata bahwa kematian “tentara Inggris” itu adalah “mata untuk mata” atas kematian banyak muslim
14.30 : Ingrid Loyau-Kennett, seorang scout wanita yang berani mencoba untuk berbicara dengan penyerang lain (Adebowale)
14.40 : Polisi tiba di tempat kejadian kemudian terjadi tembak menembak antara polisi dengan pelaku
14.40 : Polisi menembak dan melukai dua tersangka
Kemudian kita dapat melihat versi kronologi lainnya mengenai kasus penyerangan Woolwich ini yang terjadi di dekat Royal Artilerry Barracks melalui pernyataan seorang polisi London[10] :
Rabu, 22 Mei 2013
14.20 : Polisi Metropolitan London menerima panggilan pertama yang berkaitan dengan insiden pada John Wilson Street di Woolwich. Penelepon mengatakan seorang pria sedang diserang. Panggilan berikutnya menggambarkan dua penyerang.
14.24 : Petugas diperintahkan ke TKP.
14:29 : pertama polisi London tiba dan menemukan korban, yang kemudian dinyatakan meninggal.
14.34 : Kedua tersangka ditembak dan kemudian dibawa ke rumah sakit setempat yang terpisah.
Tidak ada keterangan waktu yang resmi dari kepolisian mengenai detail penyerangan dan pengakuan berikut ini didapat dari salah satu pelaku yang direkam melalui kamera video oleh seorang pejalan kaki. Pihak yang berwenang juga tidak menggambarkan detail resmi dari kasus penyerangan ini. Tapi kasus penyerangan ini kurang lebih dapat digambarkan sebagai berikut: Menurut laporan saksi mata, terdapat dua orang pria kulit hitam membawa senjata, termasuk pisau dan pistol, mendekati korban di dekat Royal Artillery Barracks di Woolwich dan mulai menusuknya. Beberapa saksi mata melaporkan korban itu kemudian itu dipenggal, meskipun ini tidak pernah klarifikasi resmi dari kepolisian. Saksi lainnya mengatakan korban mengalami pendarahan akut.
Thomas, saksi lain yang dihubungi BBC, mengatakan: “Saya tiba di beberapa saat setelah hal itu terjadi karena Anda dapat mendengar suara tembakan dari Woolwich High Street.” Pada dasarnya dua orang melakukan serangan penusukan pada tentara muda yang berjalan di sepanjang jalan, kemudian polisi meresponnya dengan menembak para pelaku di depan publik, pada saat yang sama aku tidak bisa benar-benar tahu apakah tentara itu mengalami luka yang fatal atau tidak karena polisi mengerumuninya.[11]
Pernyataan David Cameron
Inilah pernyataan resmi Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengenai insiden penyerangan Woolwich yang diberikan di depan kantor kementrian perdana menteri Inggris di Downing Street No. 10 pada 23 Mei 2013 pukul 12.00 siang. Agar tidak mengurangi substansi dan pilihan diksi yang digunakan oleh David Cameron, saya menghadirkan teks pernyataan ini melalui bahasa asli yang digunakan yaitu bahasa Inggris. Untuk beberapa diksi, kata dan kalimat yang menarik akan diberikan penekanan berupa huruf italic(miring) agar dapat diperhatikan secara lebih lanjut. Teks pernyataan dapat dilihat sebagai berikut :
What happened yesterday in Woolwich has sickened us all. On our televisions last night – and in our newspapers this morning – we have all seen images that are deeply shocking. The people who did this were trying to divide us. They should know : something like this will only bring us together and make us stronger. Today our thoughts are with the victim – and with his family. They are grieving for a loved one and we have lost a brave soldier. This morning I have chaired a meeting of COBRA. And I want to thank the police and security services for the incredible work they do to keep our country safe. There are police investigations and security service operations underway – so obviously there is a limit on what I can say.[12]
But already a number of things are clear. First, this country will be absolutely resolute in its stand against violent extremism and terror. We will never give in to terror – or terrorism – in any of its forms. Second, this view is shared by every community in our country. This was not just an attack on Britainand on our British way of life. It was also a betrayal of Islamand of the Muslim communities who are give so much to our country. There is nothing in Islam that justifies this truly dreadful act.[13]
