Adhe Nuansa Wibisono, S.IP
Kajian Terorisme FISIP UI

Jakarta, Sabtu 9 Maret 2013

Sumber Utama : David R. Wilcox, The Theory Of Propaganda” dalam “Propaganda, The Press and Conflict”, (Routledge: 2005)

Rangkuman
Teori propaganda diajukan oleh psikolog, Harold D. Lasswell pada tahun 1920, yaitu propaganda merupakan pengaturan dari perilaku kolektif dengan melakukan manipulasi pada simbol-simbol yang signifikan. Penggunaan istilah “perilaku kolektif” adalah upaya untuk melakukan pemotretan terhadap opini publik, sebuah tata nilai bersama tanpa melihat adanya kedekatan secara fisik. Melalui “simbol signifikan”, Laswell mencoba menangkap stimulus-stimulus yang kemudian menghasilkan sebuah reaksi. Kemudian Laswell memberikan penjelasan lain mengenai fungsi propaganda di masyarakat dimana terjadi ketidakteraturan sosial akibat adanya perubahan teknologi yang sangat cepat. Efisiensi dari penyebaran propaganda meningkat melalui modernisasi yang terjadi di masyarakat atau dalam bahasa Laswell, “komplikasi dari lingkungan material kita yang disebabkan percepatan ekspansi teknologi”.[1]
Pendapat lain mengenai propaganda diajukan oleh psikolog Leonar W. Dobb yang menulis mengenai klasifikasi propaganda yang berkaitan dengan penilaian perjudis moral yang negatif. Doob melihat bahwa penilaian moral merupakan motif dari para propagandis. Dobb kemudian berpendapat bahwa propaganda dapat dilihat sebagai upaya untuk mempengaruhi kepribadian dan perilaku individu melalui cara-cara yang tidak saintifik atau nilai-nilai yang meragukan pada suatu masyarakat di masa tertentu”. Melalui definisi ini kita bisa melihat propaganda digunakan oleh propagandis melalui cara-cara yang membahayakan norma umum. Dobb kemudian menilai bahwa opini publik, perilaku dan norma sosial kemudian diinternalisasi melalui proses sosialisasi. Kemudian peranan dari budaya dan masyarakat menyediakan dasar bagi propaganda sebagai suatu stimulus terhadap respon yang diinginkan.[2]
Kemudian pemahaman mengenai propaganda dipertajam lagi melalui penjelasan Jacques Ellul dalam bukunya yang berjudul Propaganda, tahun 1960. Ellul melakukan identifikasi terhadap evolusi pemikiran mengenai propaganda yang terus berkembang. Intrepretasi yang dilakukan Ellul kemudian memberikan dampak bagi perluasan penggunaan propaganda. Dia menyatakan bahwa tidak adanya perbedaan mengenai praktik propaganda atas nama pemerintahan demokrasi maupun dalam sisi rezim diktator, Ellul menekankan bahwa propaganda merupakan sebuah konsep yang dapat digunakan dalam bentuk sistem pemerintahan seperti apapun. Dalam prosses penyebaran ide gagasan mengenai propaganda, proses ini tidak hanya terjadi dalam logika manipulasi “top down”, tetapi juga terjadi sebaliknya. Ellul berpendapat bahwa para propagandis ini memiliki peranan yang positif dalam memainkan suatu proses sosial, dan ini memberikan suatu kepuasan bagi para propagandis tersebut. Dengan melihat pola relasi yang timbal balik, maka pendekatan yang digunakan dalam melihat dari para penerima propaganda tersebut sebagai korban automatik.[3]
Jacques Ellul kemudian menawarkan suatu definisi mengenai propaganda sebagai seperangkat metode yang digunakan oleh kelompok terorganisir yang kemudian ingin menggiring partisipasi aktif maupun pasif dalam tindakannya kepada sejumlah massa individu yang disatukan melalui suatu proses manipulasi psikologis dan terkoordinir dalam dengan organisasi tersebut. Dengan menyebutkan kata  “pasif” , Ellul memperluas jangkauan respon publik yang tidak hanya mencakup pendukung aktif tetapi juga menjangkau para audiensi yang secara pasif menerima ide propaganda tersebut dan tidak secara aktif melakukan perlawanan.[4]