We will defeat violent extremism by standing together, by backing our police and security services and above all by challenging the poisonous narrative of extremism on which this violence feeds. Britain works with our international partners to make the world safe from terrorism. Terrorism that has taken more Muslim lives than any other religion. It is an utter perversion of the truth to pretend anything different. That is why there is absolutely no justification for these acts and the fault for them lies solely and purely with the sickening individuals who carried out this appalling attack.[14]
Confronting extremism is a job for us all.  And the fact that our communities will unite in doing this was vividly demonstrated by the brave cub pack leader – Ingrid Loyau-Kennett – who confronted one of the attackers on the streets of Woolwich yesterday afternoon. When told by the attacker that he wanted to start a war in London she replied “You’re going to lose. It’s only you versus many.” She spoke for us all. The Police and Security Services will follow every lead, turn over every piece of evidence, make every connection and will not rest until we know every single detail of what happened and we’ve brought all of those responsible to justice.[15]
I know from three years as being Prime Minister that the police and intelligence agencies work around the clock to keep us safe from violent extremists. I watch their work every week. They do an outstanding job. They show incredible heroism, much of which cannot be reported. They have my staunch support and the support of the whole country. The point that the two suspects in this horrific attack were known to the security services has been widely reported. You would not expect me to comment on this when a criminal investigation is ongoing.[16]
But what I can say is this. As is the normal practice in these sorts of cases, the Independent Police Complaints Commission will be able to review the actions of the police and the Intelligence and Security Committee will be able to do the same for the wider agencies. But nothing should be done to get in the way of their absolutely vital work.  After an event like this, it is natural that questions will be asked about what additional steps can be taken to keep us safe. I will make sure those questions are asked and answered. But I am not in favour of knee-jerk responses. The Police have responded with heightened security and activity – and that is right. But one of the best ways of defeating terrorism is to go about our normal lives. And that is what we shall all do.[17]
Signifikasi, Aktivitas dan Identitas
Untuk memberikan kembali pada unit analisa yang akan digunakan dalam membedah teks pernyataan ini maka akan dijelaskan kembali secara singkat mengenai sigifikansi, aktivitas dan identitas. Signifikansiadalah penggunaan bahasa untuk membuat sesuatu menjadi signifikan, terlihat dan menonjol. Signifikasi juga berarti memberikan makna atau arti pada suatu teks tertentu melalui suatu cara tertentu. Aktivitas adalah penggunaan bahasa untuk dikenali dan diakui dalam sejumlah aktivitas tertentu, lebih tepatnya untuk membentuk aktivitas yang dilakukan “di sini” dan “saat ini”. Identitasadalah penggunaan bahasa untuk dikenali dan diakui dalam peranan atau identitas tertentu. Saya kemudian mencoba melakukan pembagian beberapa potong kalimat dalam pernyataan David Cameroon melalui tiga klasifikasi kemudian melakukan analisa mengenai makna yang muncul dari pernyataan-pernyataan tersebut.
Signifikansi, kita akan melihat beberapa kalimat yang disampaikan David Cameron dan penggunaannya dalam pernyataan tersebut membuat kalimat ini memiliki makna yang penting dan signifikan bagi para audiens. Dua kalimat pertama yang akan dilihat adalah, “The people who did this were trying to divide us ” dan, “They should know : something like this will only bring us together and make us stronger ”. Cameron mencoba meyakinkan publik Inggris bahwa aksi terorisme yang terjadi di Woolwich adalah aksi yang dilakukan untuk memecah belah harmonitas yang sudah dibangun antara elemen suku, bangsa dan agama di Inggris. Pada kalimat yang kedua Cameron menekankan bahwa upaya memecah belah itu adalah sesuatu yang sia-sia dan meyakinkan publik Inggris bahwa aksi ini akan menjadikan “bring us together” dan “make us stronger”, Cameron menjadikan insiden ini sebagai sarana konsolidasi nasional masyarakat Inggris, agar semakin bersatu dalam menghadapi terorisme.
Pada kalimat lainnya Cameron mengatakan, “We will never give in to terror – or terrorism – in any of its forms, bahwa pemerintah dan masyarakat Inggris tidak akan pernah kepada seluruh bentuk aksi terorisme, “will never give” diambil sebagai diksi yang digunakan oleh Cameron bahwa perlawanan dan antisipasi  terhadap terorisme akan selalu dilakukan oleh pemerintah. David Cameron kemudian juga mengutip ucapan Ingrid Loyau-Kennet, seorang scout wanita yang berani menghadapi aksi terorisme salah seorang pelaku dalam insiden Wollwich, yang berkata, “You’re going to lose. It’s only you versus many ”, dengan menggunakan pernyataan ini Cameron ingin menjadikan Inggrid Kennet sebagai simbol perlawanan, simbol keberanian masyarakat Inggris untuk melawan segala aksi terorisme yang ada. Titik tekan dari kalimat ini adalah adanya penegasan bahwa “you” dengan “many” artinya Cameron ingin menunjukkan bahwa radikalisme adalah pilihan yang minor dan mayoritas dari masyarakat Inggris tidak menyetujui aksi-aksi terorisme.
Aktivitas, melalui unit analisa ini kita dapat melihat aktivitas apa yang didorong oleh Cameron kepada publik Inggris dalam melakukan respon terhadap insiden Woolwich, diantaranya kita akan melihatnya pada pernyataan, “by challenging the poisonous narrative of extremism on which this violence feeds ” dan  this country will be absolutely resolute in its stand against violent extremism and terror ”. Pada dua pernyataan ini Cameron menekankan kepada publik Inggris untuk melakukan perlawanan  terhadap ekstremisme, radikalisme dan terorisme. Cameron melihat bahwa benih-benih beracun radikalisme dan ekstremisme adalah salah satu sarana persemaian bagi munculnya tindakan-tindakan kekerasan seperti yang kemudian terjadi pada insiden Woolwich. Dengan pernyataan ini Cameron mencoba mengajak publik Inggris untuk bersama-sama melawan narasi radikalisme dan ekstremisme.
Himbauan yang bersifat kolektif ini kemudian dapat dilihat secara lebih eksplisit lagi pada kalimat, “Confronting extremism is a job for us all ” dan “We will defeat violent extremism by standing together.  Penggunaan kata “job for us” dan “standing together” merupakan satu skema dalam membangun kolektivitas antara pemerintah dan masyarakat Inggris. Bahwa pemerintah dan masyarakat akan berdiri bersama, bekerja bersama dalam mengatasi masalah terorisme yang terjadi di Inggris. Melalui pernyataan ini Cameron ingin menghapus batas psikologis antara pemerintah dan masyarakat dan membangun suatu semangat dan kesepahaman akan penanganan masalah terorisme.
Kemudian satu kalimat yang sebenarnya menjadi kalimat penutup dari pernyataan Cameron, dimasukkan dalam kategori aktivitas, kalimat itu adalah, “But one of the best ways of defeating terrorism is to go about our normal lives. And that is what we shall all do ”. “Cara terbaik untuk mengalahkan terorisme adalah dengan kembali menjalankan kehidupan normal yang kita miliki, dan itulah seharusnya yang kita lakukan”. Melalui pernyataan ini Cameron ingin meyakinkan publik Inggris bahwa insiden ini tidak seharusnya menjadikan publik ketakutan, bahwa publik Inggris harus kembali dapat menjalani kehidupannya secara normal, persis sebelum insiden Woolwich ini terjadi. Stabilitas sosial dan kehidupan normal yang aman adalah “best ways” untuk mengatasi efek sosial dari serangan terorisme.