Pendapat lain yang muncul mengenai propaganda adalah pendapat yang diajukan oleh Gareth S. Jowett dan Victoria O’Donnell yang menyatakan bahwa propaganda merupakan proses deliberasi dan sistemik untuk membentuk suatu persepsi, memanipulasi kesadaran, mengarahkan perilaku untuk mencapai suatu respon yang merupakan keinginan dan intensi dari propagandis. Pada pengertian ini Jowett dan O’Donnell kemudian melakukan pembatasan mengenai apa yang dimaksud dengan propaganda sebagai sesuatu yang membawa efek sosial yang didesain secara sistematik.[5]Kemudian pada 1984, John M. Mackenzie memberikan penjelasan lain mengenai propaganda yaitu sebagai transmisi dari nilai dan ide dari satu individu, satu kelompok kepada lainnya dengan adanya tujuan yang spesifik dalam mempengaruhi audiens dimana kepentingan dari propagandis bisa diitngkatkan lagi. Meskipun dilakukan secara tersirat, ditujukan untuk mempengaruhi pemikiran, kepercayaan dan tindakan melalui sugesti, propaganda dilakukan secara dasar dan terencana.[6]
Kesimpulan
Melalui penjelasan-penjelasan yang telah ada kita bisa melihat bahwa propaganda merupakan salah satu metode yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam mempengaruhi persepsi dan opini publik yang berkembang. Propaganda dilakukan dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu yang  dilakukan dengan cara mempengaruhi cara berpikir, bersikap dan berperilaku. Dalam tingkatan tertentu bahkan propaganda dapat digunakan untuk melakukan suatu perubahan kepada tata nilai, budaya, kepercayaan yang telah mapan. Ada juga yang melihat propaganda sebagai suatu alat yang bersifat objektif dan netral, sebagai suatu alat propaganda kemudian dapat digunakan untuk memperkuat suatu basis norma yang terah berlaku atau kemudian juga digunakan untuk merubah norma tersebut. Dalam perspektif ini juga propaganda dilihat sebagai suatu alat yang netral yang kemudian dapat digunakan baik oleh pemerintahan yang demokratis maupun rezim yang otoriter, baik untuk memeoerkuat kekuasaan atau melakukan perubahan.
Kita juga melihat bagaimana respon publik terhadap propaganda yang dilakukan, ada yang menerima ide-ide propaganda tersebut, ada juga yang melakukan penolakan-penolakan terhadap propaganda. Adanya kelompok penerima pasif dalam propaganda menunjukkan tingkat keberhasilan seorang propagandis dalam melakujan propaganda, keberhasilan ini juga dapat dilihat dari berubahnya cara berpikir, bersikap, berperilaku serta norma-norma sosial yang ada. Kemudian dengan adanya perkembanga teknologi kita juga melihat bagaimana ide-ide propaganda dapat secara cepat menyebar di masyarajat tanpa mampu untuk dicegah ataupun dikendalikan. Percepatan teknologi informasi dan kemudian hadirnya modernisasi juga menyebabkan stimulus bagi derasnya penyebaran propaganda.
Referensi
Wilcox, David R., The Theory Of Propaganda” dalam “Propaganda, The Press and Conflict”, (Routledge: 2005)


[1] David R. Wilcox, The Theory Of Propaganda” dalam “Propaganda, The Press and Conflict”, (Routledge: 2005), hal 10
[2] David R. Wilcox, The Theory Of Propaganda” dalam “Propaganda, The Press and Conflict”, (Routledge: 2005), hal 10-11
[3] David R. Wilcox, The Theory Of Propaganda” dalam “Propaganda, The Press and Conflict”, (Routledge: 2005), hal 11
[4] David R. Wilcox, The Theory Of Propaganda” dalam “Propaganda, The Press and Conflict”, (Routledge: 2005), hal 13
[5] David R. Wilcox, The Theory Of Propaganda” dalam “Propaganda, The Press and Conflict”, (Routledge: 2005), hal 13
[6] David R. Wilcox, The Theory Of Propaganda” dalam “Propaganda, The Press and Conflict”, (Routledge: 2005), hal 14