Identitas, pada salah satu kalimat Cameron mencoba menegaskan kembali posisinya sebagai perdana menteri Inggris, yang bertanggung jawab kepada seluruh masyarakat Inggris, “I know from three years as being Prime Minister ”, dengan ini Cameron ingin meyakinkan kepada publik Inggris bahwa pihaknya telah bekerja keras dalam mengatasi masalah terorisme selama tiga tahun ini. Pada kalimat lainnya Cameron memberikan pernyataan yang berimbang dan obyektif mengenai keberadaan komunitas muslim yang kemudian menjadi minoritas terbesar di Inggris dalam sepuluh tahun terakhir. Awalnya Cameron memberikan penekanan bahwa aksi penyerangan ini menyerang stabilitas sosial dan keamanan Inggris, “This was not just an attack on Britainand on our British way of life”, tetapi kemudian dilanjutkan dengan kalimat, “It was also a betrayal of Islamand of the Muslim communities who are give so much to our country ”, “Serangan ini juga merupakan pengkhianatan kepada Islam dan juga komunitas muslim yang telah memberikan banyak pengorbanan kepada negara kita”.
Dengan pernyataan ini Cameron memberikan pengakuan kepada komunitas muslim di Inggris bahwa mereka juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari masyarakat Inggris. Pernyataan ini juga memberikan penilaian yang positif bahwa insiden Woolwich ini bukan disebabkan oleh Islam dan komunitas muslim, bahwa iniden ini juga turut menyakiti komunitas muslim. Cameron kemudian memberikan penegasan dengan,  There is nothing in Islam that justifies this truly dreadful act ”, Cameron mencoba meyakinkan kepada publik Inggris bahwa bukan ajaran Islam yang kemudian menjadi dasar bagi tindakan terorisme yang terjadi di Woolwich, tetapi kemudian adalah radikalisme dan ekstremisme dari sebagian pihak yang kemudian melahirkan tindakan-tindakan kekerasan seperti yang terjadi pada insiden Woolwich.
Satu lagi kalimat yang sangat menarik dari Cameron adalah, “Terrorism that has taken more Muslim lives than any other religion ”, bahwa aksi-aksi terorisme yang paling banyak merenggut nyawa muslim dibandingkan korban yang berasal dari agama lain. Ini sebuah perspektif yang menarik dimana Cameron juga ingin memperlihatkan bahwa muslim juga menjadi “korban” dari aksi terorisme, cara pandang ini berbeda dengan maisntream yang berkembang di publik bahwa muslim hampir selalu dilihat sebagai “pelaku” dan bukan “korban” dalam setiap aksi terorisme di Inggris. Pada sisi ini Cameron mencoba membuat obyektifikasi mengenai identitas muslim yang selalu dilihat sebagai “pelaku” aksi terorisme, dengan ini Cameron membuat sebuah pernyataan politik yang mengubah narasi mainstream yang menyudutkan itu kepada suatu narasi yang lebih berimbang dan tidak menyudutkan komunitas muslim di Inggris.
Kesimpulan
Melalui pernyataan publik yang dikeluarkannya, David Cameron dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat Inggris tentag apa yang terjadi, apa yang seharusnya dilakukan dan bagaimana posisi komunitas muslim dalam kehidupan di Inggris. Cameron mencoba meyakinkan publik Inggris bahwa aksi terorisme yang terjadi di Woolwich adalah aksi yang dilakukan untuk memecah belah harmonitas yang sudah dibangun antara elemen suku, bangsa dan agama di Inggris. Bahwa aksi terorisme ini tidak kemudian memecah belah masyarakat tetapi kemudian menjadikan masyarakat Inggris menjadi bersatu dan lebih kuat dalam menghadapi terorisme. Cameron berhasil memberikan signifikansi bahwa masyarakat dan pemerintah Inggris tidak akan menyerah menghadapi aksi terorisme dan menegaskan semangat kolektivitas antara pemerintah dan masyarakat Inggris semakin kuat dalam menghadapi insiden Woolwich ini.
Pembelaan Cameron mengenai posisi komunitas muslim pada pernyataan ini sangatlah berimbang dan tidak menyudutkan. Cameron menegaskan bahwa aksi terorisme ini merupakan bentuk pengkhianatan kepada Islam dan komunitas muslim di Inggris. Melalui pernyataan ini kita dapat melihat bahwa Cameron memberikan pengakuan dan legitimasi sosial bahwa komunitas muslim merupakan bagian tidak terpisahkan dari masyarakat Inggris. Cameron juga memberikan penyangkalan kepada opini mainstream yang melihat bahwa Islam merupakan sumber dari radikalisme dan ekstremisme yang berkembang di Inggris. Selain itu juga Cameron mencoba memberikan perspektif yang berimbang bahwa komunitas muslim juga menjadi “korban” dalam aksi-aksi terorisme yang ada. Cara pandang ini adalah bentuk obyektifikasi dari opini mainstream yang melihat bahwa terorisme memiliki kedekatan dengan komunitas muslim Melalui perspektif ini Cameron mengubah narasi mainstream yang menyudutkan itu kepada suatu narasi yang lebih berimbang dan tidak menyudutkan komunitas muslim di Inggris.
Referensi
Entman, Robert M., “Framing : Toward Clarification of  a Fractured Paradigm”, Journal of Communication No. 43 (Autumn 1993)
Gee, James Paul, “An Introduction to Discourse Analysis : Theory and Method”, (Routledge : London, 2004)
Norris, Pippa, Montague Kern, and Marion Just, “Framing Terrorism”, dalam (Editor) Pippa Norris, Montague Kern, and Marion Just, “Framing Terrorism : The News Media, The Government and The Public”, (London : Routledge, 2003)
The Telegraph News, “Woolwich attack: why was suspect Michael Adebolajo free to kill?”, http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/terrorism-in-the-uk/10077439/Woolwich-attack-why-was-suspect-Michael-Adebolajo-free-to-kill.html, diakses pada 31 Mei 2013
New York Daily News, “Woolwich Attack: British soldier Lee Rigby died ‘in the most horrific way possible,’ says relative”, http://www.nydailynews.com/news/crime/london-attack-lee-rigby-identified-british-soldier-hacked-death-article-1.1352671, diakses pada 30 Mei 2013
Mirror News, “Woolwich attack: Picture timeline of how horrific events unfolded leaving soldier dead”, http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/woolwich-attack-picture-timeline-how-1906992, diakses pada 30 Mei 2013
International Business Times, “London Attack 2013 Timeline: A By-The-Minute Account Of The Woolwich Assault”, http://www.ibtimes.com/london-attack-2013-timeline-minute-account-woolwich-assault-1276903, diakses pada 31 Mei 2013
The Independent News, “Exclusive: Woolwich killings suspect Michael Adebolajo was inspired by cleric banned from UK after urging followers to behead enemies of Islam”, http://www.independent.co.uk/news/uk/crime/exclusive-woolwich-killings-suspect-michael-adebolajo-was-inspired-by-cleric-banned-from-uk-after-urging-followers-to-behead-enemies-of-islam-8630125.html, diakses pada 31 Mei 2013
BBC News, “Woolwich attack: MI5 ‘offered job to suspect”, http://www.bbc.co.uk/news/uk-22664468, diakses pada 31 Mei 2013
Huffington Post, “Abu Nusaybah, ‘Friend’ Of London Attack Suspect Michael Adebolajo, Arrested After BBC Interview”, http://www.huffingtonpost.com/2013/05/25/abu-nusaybah-arrested-michael-adebolajo-london-attack_n_3336344.html, diakses pada 31 Mei 2013
The Guardian News, “Woolwich attack prompts fears of backlash against British Muslims”, http://www.guardian.co.uk/uk/2013/may/23/woolwich-attack-backlash-british-muslims, diakses pada 31 Mei 2013
Huffington Post, “Lee Rigby, UK Soldier, Died From Cuts, Stab Wounds, Autopsy Says”, http://www.huffingtonpost.com/2013/05/29/lee-rigby-died-cuts-stab-wounds-autopsy_n_3352738.html, diakses pada 31 Mei 2013
Daily Mail, “’Terror attack will not divide us but makes us stronger’: Cameron’s vow as he urges Britain to continue with normal life”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2329192/Woolwich-attack-Terror-attack-divide-makes-stronger-Cameron-urges-Britain-continue-normal-life.html, diakses pada 12 Juni 2013


[1] James Paul Gee, “An Introduction to Discourse Analysis : Theory and Method”, (Routledge : London, 2004), hal 10
[2] James Paul Gee, “An Introduction to Discourse Analysis : Theory and Method”, (Routledge : London, 2004), hal 10-11
[3] James Paul Gee, “An Introduction to Discourse Analysis : Theory and Method”, (Routledge : London, 2004), hal 11
[4] James Paul Gee, “An Introduction to Discourse Analysis : Theory and Method”, (Routledge : London, 2004), hal 11
[5] James Paul Gee, “An Introduction to Discourse Analysis : Theory and Method”, (Routledge : London, 2004), hal 11
[6] The Telegraph News, “Woolwich attack: why was suspect Michael Adebolajo free to kill?”, http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/terrorism-in-the-uk/10077439/Woolwich-attack-why-was-suspect-Michael-Adebolajo-free-to-kill.html, diakses pada 31 Mei 2013
[7] The Telegraph News, “Woolwich attack: why was suspect Michael Adebolajo free to kill?”, http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/terrorism-in-the-uk/10077439/Woolwich-attack-why-was-suspect-Michael-Adebolajo-free-to-kill.html, diakses pada 31 Mei 2013
[8] New York Daily News, “Woolwich Attack: British soldier Lee Rigby died ‘in the most horrific way possible,’ says relative”, http://www.nydailynews.com/news/crime/london-attack-lee-rigby-identified-british-soldier-hacked-death-article-1.1352671, diakses pada 30 Mei 2013
[9] Mirror News, “Woolwich attack: Picture timeline of how horrific events unfolded leaving soldier dead”, http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/woolwich-attack-picture-timeline-how-1906992, diakses pada 30 Mei 2013
[10] International Business Times, “London Attack 2013 Timeline: A By-The-Minute Account Of The Woolwich Assault”, http://www.ibtimes.com/london-attack-2013-timeline-minute-account-woolwich-assault-1276903, diakses pada 31 Mei 2013
[11] BBC News London, “Woolwich machete attack leaves man dead”, http://www.bbc.co.uk/news/uk-22630303, diakses pada 30 Mei 2013
[12] Daily Mail, “’Terror attack will not divide us but makes us stronger’: Cameron’s vow as he urges Britain to continue with normal life”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2329192/Woolwich-attack-Terror-attack-divide-makes-stronger-Cameron-urges-Britain-continue-normal-life.html, diakses pada 12 Juni 2013
[13] Daily Mail, “’Terror attack will not divide us but makes us stronger’: Cameron’s vow as he urges Britain to continue with normal life”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2329192/Woolwich-attack-Terror-attack-divide-makes-stronger-Cameron-urges-Britain-continue-normal-life.html, diakses pada 12 Juni 2013
[14] Daily Mail, “’Terror attack will not divide us but makes us stronger’: Cameron’s vow as he urges Britain to continue with normal life”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2329192/Woolwich-attack-Terror-attack-divide-makes-stronger-Cameron-urges-Britain-continue-normal-life.html, diakses pada 12 Juni 2013
[15] Daily Mail, “’Terror attack will not divide us but makes us stronger’: Cameron’s vow as he urges Britain to continue with normal life”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2329192/Woolwich-attack-Terror-attack-divide-makes-stronger-Cameron-urges-Britain-continue-normal-life.html, diakses pada 12 Juni 2013
[16] Daily Mail, “’Terror attack will not divide us but makes us stronger’: Cameron’s vow as he urges Britain to continue with normal life”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2329192/Woolwich-attack-Terror-attack-divide-makes-stronger-Cameron-urges-Britain-continue-normal-life.html, diakses pada 12 Juni 2013
[17] Daily Mail, “’Terror attack will not divide us but makes us stronger’: Cameron’s vow as he urges Britain to continue with normal life”, http://www.dailymail.co.uk/news/article-2329192/Woolwich-attack-Terror-attack-divide-makes-stronger-Cameron-urges-Britain-continue-normal-life.html, diakses pada 12 Juni 2013